riau24 Karhutla : Diantara Bencana, Kejahatan dan Regulasinya
Selasa, 19 Desember 2017

Opini Mahasiswa

Karhutla : Diantara Bencana, Kejahatan dan Regulasinya

6
Zunnur Roin
Karhutla : Diantara Bencana, Kejahatan dan Regulasinya

Pekanbaru, Riau24.com - Apakah ungkapan Negeri Diatas Awan akan kembali mencuat sebagai bentuk bullian atas keresahan masyarakat kepada pemerintah  dan penegak hukum yang dianggap gagal dari tahun ke tahun menghadapi kasus karhutla?
Barangkali itulah analogi ungkapan atas kekecewaan masayarakat yang telah bergelut dengan asap beracun setiap tahunnya sejak 8 tahun terakhir, sehingga menisbahkah seriusitas penegakan hukum dari Pemerintah perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak ketika virus yang lahir dari kesengajaan  itu dapat mengancam kesehatan hingga jatuh korban, dan ketika rutinitas pendidikan dan taransportasi  juga menjadi terhambat serta masalah kerusakan lingkungan yang sudah tidak lagi menjadi pertimbangan.

Prestasi  8 tahun itu seharusnya menjadi referensi kebijakan pemerintah dan pelajaran bagi penegak hukum dalam segala upaya di konteks Pemberantasan dan pencegahan. Mindset pencegahan dan pemberantasan di level pemerintah dan stage holdernya seharusnya bukan lagi bagaimana menyediakan Masker dan obat-obatan yang berharap  dapat mempengaruhi simpati publik atas keperhatiannya. Kemudian bukan lagi mempersiapkan segala bentuk armada dan pasukannya untuk berperang melawan sijago merah yang membabi buta di hadirkan oleh pihak-pihak yang tidak berperikemanusiaan. Ketegasan pemerintah sangat dinantikan dalam konteks Regulasi di Negara yang katanya negara Hukum ini, karena kebakaran hutan harus mampu membuat pelakunya kebakaran jenggot. Tinggal bagaimana regulasi itu dapat di ciptakan tanpa disentuh oleh kepentingan-kepentingan yang dapat menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Ungkapan diatas dapat diasumsikan  bahwa sebagian besar kasus  pembakaran hutan merupakan praktik organized crime atau kejahatan terorganisir yang  didalangi kaum-kaum  kerah putih (konsep White Collar Crime). Para pelaku dengan otoritas dan kapasitasnya memistifikasikan praktik pembakaran hutan menjadi kesalahan mutlaknya,Sehingga hukum tidak dapat menyentuh pelaku sebenarnya.

Jika melihat dengan teropong awam, kasus karhutla adalah suatu musibah yang lahir tanpa kesengajaan, Asumsi publik harus sedikit beranjak dari pemikiran demikian. Lalu siapa? Kita tidak perlu bingung memikirkan itu. Karena konsep kejahatan seperti ini tidak akan pernah berakhir selagi hukum sulit menembus Benteng yang dibangun berdasarkan kepentingan dan bisa jadi berpondasikan Transaksional antara mereka yang mampu mencengkram Regulasi.

Sebagai mahasiswa Kriminologi, saya tidak menyalahkan persepsi umum seperti di atas, meski kurang juga setuju. Menurut hemat saya, realita Karhutla di Riau dan Indonesia umumnya merupakan konsekuensi logis dari kegagalan kebijakan pengelolaan pertanahan atau lahan oleh Negara yang tidak memberikan proteksi terhadap kemaslahatan lingkungan hidup dan sosial.
Sekali lagi bukan melulu pada persoalan penegakan hukum !.
Sekalipun penegakan hukum hadir, tidak menjamin fenomena karhutla hilang.

Bila dilihat dari aspek lingkungan hidup, sebagian besar lahan-lahan perizinan  di Riaumerupakan lahan gambut yang masuk dalam kategori lahan gambut ‘dalam’. Secara teori, lahan gambut dengan kategori ‘dalam’, adalah lahan yang sama sekali tidak boleh dikelola atau diterbitkan izin untuk dieksploitir. Hal ini sebagai prinsip alamiah dalam rangka menjaga lahan gambut terhindar dari kekeringan. Jika lahan dalam kategori tersebut dirambah, maka dapat dipastikan gambut di bawahnya akan mengalami kekeringan, dan kasus kebakaran menjadi wajib hukumnya (rentan). Dan apabila terbakar, sudah barang tentu tidak akan dapat dipadamkan, karena yang terbakar bukan kayu atau minyak yang dapat dijinakan oleh air, melainkan gambut dan tanah. Sementara dari sisi objeknya, gambut dan tanah jika terbakar, maka yang muncul bukanlah api yang menyala melainkan kepulan awan asap berkadar karbondioksida yang tidak akan berhenti sebelum datangnya hujan dengan intensintas tinggi dan terus menerus, atau bila areal gambut yang terbakar tersebut habis.

 

 


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Zunnur Roin
Sabtu, 19 Maret 2016 00:26 wib
Baca , Diskusi, Aksi !!!
Iin
Selasa, 15 Maret 2016 09:49 wib
daripada demo ga jelas, mending buat opini kaya gini
Christanto
Selasa, 15 Maret 2016 09:48 wib
Mahasiswa sekarang semakin memiliki opini yang baik terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya....
Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru