riau24 Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar (1)
Sabtu, 16 Desember 2017

Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar (1)

0
Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar (1)
Oleh : Nindira Aryudhani, S.pi, M.Si
Aktivis Muslimah Hizbul Tahrir Indonesia (HTI)

Muqodimah

Riau24.com-MENJADI seorang intelektual di usia muda, tentu suatu kehormatan yang harus disyukuri, khususnya di tengah makin tingginya biaya pendidikan. Dalam diri seorang yang pandai, tentu ada suatu keinginan yang memotivasinya untuk meraih tingkat pendidikan yang sebaik-baiknya.

Mahasiswa, merupakan istilah bagi kaum terpelajar selepas sekolah menengah. Pada masanya, sejumlah perguruan tinggi akan siap menampung dengan serangkaian program studi yang menjanjikan. Dalam aktivitas akademisnya, mahasiswa diatur oleh kurikulum pembelajaran, yang meliputi jadwal dan materi perkuliahan, jumlah kredit semester serta praktikum dan fieldtrip.

Setiap perguruan tinggi memiliki target tertentu dari kurikulum yang dicanangkannya. Pada umumnya, kurikulum tersebut dimaksudkan untuk menjadikan para mahasiswanya mudah dalam belajar, mampu meraih nilai terbaik dengan wujud IPK tinggi atau tertinggi, dan sejumlah titel sebagai mahasiswa berprestasi. Hal ini juga mengkondisikan mahasiswa ingin segera lulus dan memperoleh pekerjaan yang layak dengan modal IPK tinggi dan masa studinya yang singkat.

Pekerjaan yang diinginkan pun tidak jauh dari terminologi posisi bergengsi dan gaji tinggi, yang tentunya akan makin menambah prestige individu dan keluarga. Tujuan yang demikian itu, saat ini menjadi wajar untuk diimpikan oleh setiap anak manusia dalam meraih kebahagiaan, setelah sejumlah kepayahan yang dialami saat sekolah dan kuliah. Demikian halnya bagi para orang tua yang telah berjuang membiayai pendidikan anak-anaknya, sehingga setelah lulus sang anak diharapkan dapat membalas budi yang telah ditanam oleh orang tua sebelumnya.

Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar

Mahasiswa, yang pascakelulusannya masih berkutat dengan dunia akademik atau hal-hal seputar keilmuannya, tentu berkeinginan agar ilmunya dapat lil ‘amal. Namun, harus diingat pula bahwa meski kampus adalah tempat mencetak generasi unggul, bukan berarti individu yang terlibat di dalamnya tak berpotensi menjadi menara gading. Artinya, ilmu lil ‘amalnya hanya sebatas memenuhi target kurikulum bagi para junior di tahun-tahun berikutnya. Ternyata, dunia kampus mengkondisikan ilmu para alumninya ini terabdikan secara ‘sempurna’, di mana seluruh potensi, energi dan pemikirannya diperas habis hanya untuk memperoleh sejumlah uang lelah.

Adanya kurikulum pendidikan yang dibangun berdasarkan asas yang telah ditetapkan penjajah; dan metoda (thariqah) yang digunakan untuk menerapkan kurikulum tersebut di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Di mana sekolah dan perguruan tinggi tersebut meluluskan orang-orang yang akan menjalankan urusan pemerintahan, administrasi, peradilan, pendidikan, kedokteran, dan seluruh urusan kehidupan, dengan pola pikir yang khas, yang berjalan sesuai strategi yang diinginkan kafir penjajah. Hal itu menjadikan sebagian besar pemuda dari para lulusan dan yang masih belajar, “berjalan” dengan arah yang berlawanan dengan Islam.

Hal ini terus berlangsung hingga kita menyaksikan terjadinya penggantian penjabat pemerintahan dari kalangan kaum Muslim kepada para penjabat dari kalangan kaki-tangan penjajah. Tugas mereka yang utama adalah menjaga kepentingan dan strategi yang telah digariskan penjajah berupa hudud, perundang-undangan, tsaqafah, politik, peraturan, peradaban, dan lain-lainnya. Mereka diminta membelanya seperti pembelaan para penjajah atau bahkan lebih dari itu.

Metode untuk mengatasi kesulitan ini adalah dengan membongkar aktivitas tersebut kepada para penguasa, pegawai, dan lain-lainnya, juga kepada seluruh masyarakat; sehingga sisi-sisi keburukan penjajah menjadi tampak jelas. Tujuannya untuk melepaskan orang-orang tersebut dari sikapnya dalam mempertahankan kepentingan-kepentingan itu, sehingga dakwah menemukan jalannya untuk menyampaikan misinya kepada kaum Muslim.

Karena itu, konsep ilmu lil ‘amal yang mereka dalihkan sebagai bentuk pengabdian keilmuan ini seyogyanya diluruskan. Potensi menara gading telah sangat menjelaskan bahwa ilmu kaum intelektual tidak untuk kemashlahatan umat sebagai objek yang diurus oleh negara. Padahal, di sinilah intelektual berperan sebagai pihak atau staf ahli yang pasti menjadi rujukan. Akan tetapi, yang terjadi, pemanfaatan ilmu itu hanya untuk kemashlahatan sejumlah pemilik kapital yang akan menggajinya dengan berwajah ‘manis’, antara lain melalui maraknya tawaran proyek penelitian.

Dengan demikian, sudah waktunya, mahasiswa berani menyambar label utamanya sebagai agen perubahan, agar tak sekedar menjadi intelektual yang tersangkar. Terbukti, intelektualitas itu akan jauh lebih dahsyat jika disertai dengan energi anak muda. Karena jujur saja, sistem kapitalisme-demokrasi sungguh sama sekali tidak menghargai anak muda. Dalam kapitalisme-demokrasi, anak muda dianggap biang kerusakan. Usia muda dianggap usia labil, usia mencari jati diri.

Sebaliknya, yang bisa dilakukan anak muda dalam Islam dengan anak muda hasil didikan kapitalisme-demokrasi sangat jauh berbeda. Apa yang bisa dilakukan anak muda usia belasan tahun atau mungkin 20-an tahun hasil didikan kapitalisme-demokrasi. Sebagian besarnya, nyaris mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mungkin bagi yang sudah mendapat gelar sarjana apa yang bisa mereka lakukan? Nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi di usia 20-an itu, seorang Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Tokoh lain seperti Imam Syafi’i bahkan telah memberikan fatwa semenjak beliau belum baligh.

Artinya, sejarah mengajarkan kepada kita bahwa anak muda bisa kuat dan mengeluarkan potensinya tanpa batas hanya dalam naungan Islam. Tanpa Islam anak muda menjadi liar, tanpa anak muda maka perjuangan Islam menjadi lemah.

Mahasiswa Harus Punya Taraf Berpikir Sistemik

Tak boleh sekadar menjadi menara gading, seyogyanya mahasiswa memiliki paradigma pikir yang berani beda. Sebagai kalangan terpelajar, jangan pernah takut mencoba sesuatu yang baru selama itu benar menurut Islam. Memikirkan urusan umat Islam, sejatinya bagian dari suatu paradigma baru yang membuat mereka bisa keluar dari zona nyaman. Zona study oriented yang berujung profit oriented dalam titel pekerjaan, sudah saatnya berubah dan menjadikan mereka keluar dari sangkar intelektualitasnya.

Lihatlah lebih dekat, bahwa ternyata masyarakat di dunia Islam berada di tengah-tengah kehidupan yang tidak islami. Mereka hidup dengan pola hidup yang bertentangan dengan Islam. Hal ini disebabkan karena struktur negara dan sistem pemerintahan yang mendasari struktur negara dan masyarakat, kaidah-kaidah kehidupan yang mendasari masyarakat dengan seluruh pilar-pilarnya, kecenderungan jiwa yang ingin diraih kaum Muslim dan pembentukan akal yang mendasari pemikiran mereka, seluruhnya dibangun dengan asas seperangkat pemahaman tentang kehidupan yang bertentangan dengan pemahaman-pemahaman Islam.

Selama asas ini tidak diubah dan selama pemahamanpemahaman yang simpang siur itu dibenarkan, maka hal itu menjadi kesulitan untuk merubah kehidupan manusia di tengah masyarakat, kesulitan dalam merubah struktur negara, kaidah-kaidah masyarakat, dan sikap jiwa serta pola pikir yang dijadikan sebagai penentu hukum oleh kaum Muslim.

BERSAMBUNG

R24/rno/imp


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru