riau24 Mendayung Kemampuan Maritim, Pijakan Strategis Pembangunan Nasional
Sabtu, 16 Desember 2017

Mendayung Kemampuan Maritim, Pijakan Strategis Pembangunan Nasional

0
Prof. Dr. Ketut Buda Artana, ST
Mendayung Kemampuan Maritim, Pijakan Strategis Pembangunan Nasional
Jakarta, Riau24.com - Pada puncak perayaan hari Nusantara yang dirayakan di Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh, Minggu, 13 Desember yang lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali mengingatkan akan visi negara untuk memanfaatkan potensi maritim sebagai penopang ekonomi negara.

Hal ini kemudian disambut oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, yang tahun ini didaulat menjadi ketua panitia perayaan, dengan meluncurkan program pengembangan tiga Kluster Ekonomi Maritim yang tersebar di 7 lokasi di barat, tengah, dan timur Indonesia.

Adapun nilai investasi yang dicanangkan mencapai hingga US$ 250 juta. Jika ditinjau dari sudut pandang geografis, ambisi ini bukan tanpa pijakan.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 13.667 pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, garis pantai sepanjang 95.181km dan jika memasukkan seluruh wilayah perairan yang ada; wilayah laut territorial, ZEE dan batas landas kontinen; maka luas perairan Indonesia menjadi 7,9juta km2 atau 81 persen dari seluruh wilayah Indonesia.

Potensi kelautan yang ditawarkan negeri ini jika dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara maksimal bukan tidak mungkin akan menjadi mesin pendorong ekonomi bangsa.

Center of Reform on Economics (Core) mendefinisikan sektor maritim sebagai seluruh aktivitas yang berkaitan dengan kontruksi yang ada di laut, sumber daya hayati, mineral laut, pembuatan kapal, pariwisata, dan rekreasi serta transportasi laut.

Menilik dari definisi ini, bisa di pahami bahwa wilayah yang di cakup oleh sektor maritim sangatlah luas. Sayangnya, belum semua potensi ini tergali dengan maksimal.

Bahkan, saat ini masih terjadi perdebatan panas dan cukup panjang mengenai teknologi kelautan yang diusung untuk aktivitas penggalian ladang gas di wilayah perairan Maluku Selatan, yaitu Floating Liquified Natural Gas (FLNG).

Teknologi Floating Liquified Natural Gas (FLNG) masih terbilang sangat baru dan hingga saat ini belum ada fasilitas FLNG yang secara resmi telah dioperasikan. Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang dianggap memiliki kapasitas dan potensi untuk menggunakan teknologi revolusioner yang mampu memberikan akses kepada lokasi gas yang paling sulit dijangkau ini.

Kajian teknis yang ada saat ini, baik dari Teknologi bangunan apung (FLNG) dan sistem pengikatannya (mooring system) sudah terbukti (proven) dapat dilakukan di Indonesia. Membawa teknologi ini ke Indonesia bukanlah tanpa tantangan.

Jika kemudian proyek ini dapat berjalan sesuai rencana, hal pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapasitas galangan kapal di Indonesia, karena untuk proses finalisasi pabrikasi fasilitas FLNG ini dibutuhkan galangan kapal seluas 485 meter, sementara galangan kapal terbesar di Indonesia saat ini hanya sebesar 380 meter.

Apa artinya bagi Indonesia? Di masa depan, bukan tidak mungkin kita memiliki galangan kapal terbesar kedua di dunia setelah Ulsan di Korea Selatan dan memiliki kemampuan untuk berkompetisi dalam industri manufaktur perkapalan dan industri lainnya yang berbasis kelautan.

Konsorsium Maritim yang beranggotakan 5 institusi kredibel yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, PT PAL Indonesia (Persero), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, LHI-BPPT, dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) sudah melakukan berbagai macam studi terkait.

Berbagai bentuk simulasi dan pengujian di laboratorium juga telah dilakukan oleh Konsorsium Maritim untuk mengukur tingkat keamanan dan keselamatan dari FLNG ini.

Hasil dari segala kajian dan pengujian menunjukkan bahwa teknologi FLNG memiliki tingkat keamanan dan keselamatan yang dapat di terima.

Jika ditinjau lebih jauh, industri perkapalan Korea Selatan adalah salah satu sektor penggerak perekonomian negara ini pasca perang dunia ke-II dan mampu memberikan kontribusi signifikan ke pertumbuhan industrialisasi negara serta menjadi salah satu pemain teratas global berdasarkan value dan nomor dua setelah Cina berdasarkan volume.

Atau tidak perlu pergi terlalu jauh hingga Asia Timur. Mari kita menilik lebih lanjut perekonomian negara tetangga Singapura yang juga menjadikan industri perkapalan sebagai salah satu sektor dominan dalam struktur pendapatan negara.

Di tahun 2014, industri maritim Singapura mencatatkan kontribusi sebesar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara, dengan lebih dari 130 grup internasional shipping dan 5.000 pembangunan maritim yang mampu menyerap tenaga kerja hingga lebih dari 170.000
orang.

Jika negara dengan ukuran darat dan laut jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia ini mampu menyerap tenaga kerja yang signifikan dari sektor maritim ini, bayangkan potensi besar yang dimiliki negara kita di masa depan jika kita mampu memasuki kompetisi maritim kelas dunia.

Dampak positif lainnya dengan berani mengadaptasi teknologi baru berkelas dunia adalah jaminan transfer of knowledge.

Daya saing tenaga kerja dan insinyur kita tentunya ditantang untuk dapat memasuki level lebih tinggi agar mampu mengisi kesenjangan yang mungkin timbul dari terapan teknologi ini.

Ini selayaknya dapat disikapi secara positif sebagai cara membangun kapasitas nasional berbasis teknologi untuk memampukan negara berkompetisi di tingkat global.

Pada akhirnya menjadi tanggung jawab semua orang jika kemudian kita ingin mengembalikan negara ini memijak era kedigdayaan dan benar-benar menjadi poros maritim dunia.

Pengembangan pelabuhan-pelabuhan Indonesia yang kompetitif, efisien dan maju di segenap wilayah negeri yang mampu mendorong terbangunnya aktivitas ekonomi di seluruh kepulauan maupun jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sehingga manfaat peningkatan perdagangan dunia dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan kemakmuran bangsa menjadi pekerjaan rumah utama negara.

Berkembangnya aktivitas ekonomi berbasis sumber daya kelautan dan fungsi laut harus dilakukan secara terpadu. Peningkatan kapasitas dan infrastruktur pelabuhan mampu memberikan dampak positif bagi mata rantai suplai (supply chain) dan diyakini dapat mendongkrak PDB hingga 5 persen.

A Big Loss atau A Big Gain akan sangat tergantung akan bagaimana kemudian negara mengambil langkah-langkah bijak dalam mengelola potensi maritim.

Oleh: 
Prof. Dr. Ketut Buda Artana, ST
Wakil Rektor IV Bidang Penelitian Inovasi dan Kerja Sama, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 

R24/rno

Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru