riau24 Buas
Selasa, 12 Desember 2017

Buas

1
Wira Atma Hajri, S.H., M.H Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Islam Riau
Buas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata buas dimaknai galak, liar, ganas, bengis dan kejam. Kata buas ini ditancapkan untuk hewan atau binatang. Misalkan harimau dan singa.

Meskipun kita mengkategorikan harimau dan singa sebagai hewan atau binatang buas baik karena serangan maupun gigitannya, namun kalau kita mau jujur, kita ini (manusia) sesungguhnya lebih buas daripada harimau dan singa. Mari kita buktikan.

Pertama, harimau dan singa tidak akan menyerang manusia kalau mereka tidak diserang. Kedua, harimau dan singa tidak akan menyerang kalau mereka tidak dalam keadaan sedang lapar. Makannya harimau dan singa tak lebih hanya sekedar makan. Ketika mereka kenyang, itu sudah cukup bagi mereka. Dan mereka tidak makan lagi. Mereka pun akan berhenti. Ketiga, buasnya harimau dan singa tidak sampai merusak alam (lingkungan sekitarnya).

Begitulah buasnya harimau dan singa. Bandingkan dengan kita ini, manusia. Terutama ketika dikaitkan dengan tragedi asap yang menimpa beberapa daerah di negeri ini, termasuk di wilayah provinsi ini. Asap yang menyelimuti sejumlah daerah ini adalah akibat pembakaran lahan yang bersifat masif. Ada manusia yang membakarnya. Polri pun telah menetapkan sejumlah orang maupun korporasi (pengusaha) yang terlibat di dalamnya. Padahal tidak ada yang menyerang mereka. Mereka mebakar hutan tidak hanya sekedar persolan “darurat ekonomi” mereka, tetapi juga sampai dalam tataran ketamakan. Dan ingat, dampak  yang ditimbulkan oleh ulah manusia ini pun luar biasa sekali.

Di sektor kesehatan, akibat buas ini, oksigenpun tak mau bersahabat dengan kita. Mereka pergi ntah kemana. Dan kita pun tak tau, ntah kapan dia datang kembali.

Miris memang ketika Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Propvinsi Riau merilis bahwa oksigen murni di Riau hanya tinggal 5 persen. Pertanyaannya adalah, lalu 95 persennya apa?

Tentu ini bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Singapura saja ketika Indeks Standar Pencemar Udara menembus angka 300, pemerintah tetangga kita itu mengatakan bahwa udara sangat berbahaya. Bandingkan dengan di Indonesia, di  beberapa daerah bahkan ada yang menembus angka 2.000.

Ketika menembus angka 300 saja dikategorikan sangat berbahaya, bagaimana dengan 1000 ataupun 2000? Tidak ada kata untuk mengkategorikannya.

Di sektor ekonomi pun juga berdampak. Banyak pihak yang dirugikan. Di penerbangan, pesawat terbang tak bisa terbang dibuatnya. Tentu saja hal ini mengurangi pemasukan.

Di perhotelan, tentu saja berimbas kepada berkurangnya yang menginap. Orang akan menunda bepergian ke luar kota. Sebab kesehatan lebih utama. Untuk apa banyak uang kalau kemudian kesehatan bermasalah.

Tak hanya itu, negara sebagai badan hukum publik pun juga dirugikan. Betapa banyak garam yang ditaburkan, hujan buatan, pengerahan helikopter untuk memadamkan kebakaran itu, dan lain-lainnya.

Tak hanya itu, akibat asap ini pun sektor pendidikan juga diserangnya. Pendidikan menjadi lumpuh dibuatnya. Sekolah-sekolah dan kampus yang diliburkan.

Diliburkan tiga hari, ternyata asap tetap saja datang. Tambah libur lagi, masih saja tetap begitu. Bahkan asapnya semakin-semakin mengkawatirkan beberapa waktu belakangan ini.

 Ketika akal dan hati tak berfungsi

Buasnya harimau maupun singa, bisa dimaklumi. Tuhan hanya mentakdirkan bahwa mereka lahir dan akan tembuh hanya dengan nafsu. Dan kita bagaimana?

Inilah kita. Tuhan tidak hanya takdirkan nafsu, tetapi juga akal dan hati. Dengan akal kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Dengan akal kita tau mana yang bermanfaat dan mana yang menimbulkan mudarat.

Begitu juga dengan hati. Dengan hati kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Fungsikan perasaan itu. Jangan hanya enak di kita, tak enak di orang. Cubit dirimu, maka baru cubit orang lain. Kalau rasanya sakit ternyata, begitulah yang dirasakan oleh orang lain.

Karena itu, apa bedanya kita dengan hewan atau binatang ketika akal dan hati itu tidak difungsikan. Tak ada, bukan?


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Zilki Azhar
Jumat, 02 Oktober 2015 22:17 wib
Penanganan yang masih setengah setengah....
Nama :
Komentar :
     
riau24_mmuc9_3424.jpg
Inhil, Riau24.com - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) dapat lebih proaktif, dalam mencari sumber dana bagi pembangunan pasar terapung yang saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, Minggu 10 Desember 2017.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru