riau24 Pemimpin Susah Melakukan Perubahan? Ini Alasan Nya
Rabu, 13 Desember 2017

Pemimpin Susah Melakukan Perubahan? Ini Alasan Nya

0
Pemimpin Susah Melakukan Perubahan? Ini Alasan Nya
R24- Sebuah organisasi sering mengalami perubahan dalam kepemimpinan atau struktur. Mungkin saja pemimpin tersebut berasal dari luar atau dari dalam yang dipromosikan jadi direktur baru.

Peristiwa ini memberikan kesempatan pada seorang pemimpin untuk menciptakan bab baru dan awal yang baru, baik dalam kehidupannya maupun organisasi yang dipimpinnya.

Perubahan tersebut tentu saja adalah sesuatu yang wajar dan bagus untuk kelangsungan hidup sebuah organisasi.

Tetapi tidak semua pemimpin baru bisa membawa perubahan yang membawa kemajuan bagi dirinya dan organisasi yang dipimpinnya tanpa melalui sebuah transisi yang benar.

Semakin besar perubahan, maka transisi tersebut akan lebih besar dan penting untuk dilakukan. Orang-orang yang meremehkan proses transisi ini akan menemukan diri mereka membawa bagasi yang sama dengan sebelumnya.

Hasilnya mungkin akan mengulangi kesalahan yang sama sehingga organisasi akan terperangkap dalam dinamika yang disfungsional.

Transisi yang dibutuhkan tersebut merupakan bagian dari manajemen perubahan yang sayangnya kurang diterapkan dalam perusahaan. Padahal seorang pemimpin harus bisa membawa sesuatu yang lama menjadi hal baru.

Seperti dikutip dari Enterpreneur, Minggu, 9 Agustus 2015, berikut ini beberapa hal yang diperlukan seorang pemimpin agar bisa melalui masa transisi ini.

Membuka pintu dialog

Jika pemimpin menemukan bawahan sedang menyimpan emosi negatif, merasa frustrasi atau memiliki kebencian dari pengalaman masa lalu, maka sebagai pemimpin, dia perlu menciptakan ruang bagi bawahannya sebagai tempat untuk berkomunikasi, berbagi dan mengungkapkan perasaan, sehingga semua aura negatif itu bisa pergi.

Contohnya, sebuah organisasi berusaha mengembalikan semangat dan fokus timnya ketika salah satu anggota dirumahkan. Tentu, tim ini akan merasa trauma dengan pengalaman salah satu rekan mereka. Mereka jadi tidak bersemangat dan kurang fokus bekerja karena takut nasib yang sama akan menimpa mereka. Karena mereka tidak melihat ada komunikasi antara pemimpin dengan rekan mereka selama masa-masa sulit.

Intinya, jika pemimpin ingin mendorong dan menginspirasi tim melalui transisi yang efektif, dia harus terbuka terhadap masukan dan kritik tentang dirinya sendiri juga.

Pemimpin harus berani membuka pintu dialog dengan bawahan sehingga bisa menemukan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi sehingga bawahan bisa bekerja kembali dengan lebih baik. Seperti pepatah "Anda harus mengosongkan gelas sebelum dapat mengisinya dengan sesuatu yang baru."

Menerapkan kepemimpinan transformasional

Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan hormat kepada pimpinannya. Pada akhirnya bawahan akan termotivasi untuk melakukan lebih dari yang diharapkan.

Namun ini membutuhkan kesabaran, pengertian, pemahaman dari pihak pemimpin. Tapi, ketika melibatkan sentimen masa lalu dan kritik, tidak mudah bagi kebanyakan pemimpin untuk melakukannya.

Ada lima alasan kenapa seorang pemimpin mendapati transisi adalah masa-masa sulit:

Pada intinya, seorang pemimpin harus berani, percaya diri, terbuka dan mendengarkan suara bawahannya. Dan tidak semua pemimpin siap dengan itu.

1. Pemimpin hanya memikirkan umpan balik yang negatif dan memasukkan kritik dalam hati. Ini akan membuat dia selalu merasa tersinggung dan tidak dihormati.

2. Pemimpin tidak tahu bagaimana menjaga emosi tetap terkendali saat mengadakan pertemuan.

3. Pemimpin khawatir pertemuan dan diskusi akan berubah menjadi ajang mengeluh sehingga tidak mampu mengarahkan bawahan ke percakapan yang produktif.

4. Pemimpin takut jika membiarkan bawahan terlalu banyak diberi kebebasan untuk berekspresi sehingga akan berbalik menentangnya.

5. Pemimpin percaya bahwa dengan membiarkan bawahan mengekspresikan sentimen negatif mereka, masalah apa pun akan menjadi lebih buruk.

"Jika kita membiarkan orang untuk menyuarakan rasa frustrasi mereka, itu akan semakin menonjolkan masalah," seorang pemimpin berkata; sehingga mereka tetap menyimpan masalah tersebut yang justru akan menjadi masalah baru.

Pada intinya, seorang pemimpin harus berani, percaya diri, terbuka dan mendengarkan suara bawahannya. Dan tidak semua pemimpin siap dengan itu.


Bagikan :
Sumber:
dream.co.id
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_sde4m_3406.jpg
Inhil, Riau24.com - Puluhan pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) dan Dewan Pimpinan Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pulau Burung berikrar untuk senantiasa berupaya mencapai tujuan dan mematuhi peraturan organisasi yang berlaku.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru