riau24 Rendahnya Pemahaman Masyarakat Tentang Antibiotik
Senin, 18 Desember 2017

Kesehatan

Rendahnya Pemahaman Masyarakat Tentang Antibiotik

0
Rendahnya Pemahaman Masyarakat Tentang Antibiotik
Jakarta, Riau24.com - Resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan di dunia modern. Penggunaan antibiotik berlebihan dapat membuat bakteri dan kuman penyakit bermutasi sehingga menyebabkan penyakit yang sulit disembuhkan.

Sayangnya, pemahaman tentang penyakit mana yang membutuhkan antibiotik dan mana yang tidak masih rendah, terutama pada pasien fasilitas kesehatan tingkat pertama. Untuk itu, dokter harus mampu menjelaskan lebih baik tentang resistensi antibiotik dan konsekuensinya.

"Semakin banyak antibiotik yang masuk ke tubuh, semakin kebal pula bakteri terhadap obat-obat tersebut. Jadi jika nanti Anda berobat pneumonia atau infeksi ginjal, obat yang biasa tidak akan lagi mempan," tutur Cliodna McNulty, kepala Primary Care Unit di Public Health England, Inggris, dikutip dari Reuters, Jumat (13/5/2016).

Penelitian dilakukan dengan survei langsung kepada 1.624 partisipan. Pertanyaan yang diajukan antara lain frekuensi penggunaan antibiotik, informasi yang diberikan oleh dokter ketika meresepkan antibiotik dan pengetahuan masyarakat tentang resistensi antibiotik.

Hasil penelitian menyebut satu pertiga partisipan diberikan resep antibiotik dalam satu tahun terakhir. Resep antibiotik diberikan kepada 62 persen pasien infeksi tenggorok, 60 persen pasien infeksi sinus dan 42 persen pasien batuk dan demam. Padahal, seluruh kondisi ini disebabkan oleh virus.

Di sisi lain, 86 persen partisipan mengaku paham dan mengerti bahwa infeksi tenggorok, sinus atau batuk dan demam bisa hilang tanpa menggunakan antibiotik. Namun hanya 44 persen yang paham bahwa penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh virus dan bukan oleh bakteri.

Untuk panduan dari dokter, kurang lebih dua pertiga partisipan mengaku mendapat saran dari dokter tentang infeksi dan penggunaan antibiotik. Meski begitu, hanya 8 persen yang mendapat informasi tentang resistensi antibiotik.

Hasil lainnya menyebut 88 persen pasien percaya pada dokter soal resep obat dan tidak bertanya lebih jauh. Selain itu, 45 persen partisipan tahu bahwa bakteri kebal obat bisa hidup di orang yang sehat.

Mengomentari penelitian ini Dr Lauri Hicks, Direktur Office of Antibiotic Stewardship, Centers for Disease Control and Prevention (CDC Amerika Serikat), mengatakan dokter seharusnya memberikan informasi soal resistensi antibiotik ketika meresepkan obat kepada pasien. Dengan begitu, pasien bisa lebih memahami risiko yang mereka hadapi.

"Dari sisi pasien, perbanyak informasi soal resistensi antibiotik dari situs internet yang terpercaya. Antibiotik memang dibutuhkan untuk menangani infeksi serius, tapi bukan untuk penyakit demam, sakit tenggorokan atau gejala-gejala flu lainnya," ungkap Dr Lauri.


R24/dev

Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru