riau24 Parasitokrasi dan Residu Konflik Partai Golkar
Senin, 18 Desember 2017

Parasitokrasi dan Residu Konflik Partai Golkar

0
Opini Nico Harjanto (Liputan6.com/Abdillah)
Parasitokrasi dan Residu Konflik Partai Golkar

Jakarta, Riau24.com - Konflik internal dalam sebuah partai besar lumrah terjadi. Jika partai terlembagakan dengan baik, maka akhir dari konfik tersebut justru malah bisa semakin memperkuat partai. Sayangnya, tidak semua partai terlembagakan dengan baik. Terlebih lagi, hanya sedikit partai yang memiliki politisi-negarawan yang mampu mencari solusi beyond their interests

Kebanyakan yang ada adalah para parasit politik yang bekerja di partai untuk mencari penghidupan diri dan kelompok, pengamanan aset dan kepentingan, maupun kepuasan semu dari candu kekuasaan seperti layanan protokoler, penghormatan formalitas, hingga pemberian gelar dan sebutan tertentu. 

Di negara demokrasi maju, konflik internal partai bukan fenomena yang jarang terjadi. Partai Buruh di Inggris misalnya, pernah mengalami masa surut panjang sebagai partai oposisi dari 1979 hingga 1997. 

Selama 18 tahun, Partai Konservatif di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Margaret Thatcher dan John Major, berkuasa dengan beragam prestasi sehingga Partai Buruh semakin terbenam dalam konflik internal yang cukup tajam.

Namun, proses dialektika muncul dari konflik tersebut sehingga terbitlah manifesto New Labour, New Life for Britain, pada 1996 untuk mengoreksi paradigma lama partai tersebut, yang resisten terhadap ekonomi pasar, tapi juga seringkali mengingkari janji-janji muluk kampanye untuk memperjuangkan kaum buruh. 

Di bawah kepemimpinan baru Tony Blair yang segar dan menjanjikan, Partai Buruh akhirnya memenangkan pemilu pada 1997 dan kemudian memegang tampuk kekuasaan hingga 2010. 

Jika partai tidak terlembagakan dengan baik, konflik internal kepartaian biasanya akan mengarah pada dua muara. Pertama, terjadinya party split saat faksi-faksi yang tidak puas mendirikan partai-partai baru. 

Akibatnya, tentu kekuatan partai yang tersisa semakin tergerus dan dengan semakin banyak rival eksternal yang secara emosional tidak friendly, maka sangat mungkin berbagai akses mobilisasi sumber daya politik dan massa menjadi semakin banyak yang tertutup. 

Party split juga terjadi ketika banyak politisi partai yang berkonflik internal tersebut pindah ke partai-partai lainnya.

Kedua, terjadinya political party decay, di mana pembusukan partai justru dilakukan oleh elemen-elemen yang merasa menang, yang menjalankan partai sebagaimana layaknya mengelola usaha dagang. 

Atau proses pembusukan kepartaian dilakukan oleh anasir-anasir yang kalah atau terkalahkan dalam kompetisi internal kepartaian tersebut, yang tidak segan-segan melakukan sabotase internal untuk menghancurkan kekuatan faksi lawan yang sedang memegang tampuk kepemimpinan partai.

Partai Golkar meski menyandang sebagai partai terbesar kedua hasil pemilu legislatif 2014, dan sebelumnya lama menjadi the backbone dari rezim otoriter Orde Baru sehingga mampu menjadikannya sebagaihegemonic party selama lebih dari tiga dekade, belumlah menjadi partai moderen yang terlembagakan dengan baik. 

Kisah Partai Golkar sejak bermetamorfosis dari Golkar pada 1998, layaknya seperti sinetron picisan yang mempertontonkan konflik dan perpecahan dalam setiap musim tayangnya, bukan dramaturgi bermutu yang menyampaikan nilai-nilai karya dan kekaryaan. 

Perpecahan pertama pada 1998 melahirkan misalnya Partai Keadilan dan Persatuan di bawah Jenderal (Purn) Eddy Sudradjat, Partai MKGR, maupun Partai IPKI. Kemudian lahir pula Partai Karya Peduli Bangsa dan Partai Patriot Pancasila yang menjadi kontestan dalam pemilu 2004, yang dimotori para mantan politisi Partai Golkar. 

Kemudian, sebagai ekses dari konflik yang tajam terkait kandidasi dalam pemilihan presiden langsung 2004, lahirlah misalnya Partai Hanura dan Partai Gerindra yang dipimpin mantan peserta konvensi capres Partai Golkar. 

Berikutnya, pasca Munas Riau tahun 2009 lahirlah Partai Nasdem yang menjadi satu-satunya partai pendatang baru pada pemilu legislatif 2014 dan mampu meraih 6,72% suara.

Jika perpecahan adalah kisah klasik rutin di dalam Partai Golkar, belajarkah para elit partai beringin ini dari pengalaman-pengalaman cukup traumatik di masa lalu? Sayangnya para elit Partai Golkar saat ini terutama Aburizal Bakrie dan para kroninya yang masih merasa berhak memimpin partai, merupakan tipikal politisi selfish pembentuk parasitokrasi di Partai Golkar. 

Mereka sepertinya lebih memikirkan individual and group gains dibandingkan party gain,apalagi party survival

Dalam kamus berpolitik mereka, partai hanyalah instrumen atau semacam 'usaha dagang' untuk menjalankan suatu spoil system atau politik patronase tertentu yang menjaga tersalurkannya proyek, konsensi, maupun anggaran negara ke kelompok sendiri atau rekanan kroni mereka, supaya bisa mendapatkan persentase komisi dan saham. 

Kasus "Papa Minta Saham" hanya sejumput kecil dari praktik patronase politik ini. Kengototan mereka untuk tetap menguasai partai meski selama periode kepengurusannya telah gagal mencapai program catur suksesnya, yaitu sukses konsolidasi, kaderisasi, pemikiran baru, dan sukses dalam berbagai pemilu juga menunjukkan minimnya kesadaran berpartai dan rendahnya moralitas politik mereka.


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru