riau24 Membenahi Keperawatan Indonesia: Sistem dan SDM
Senin, 18 Desember 2017

Membenahi Keperawatan Indonesia: Sistem dan SDM

0
Syaifoel Hardy
Membenahi Keperawatan Indonesia: Sistem dan SDM
Jakarta, Riau24.com - Di USA (Amerika Serikat) dan Inggris pun, yang usia profesi mereka 200 tahun lebih tua di atas kita, pembenahan terus berlangsung. Di India, yang tahun 1948 sudah berdiri Nursing Council padahal mereka merdeka tahun 1947, masih ada lubang di sana-sini.

Jadi, jangan berharap profesi kita ini, yang belum seumur jagung, sempurna, sementara UUK saja baru satu tahun diresmikan, dan Nursing Council belum ada 'kabar resmi' kapan taksiran persalinannya. Ada dua potensi besar yang sudah kita miliki saat ini: sistem dan sumber daya manusia (SDM).

Sistem adalah rangkaian elemen yang bergabung antara satu dan lainnya, saling bekerja sama, kait mengkait, guna mencapai suatu tujuan. Sedangkan SDM adalah manusia, profesionalnya, yang mendesain, merencanakan, mengkoordinasi, melaksanakan, mengorganisasi hingga mengevaluasi seluruh proses kerja sistemnya.

Kalau ditanya apakah Indonesian Nursing berbenah? Jawabannya, sedang berlangsung. Dalam forum-forum nasional, selalu kita gembar-gemborkan tentang kemajuan sistem keperawatan kita dewasa ini.

Yang paling hangat adalah UU Keperawatan, STR, sertifikasi, pendidikan serta akreditasi. Prestasi ini yang kita share kan dengan kolega kita di negara-negara baik di level ASEAN, Asia hingga internasional.

Keberadaan sistem profesi kita ini butuh pengakuan masyarakat internasional. Mau tidak mau, Indonesia, sebagai negara terbesar keempat di dunia dalam artian populasi, akan menjadi sorotan, bila tidak memiliki sistem sebagaimana negara-negara maju lainnya. Bila tidak sejalan dengan mereka, kita dianggap tertinggal.

Satu pekerjaan rumah (PR) yang menjadi ganjalan terberat adalah belum dimilikinya Nursing Council. Lembaga independen ini yang paling berpengaruh dalam laju profesi ini. Sementara ini, fungsinya masih tersendat, dirangkap oleh MTKI.

Keberadaan MTKI atau MTKP untuk level provinsi, sebagai payung semua organisasi profesi (kecuali Kedokteran) dirasakan sangat diskriminatif dan tidak efektif.

Diskriminatif karena hanya profesi Kedokteran yang 'diizinkan' memiliki Council, sementara profesi kesehatan lainnya dianggap mandul. Tidak efektif, karena sangat dirasakan outcome nya oleh profesi keperawatan kita dalam perolehan STR yang mengganjal prosesnya oleh MTKI.

Setiap hari, sedikitnya 10 orang di FB Indonesian Nursing Trainers yang mengeluh tentang tidak lancarnya proses pengurusan STR. Ini suatu bukti, bahwa MTKI memikul beban terlalu berat.

Alangkah lebih ringan dan efisiennya bila STR ini dilimpahkan kepada Nursing Council. Itu pandangan oleh profesi kita. Pemerintah, ironisnya, punya sudut pandang yang berbeda. Ini tidak lepas dari berbagai kepentingan dan politis.

Dampak dari gangguan sistem ini sangat besar. STR menyangkut kesejahteraan profesionalnya. Hanya karena selembar surat sakti ini, ribuan perawat boleh jadi tidak bekerja sesuai profesinya. Hanya karena surat yang diterbitkan oleh lembaga yang tidak lebih tinggi ketimbang Menteri Kesehatan ini, orang jadi susah hidupnya.

Hanya karena surat yang nilai sejatinya tidak lebih tinggi dari Ijazah, masa depan sarjana bisa terombang-ambing, terlunta-lunta. Hanya karena STR, orang tidak yakin dengan masa depannya. STR, bisa bikin karyawan goyah karirnya, karena ancaman PHK. Karena STR, perawat tidak bisa bekerja di luar negeri. Dan masih banyak lagi.

Di mana-mana kampus promosi akreditasi, globalisasi serta kemampuan bersaing, di dalam serta luar negeri. Sementara perolehan pekerjaan nyatanya susah. Padahal, tujuan akhir yang paling ideal dari pendidikan adalah dapat kerja.

Meski tujuan pendidikan sendiri secara formal tidak menyantumkan mendapatkan pekerjaan. Tujuan pendidikan adalah memaksimalkan tumbuh kembang demi peningkatan kualitas manusia. Namun, apa artinya kualitas manusia bila tidak didukung oleh kesejahteraan mereka sesudah menempuh pendidikan?

Dari level bawah, Ukom dilaksanakan di tingkat kampus. Di level ini, ada perbedaan, S1 Ukomnya computer based, sedangkan D3 tidak. Ini tidak bisa disepelekan. Setelah dinyatakan lulus, belum ada ketentuan kapan STR berada di tangan pemiliknya. Belum lagi pemenuhan persyaratan yang harus dikirim dari daerah ke pusat.

Jika ada kesalahan penulisan nama, tanggal lahir, dan lainnya, berapa lama prosesnya? Beberapa teman-teman mengeluh ejaan namanya salah dalam STR. Biayanya, ada yang bayar Rp 100 ribu, ada yang setor Rp 250 ribu.

Ada yang merasa cepat, lancar, ada yang tidak tentu rimbanya karena mereka dari Papua sana. Inilah beberapa kelemahan terbesar sistem kita.

Sistem yang baik, nyatanya belum tentu benar. Sistem yang tidak didukung oleh manajemen yang tertata, mengakibatkan unit-unit dalam sistem tersebut jadi rusak. Sama seperti radang pada Larynx yang bisa merambat ke Alveoli jika tidak terobati.

Sementara tentang Sumber Daya Manusia (SDM), perkembangannya cukup menggembirakan 10 tahun terakhir ini. Kualitas SDM profesi ini didukung oleh kompetensi yang menyangkut pendidikan, pelatihan, serta pengalaman kerjanya.

SDM kita banyak yang ditelorkan oleh lembaga-lembaga pendidikan terakreditasi A, baik dalam maupun luar negeri, dari Australia, Amerika, Eropa serta Asia. Beberapa universitas di negeri kita sudah menyelenggarakan program S2. Universitas Indonesia sudah menyelenggarakan S3.

Ini pertanda bahwa kualitas nursing profesional Indonesia sejajar kedudukannya dengan rekan-rekan dari luar negeri. Meski dalam artian kuantitas belum terlalu memuaskan. Kita masih butuh banyak tenaga dosen S2. Penyebaran mereka belum merata. Sebagian besar S2 nursing masih disedot oleh kampus.

Pemenuhan SDM ini berpengaruh besar terhadap kelancaran pencapaian tujuan yang ada dalam sistem. Kriteria minimal pendidikan seorang dosen, mengakibatkan jumlah mahasiswa dan dosen tidak imbang. Ketidak-seimbangan ini akan mempengaruhi outcome. Kampus negeri tidak sama dengan swasta. Bimbingan mahasiswa jadi belang bonteng.

Barangkali inilah salah satu akar masalah terbesar, mengapa, misalnya, hasil Ukom tingkat nasional hanya dipatok 40%. Apalagi di daerah, provinsi di luar Pulau Jawa. Di Sulawesi, ada yang hanya 3 orang lulus di antara 40 mahasiswa.

Padahal di Blitar-Jatim, bisa mencapai 100% lulus. Dosen-dosen muda yang lulus S2 lebih memilih tinggal di Jawa adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak.

Ini masih belum dihitung infrastruturnya. Fasilitas laboratorium pendukung serta kurikulum. Walaupun, ini bisa diakali oleh SDM yang berkualitas. Memaksimalkan fungsi internet dan media saat ini bisa dijadikan sarana lain pengganti laboratorim canggih pada kasus-kasus tertentu. Demikian pula kurikulum yang bisa jadi 'fleksibel' di tangan dosen yang pinter.

Keberadaan organisasi profesi pula tidak kalah peran pentingnya. Organisasi ini menjadi jembatan komunikasi profesional, khususnya yang sudah bekerja, terkait pengembangan profesi dan atau informal studies nya.

Pendeknya, tanpa Nursing Council, persoalan profesi makin rumit. Terlepas dari dua faktor di atas, antara sistem dan SDM, mana sebenarnya yang lebih dominan perlu mendapatkan perhatian dalam perbaikan kondisi profesi keperawatan di Indonesia saat ini?

Meski sistem sudah baik dan tertata, kalau SDM nya parah, semua bisa jadi bubrah. Sekalipun sistemnya mudah, jika SDM kurang tepat, akan menjadi susah. SDM tipe ini adalah SDM yang 'gemar' membuat orang senang jadi gelisah.

Sebaliknya, bila SDM baik, meski sistem amburadul, pasti masih bisa jalan, karena berangkat dari niat baik. SDM yang baik, akan mudah untuk dikelola, diajak kerjasamanya, guna mencapai tujuan betapapun rumit.

The man behind the gun, lebih penting ketimbang sistem. Di tangan SDM yang baik, sistem yang ribet, bisa dibuat simple. Di dalam genggaman SDM yang amanah, sistem yang susah, bisa dibikin mudah.

Berbagai masalah yang dihadapi oleh profesi ini, mulai dari sulitnya mencari kerja, rendahnya motivasi, kurang pandainya menjemput peluang, fresh graduate yang pasif, kualitas lulusan yang rendah, hingga hiruk-pikuk STR, sejatinya bermula dari satu muara.

Sepertinya, kita butuh satu mata kuliah lagi guna menangani supaya redupnya SDM profesi kita ini menjadi lebih bercahaya. Kemuliaan dan nama baik profesi ini tidak bergantung kepada tingginya level pendidikan penyandangnya. Akan tetapi, karakter dan tabiatnya.

Menjamurnya profesional di tingkat atas yang diikuti dengan banjirnya pengangguran serta rendahnya kualitas layanan keperawatan, tidak ubahnya 'pembodohan publik'.

Bangsa besar ini mengharapkan peningkatan pendidikan keperawatan yang diikuti dengan terdongkraknya kualitas performa penyandangnya. Dari sana, perawat akan terangkat reputasinya. Meski gaji nampak rendah di hadapan pejabat, namun lebih bermartabat di mata masyarakat.

Syaifoel Hardy
saderun@gmail.com
081259414970 

R24/rno 

Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru