riau24 Haji; Antara Gelar dan Mabrur
Selasa, 12 Desember 2017

Haji; Antara Gelar dan Mabrur

0
ilustrasi
Haji; Antara Gelar dan Mabrur

MUSIM HAJI merupakan salah satu dari banyak musim yang ada di Indonesia. Rukun kelima ini merupakan rukun yang memiliki keistimewaan tersendiri dikarenakan rukun dikerjakan bila mampu. Maka merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi setiap muslim dan muslimah untuk dapat menunaikannya.

Allah berfirman: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban hajji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 96-97).

Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji tentu berharap agar hajinya mabrur. Bagaimana tidak? Karena haji yang mabrur pahalanya sangat besar yaitu surga. Namun, sangat disayangkan, bila niat yang mulia tersebut tidak tercapai sebagaimana yang disunahkan oleh Rasullulah SAW. Tidak sedikit yang berhaji alih-alih mendapatkan haji mabrur, esensi dan dampak yang timbul dari pelaksanaan haji malah tidak didapatkan.

Penyematan gelar haji sendiri bagaikan sebuah tanda yang sangat sakral dan menjadi sebuah keharusan yang bila seseorang sudah pulang dari tanah suci makkah. Tidak afdhal rasanya bila gelar tersebut tidak ditempatkan dibelakang nama seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji. Gelar “Haji” sendiri hanya ada di Indonesia. Agus Sunyoto salah seorang arkeolog mengatakan bahwa hal tersebut muncul sejak tahun 1916. Pada masa itu, banyak masyarakat indonesia yang telah pulang dari ibadah haji dengan gencarnya membuat gerakan-gerakan untuk mensyiarkan islam. Hal ini dilihat oleh pihak belanda sebagai sebuah ancaman yang dapat menganggu aktivitas mereka dalam monopoli perdagangan dan dapat menimbulkan perberontakan secara komunal diantara para pekerja.

Apa  yang dilakukan oleh HOS Cokrominoto yang membangun Sarekat Islam, dan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan dan para pejuang lainnya dulu adalah salah satu bentuk hasil yang timbul setelah mereka pulang dari berhaji. Haji disini membuat mereka berjuang dalam semangat jihad untuk menghapuskan perbudakan yang merajalela oleh Belanda.  Hal-hal ini merisaukan pihak Belanda khususnya. Melalui peraturan pemerintahan belanda Staatsblad tahun 1903, maka setiap orang yang telah menunaikan ibadah haji harus menambahkan gelar haji dibelakang namanya. Ini diberlakukan agar pihak belanda dapat mengintai setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh mereka yang telah pulang dari tanah suci.

Semangat Haji

Ada beberapa hal yang seharusnya terbawa setelah haji. Yang pertama adalah tingkat keimanan dan ketaqwaan yang terbawa dari tanah suci ketika sekembalinya ke tanah air. Dimulai dari pelaksanaan dari tawaf, ihram, wukuf dan sebagainya yang mengajarkan kita bagaimana perjuangan kita dalam memperoleh berkah haji.  Seperti yang dikatakan oleh Komaruddin Hidayat melalui tulisannya Haji dan Solidaritas Sosial yang mengatakan bahwa ihram mendidik kita untuk melepaskan diri dari klaim-klaim superioritas dan ketidaksamaan derajat. Kita harus masuk ke dalam sebuah keadaan yang polos bahwa dunia ini merupakan panggung sandiwara yang dihiasi dengan cahaya kegemerlapan, namun kemudian alur cerita akan berakhir dan layar harus ditutup. Untuk itu semua Allah menyuruh kita : maka berbekallah kita karena sebaik-baik bekal itu adalah takwa (Q.S. Al-Baqarah : 197). Bagaimana kita mempersiapkan dengan baik ketika kita masih di tempat kita tinggal adalah bagaimana kita mendapatkan ketakwaan. Banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi seperti tersesat ketika pelaksanaan haji, terpisahnya suami-istri dalam pelaksanaanya, hilang sesuatu dan hal lain adalah salah satu bagaimana kita kurang mempersiapkan diri dalam melaksanakan haji.  Dengan kata lain, setiap kebaikan dan keburukan yang ditampilkan dalam keseharian, menurut Erving Goffman (Presentation of Self in Everyday Life), akan jadi faktor penentu bagaimana asosiasi baik atau buruk akan melekat pada dirinya melalui penafsiran orang lain.

Dalam hal ibadah, tingkat spiritual ketika mengunjungi tanah suci tentunya sangat berbeda dengan ketika di tanah air. Dengan terijabahnya banyak doa ketika kita berada di tanah suci menjadikan kita lebih fokus didalam beribadah. Adakah hal tersebut akan terulang ketika telah kembali ke kampung halaman. Ini yang seharusnya juga diperhatikan oleh kita semua.

Dan yang paling penting adalah kehidupan sosial bermasyarakat yang timbul setelah berpulang dari haji. Menurut pandangan Zulhelmi melalui tulisannya Ibadah Haji : Spiritualitas dan Sosial (2015) Seharusnya, pesan-pesan sosial yang terdapat dalam ibadah haji ini akan menjadi bahan pelajaran bagi umat Islam supaya dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa lain, bahwa walaupun ibadah haji adalah ibadah spritual yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, namun di dalamnya tetap terdapat nilai-nilai sosial yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan ada output yang seharusnya didapati ketika telah kembali dari haji. Lantas, bila selepas dari haji kita masih disibukkan dengan kehidupan yang hedonis-materialistik apakah gelar haji mabrur akan kita dapati?

Menurut Nurcholis Majid, kriteria haji mabrur adalah ia yang mampu menjaga keterkaitan antara hubungan vertikal (manusia dengan Tuhannya) dengan horizontal (manusia dengan manusia). Menurutnya, semua ajaran agama bertujuan untuk melakukan kebaikan demi terwujud perikemanusiaan. Dengan sedemikian beratnya haji tahun 2015 ini betul-betul menguji siapa yang beriman dan siapa yang hanya ingin mendapat gelar haji selepas dari sana. Lantunan labaikallah humma labaik semoga dapat membawa saudara-saudara kita terlepas dari sifat-sifat riya, takabbur dan angkuh dan menjadi haji yang mabrur. Amiinn….

Muhammad Ade Rinaldi (Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan V)


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_xnxqc_3405.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Indragiri Hilir kembali menorehkan prestasi di tingkat Provinsi. Kali ini, HM. Wardan meraih Award dari Komisi Informasi (KI) dalam kategori Pelopor Keterbukaan Informasi Publik Pemerintahan Desa Tahun 2017.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru