riau24 Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar (2-Habis)
Kamis, 14 Desember 2017

Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar (2-Habis)

0
Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
Mahasiswa, Intelektual yang Tersangkar (2-Habis)

Riau24.com-KETERPISAHAN yang sangat jauh antara kaum Muslim dan pemerintahan Islam, terutama aspek politik pemerintahan dan politik pengelolaan harta, menjadikan gambaran kaum Muslim tentang kehidupan islami sangat lemah. Juga menjadikan gambaran orang-orang kafir tentang Islam terhadap kehidupan islami merupakan gambaran yang kontradiktif; terutama setelah kaum Muslim hidup dalam periode buruknya penerapan Islam oleh para penguasa kepada mereka. Seperti halnya mereka telah hidup sejak runtuhnya Khilafah hingga hari ini dikuasai oleh musuh-musuh mereka dengan peraturan yang bertentangan dengan Islam dalam segala hal, baik dalam bidang politik pemerintahan maupun politik pengelolaan harta dengan pandangan khusus.

Di samping itu, adanya perundang-undangan adalah solusi praktis untuk seluruh problematika kehidupan dan “alat” yang digunakan untuk pengaturan berbagai hubungan individu maupun kelompok. Semua itu telah digunakan kafir penjajah untuk membentuk pola pikir anak-anak kaum Muslim, sedemikian rupa sehingga menjadikan sebagian mereka tidak merasakan pentingnya keberadaan Islam dalam kehidupan dirinya maupun umatnya. Demikian juga, menjadikan sebagian lainnya mengemban permusuhan terhadap Islam, sehingga mengingkari kelayakan Islam sebagai problem solving bagi masalah kehidupan.

Karena itu, harus dilakukan perubahan terhadap pola pikir tersebut dengan cara membina para pemuda di luar sekolah dan perguruan tinggi dengan pembinaan khusus dan pembinaan umum. Pembinaan ini dilakukan dengan menggunakan pemikiran-pemikiran Islam dan hukum-hukum syara’. Mereka harus dikeluarkan dari kenyataan yang buruk tempat mereka hidup dan menggambarkan kepada mereka kehidupan yang wajib mereka jalani sekaligus wajib bagi mereka untuk mengubah realitas kehidupan mereka saat ini lalu meninggalkannya.

Merupakan sebuah keniscayaan untuk menggambarkan kepada mereka bahwa proses perubahan menuju kehidupan yang islami harus dilakukan secara menyeluruh bukan parsial. Demikian juga bahwa penerapan Islam haruslah secara revolusioner (satu kali langkah), tidak boleh ada tahapan baik secara parsial maupun tambal sulam, hingga mendekati gambaran realitas kehidupan yang pernah terjadi di masa kejayaan Islam.

Mahasiswa Perlu Bara yang Membakar

Mahasiswa, Sang Agen Perubahan ini idealnya akan selalu memerlukan bara yang membakar secara benar. Semata untuk menjaga panasnya idealisme yang ia miliki. Bukan untuk membakar idealisme benar yang telah dimiliki, agar terganti dengan cara pandang baru yang kontradiktif dengan idealisme sebelumnya.

Aktivis mahasiswa tahun 1998, boleh dikata paling melegenda. Karena mereka berjasa melengserkan rezim Orde Baru yang telah 32 tahun berkuasa di Indonesia. Namun apa mau dikata, tuntutan reformasi 1998 tak diiringi konsep perubahan kehidupan yang hakiki. Para mahasiswa pilar pergerakan saat itu toh nyatanya tak sedikit yang akhirnya memilih jalan kompromi dan masuk ke dalam sistem yang sejatinya sama dengan Orde Baru.

Sungguh, Orde Reformasi hanyalah Orde Baru yang berganti nama. Akibatnya, mereka yang sebelumnya dikenal sebagai aktivis dan juga mahasiswa kritis, harus berakhir ironis dalam sikap pragmatis. Hanya puas dengan euforia perubahan sesaat. Mereka bungkam saat diberi jabatan karena merasa aspirasinya selama ini telah didengar.

Jelaslah, mahasiswa memang betul-betul perlu tungku. Ini tak lain agar bara perubahan yang berperan memanaskan mereka akan senantiasa menyala. Agar bara itu tak mudah tertiup angin yang segar sesaat, yang di balik itu justru membuat idealisme mereka mudah terbeli.

Maka, bara itu tak lain adalah mabda (ideologi) Islam. Dan tungku itu adalah institusi pergerakan yang shohih (benar). Mengapa demikian? Karena demikian pula konsep dan konteks perubahan dan pergerakan sejati yang pernah dicontohkan oleh Rasul saw dan para shahabat.

Langkah-langkah penyampaian beliau saw berjalan melalui metode praktis. Beliau mengajak penduduk Makkah dan seluruh bangsa Arab di musim haji, dakwahnya kemudian tersebar ke seluruh penjuru Jazirah. Seakan-akan beliau menciptakan bara di bawah masyarakat Jazirah Arab, yang mampu membangkitkan panas di seluruh bangsa Arab. Islam mengundang bangsa Arab melalui Rasul saw melalui penjalinan hubungan dengan mereka dan mendakwahi mereka di musim haji serta pertemuan beliau dengan berbagai kabilah di tempat tinggal mereka masing-masing dan mengajak mereka kepada Islam. Demikianlah gambaran dakwah yang sampai ke seluruh Arab dengan terjadinya gesekan antara Rasul saw dan kaum Quraisy, sedemikian rupa dengan benturan yang sangat keras, hingga gaungnya memenuhi pendengaran bangsa Arab.

Saat ini, opini umum tentang kesukuan, nasionalisme, dan sosialisme termasuk pendirian gerakan-gerakan politik dengan asas kesukuan, nasionalisme dan sosialisme, sesungguhnya terjadi akibat penguasaan Barat terhadap negeri-negeri Islam. Penyerahan kendali pemerintahan kepada penjajah Barat dan penerapan sistem kapitalisme di negeri-negeri Islam, membawa pengaruh terhadap benak kaum Muslim berupa kecenderungan untuk mempertahankan diri. Pada gilirannya akan melahirkan sentimen nasionalisme untuk mempertahankan tempat masyarakat hidup di dalamnya. Juga akan membangkitkan paham sektarian yang membuat manusia cenderung mempertahankan diri, keluarga dan kaumnya, serta berjuang menjadikan pemerintahan yang bersifat golongan.

Tak ayal, ini berakibat pada munculnya gerakan-gerakan politik yang mengatasnamakan nasionalisme untuk mengusir musuh dari negerinya; dan atas nama nasionalisme untuk menjadikan pemerintahan dikuasai oleh keluarganya. Karena itu, kerusakan sistem kapitalistik serta ketidaklayakannya harus dijelaskan kepada masyarakat. Belum lagi, di tengah-tengah mereka juga tersebar propaganda ke arah sosialisme sehingga terbentuklah berbagai kutlah atas nama sosialisme untuk mengganyang kapitalisme. Gerakan-gerakan tersebut sebenarnya tidak memiliki gambaran apapun tentang sistem kehidupan, kecuali gambaran yang masih mentah, yang akan menjauhkan mereka dari Islam sebagai ideologi universal.

Khatimah

Sejak saat ini wajib bagi setiap Muslim untuk berusaha keras mewujudkan kembali Daulah Islam, adidaya yang akan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dan mengawali perjuangannya dengan mengemban dakwah Islam, melakukan aktivitas untuk melanjutkan kehidupan yang islami di seluruh negeri Islam, membatasi pusat aktivitasnya di satu atau beberapa wilayah agar menjadi titik sentral, hingga dapat memulai aktivitas yang benar-benar serius. Inilah tujuan yang sangat besar yang wajib ditempuh, berani menanggung berbagai resiko penderitaan di jalannya, mencurahkan segenap kemampuan dan berjalan terus penuh tawakal kepada Allah tanpa menuntut imbalan apapun selain untuk meraih ridha Allah Swt.
Wallaahu a’lam bish showab 

HABIS

BIODATA PENULIS:
Nama : Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
e-mail : nindira.a@gmail.com
Aktivitas : Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

R24/rno/isl


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_sde4m_3406.jpg
Inhil, Riau24.com - Puluhan pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) dan Dewan Pimpinan Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pulau Burung berikrar untuk senantiasa berupaya mencapai tujuan dan mematuhi peraturan organisasi yang berlaku.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru