riau24 Tanggap Ancaman Dunia Maya
Senin, 18 Desember 2017

Tanggap Ancaman Dunia Maya

0
Dadangsyah Dapunta - Staf Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI
Tanggap Ancaman Dunia Maya

Riau24.com - SEMAKIN derasnya arus informasi yang ditopang pesatnya laju perkembangan teknologi pada era globalisasi dewasa ini mampu membawa pergeseran budaya kehidupan begitu sangat cepat pada umat manusia. Dalam aktivitas keseharian, intensitas interaksi dalam bentuk ketergantungan manusia pada teknologi dan informasi semakin meningkat, khususnya ketergantungan pada penggunaan internet atau dikenal dengan dunia maya (cyber space). Penggunaan cyber tersebut tidak hanya dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintahan, tetapi juga lembaga swasta dan bahkan masyarakat secara luas.

Setiap waktu internet menghubungkan berbagai aspek yang dibutuhkan banyak orang. Beberapa di antara pemanfaatan internet itu adalah penggunaan fasilitas e-mail, gadget, sosial media, sistem koneksi transportasi, infrastruktur listrik, perbankan, pasar uang, sistem pertahanan militer dan berbagai sarana penting lainnya. Berbagai sarana tersebut menuntut perhatian untuk dijaga dan dipastikan sisi keamanan, keberadaan, dan keberlangsungannya dari berbagai bentuk penyalahgunaan serta berbagai tindak kejahatan.

Pergeseran budaya kepada tingginya mobilitas menuntut laju permintaan dan ketergantungan (addict) pada cyber space semakin tinggi. Hal ini kemudian diikuti dengan tingginya potensi ancaman yang dihadapi dari berbagai tindak penyalahgunaan dan kejahatan yang mampu menyebabkan dampak yang sangat fatal. Oleh karena itu, cyber space harus menjadi fokus perhatian yang serius bagi para penguna untuk menghindari berbagai ancaman.

Mari kita lihat dari berbagai kasus yang ada. Misalnya pada 2003 Amerika Serikat mendapat serangan cyber secara besar-besaran yang dijuluki dengan serangan Titan Rain. Serangan tersebut menyasar National Aeronautics and Space Administration (NASA) selama tiga tahun. Contoh lain ialah pada 27 April 2007, giliran serangan cybermembawa mimpi buruk bagi Estonia. Berbagai instansi setempat, parlemen, bank, kementerian, dan media massa mengalami kelumpuhan.

Selanjutnya, pada 2008 terjadi pencurian data pribadi pada komputer Departemen Pertahanan Amerika. Modus yang digunakan adalah dengan menyelipkan USB flash disk yang tidak berwenang kepada salah satu laptop di markas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. USB tersebut ternyata mengandung virus berbahaya yang sengaja dikembangkan pihak tertentu. Virus kemudian menyebar pada sistem komputer Departemen Pertahanan dan menyebabkan data dikirim ke server asing.

Masih pada 2008, beberapa situs pemerintah Georgia dan situs-situs media lokal dilumpuhkan oleh serangan cyber. Serangan dilakukan dengan mengunakan metodedistributed denial of service melalui pengembangan botnet. Kemudian pada 2010, Iran digegerkan dengan virus komputer yang bekerja melakukan pencegahan perintah spesifik dari Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) ke fungsi tertentu pada program nuklir Iran.

Mungkin kita juga ingat pada 2013 bangsa Indonesia dibuat gempar dengan terbongkarnya perilaku Australia dan sekutunya yang melakukan penyadapan terhadap komunikasi Presiden SBY dan beberapa petingi Indonesia. Akibatnya, publik Indonesia marah dan suhu hubungan bilateral kedua negara memanas.

Melihat berbagai tindak kejahatan melalui cyber dan kondisi pertahanan cyberIndonesia yang belum terintegrasi, tidak mustahil Indonesia nanti akan masuk dalam status darurat cyber. Oleh karena itu, kita butuh pertahanan keamanan yang kuat untuk melindungi dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Sehingga wacana pemerintah untuk membentuk Badan Cyber Nasional (BCN) merupakan langkah yang positif untuk menghadapi berbagai tantangan kejahatan dunia maya (cyber crime).

Namun demikian, di sisi lain ada beberapa hal yang menjadi permasalahan serta kekhawatiran publik. Ketika lembaga pertahanan cyber dibentuk, dimungkinkan masyarakat merasa terganggu privasinya lantaran dimonitor secara sistematis sebagaimana yang dilakukan oleh NASA terhadap publik Amerika Serikat. Publik juga bisa menilai bahwa BCN berpotensi besar menjadi tindak kejahatan baru dalam bentuk penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan tertentu, melanggengkan kekuasaan, serta mengancam iklim demokrasi digital dalam konteks kemerdekaan berekspresi dan mendapat informasi.

Adalah hal wajar jika publik mengkhawatirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi itu. Menurut hemat penulis, pertahanan cyber tetap dibutuhkan baik oleh publik maupun pemerintah. Tanpa perlindungan pertahanan cyber, bangsa Indonesia terus menerus akan dimata-matai dan sangat rawan untuk dilumpuhkan. Ini merupakan tantangan bagi pemerintah sebagai penanggung jawab untuk memberikan perlindungan dan keamanan bagi bangsa Indonesia.

Namun demikian, pemerintah juga harus bijak dalam membuat regulasi pembentukan pertahanan cyber. Pemerintah harus mengakomodasi serta menjawab kekhawatiran publik agar tidak terjadi kejahatan baru. Sebagai langkah antisipasi dalam meminimalisasi kejahatan dunia maya, penulis menyeru kepada seluruh lapisan masyarakat agar berhati-hari dan teliti terhadap penggunaan cyber space.

R24/rno/oke


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru