riau24 Aceh Tidak Toleran?
Rabu, 13 Desember 2017

Aceh Tidak Toleran?

0
Gereja liar dibakar masyarakat karena tak juga dibongkar pemkab Singkil/Foto: Serambi
Aceh Tidak Toleran?

Oleh: Sayyid Fadhil Asqar, Mukimin di Takengon, Aceh

KERUSUHAN dan pembakaran di Singkil. Sebuah kejadian bernilai kriminal, namun dipelintir menjadi konflik agama. Aceh menjadi tertuduh, dan seketika menjadi tidak toleran. Isu hoaks, dan ketidakpahaman tentang penerapan syariat Islam di Aceh, seketika digunakan oleh para penebar perpecahan.

Fakta bahwa 10 gereja tanpa izin yang dibongkar itu adalah hasil musyawarah antara pemda dengan masyarakat, diabaikan. Fakta bahwa di Singkil sudah terdapat 4 gereja resmi, disembunyikan. Fakta bahwa 2 gereja tidak dibongkar dan disarankan untuk segera mengurus izin, dikaburkan. Fakta bahwa Singkil dan Aceh Tenggara adalah wilayah Aceh yang memiliki populasi masyarakat kristen terbesar dan gereja terbanyak, tak dibahas.

Padahal, fakta itu membuktikan hal yang sudah biasa di Aceh. Toleransi, saling menghargai, saling menjaga. Di seluruh Aceh, bertebaran rumah peribadatan non muslim; gereja, vihara, kuil. Dan banyak di antaranya aman dan terlindungi meskipun berada di permukiman yang mayoritas muslim. Gereja, vihara, kuil, hanya berjarak menit dari Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Dan megah semuanya, aman tanpa ada keributan.

Tapi masih juga ada yang menebar perpecahan. Masih juga yang tak peduli dan menutup mata pada penjelasan yang baik yang telah disampaikan. Masih juga angka dibesar2kan, seolah seluruh Aceh, seluruh Singkil terlibat perang menghancurkan tempat ibadah non muslim.

Mungkinkah yang diinginkan adalah menimbulkan perpecahan? Dengan cara seolah2 menginginkan kerukunan? Padahal mereka adalah orang-orang yang selalu bicara kerukunan. Dan anehnya, mereka lupa bicara soal intimidasi terhadap muslim di daerah muslim sebagai minoritas.

Mungkin ini zaman fitnah yang sayyidina ‘Ali R.A pernah katakan. Ketika orang2 mempelajari agama untuk mengejar dunia. Ketika mereka berjuang menjauhkan manusia dari Tuhan dengan cara memanipulasi agama. Mereka tersenyum, berbicara dengan kalimat bermakna ganda. Seolah mereka menyuarakan Islam. Meskipun pada kenyataannya, mereka menjauhkan orang dari Islam.

Hati-hati kawan. Mereka ingin kita terpecah belah. Karena ketika umat beragama di Aceh bersatu, kita kuat. Kita damai saling menjaga. Dan mereka tak suka. Mereka ingin menghancurkan kedamaian Aceh. Memecah umat Islam, memecah kerukunan antara Islam, Kristen, Budha, dan Hindu.

Hati-hati, kawan.


Bagikan :
Sumber:
islampos
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_sde4m_3406.jpg
Inhil, Riau24.com - Puluhan pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) dan Dewan Pimpinan Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pulau Burung berikrar untuk senantiasa berupaya mencapai tujuan dan mematuhi peraturan organisasi yang berlaku.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru