riau24 Penguatan Stok Beras
Sabtu, 16 Desember 2017

Opini

Penguatan Stok Beras

0
Ilustrasi
Penguatan Stok Beras

Selama beberapa tahun terakhir kondisi stok beras pemerintah begitu mengkhawatirkan. Padahal, stok beras yang dikuasai pemerintah selalu menjadi tolok ukur kondisi ketahanan pangan Republik ini. Implikasi kenyataan ini adalah pertaruhan kedaulatan dan ketahanan pangan bangsa, melalui kebijakan-kebijakan yang bersifat ad hoc.

Pengalaman empiris tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kegagalan pemenuhan target pengadaan gabah/beras oleh Perum Bulog selalu menimbulkan kegaduhan. Nyaris tidak ada upaya yang benar-benar terencana agar kegaduhan tidak terulang. Ujung-ujungnya juga selalu sama: kondisi kekurangan stok beras yang dikuasai pemerintah selalu menjadi justifikasi untuk "panen" beras di pelabuhan (baca: impor).

Target tak tercapai Kita tentu masih ingat, betapa gaduhnya masalah beras sepanjang tahun 2015. Target pengadaan gabah/beras yang dipatok pemerintah 2,7 juta ton setara beras, hingga akhir Mei baru terealisasi 700.000 ton setara beras. Padahal, panen musim rendeng merupakan tumpuan bagi Bulog dalam pengadaan gabah/beras60 persen dari target setahun. Kondisi itu menimbulkan kepanikan pemerintah.
Seperti biasanya, selalu dicari kambing hitam jika terjadi kegagalan. Direktur Utama Bulog Lenny Sugihat dicopot dari jabatan yang baru diemban seumur jagung karena dianggap sebagai sosok paling bertanggung jawab. Namun, banyak pengamat berpendapat siapa pun dirutnya, target pengadaan gabah/beras semester pertama tersebut sangat sulit direalisasikan Bulog. Penyebab utama adalah molornya penandatanganan payung hukum pengadaan gabah/beras. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah baru ditandatangani 17 Maret 2015, atau saat puncak panen musim rendeng hampir berlalu. Padahal, mekanisme pembelian gabah oleh Bulog kepada petani harus melalui proses yang rumit dan dengantime lag yang panjang pula.

Seperti diketahui selama ini Bulog tidak membeli gabah/beras langsung kepada petani, tetapi melalui mitra-mitra Bulog yang notabene adalah lembaga profit oriented. Maka, yang terjadi adalah hari terus berganti, padi di sawah kian menguning, dan perut petani beserta keluarganya tak kuat lagi menanti.
Ketika Bulog bersiap-siap, panen raya padi sudah berlalu, gabah para petani sudah dibeli para tengkulak dengan harga relatif murah. Kegaduhan di ruang publik terus berlanjut hingga penghujung 2015 dengan intensitas makin memuncak. Orkestrasi penyelenggaraan pemerintah bahkan sempat mengalami disharmoni saat Wakil Presiden Jusuf Kalla melontarkan pernyataan bahwa pemerintah akan mengimpor 1,5 juta tonberas dari Thailand. Pernyataan itu buru- buru dibantah Presiden Joko Widodo.
Namun, belakangan publik dibuat tercengang saat pemerintah menjilat ludahnya. Media gencar memberitakan banjirnya beras impor di sejumlah daerah di Tanah Air. Jemput bola Pengalaman empiris telah menunjukkan, harga gabah petani selalu jatuh saat puncak panen musim rendeng. Kenyataannya, meski panen raya musim ini belum mencapai puncak, tren penurunan harga gabah/beras di sejumlah daerah sentra produksi sudah terjadi signifikan. Mengingat proporsi panen musim rendeng nasional mencakup lebih dari 60 persen panenan dalam setahun, maka Bulog harus memaksimalkan pengadaan pada musim panen ini.

Sebagai anggaran pelayanan publik (PSO), tahun ini Bulog menerima penugasan pemerintah untuk menyerap gabah/beras petani 3,9 juta ton. Terdiri atas pengadaan lewat jalur PSO 3,2 juta ton dan jalur komersial 700.000 ton. Bulog tidak boleh lagi ketinggalan kereta, apalagi jadi justifikasi kebijakan impor beras yang kental dengan nuansa perburuan rente. Bulog harus sigap melakukan tugasnya dalam menyerap gabah petani, tidak lagi mengandalkan pengadaan oleh mitra-mitra Bulog yang hanya memperpanjang mata rantai perdagangan. Bulog harus menjemput bola, memperbanyak dan memaksimalkan kinerja satuan tugas pengadaan pada unit pengolahan gabah dan beras (UPGB). Perlu dijalin kerja sama dengan kelompok tani, gabungan kelompok tani, serta lembaga ekonomi pedesaan lainnya. Upaya ini diharapkan mampu memperpendek mata rantai penjualan gabah/beras sehingga lebih menguntungkan petani. Bagi para petani, panen musim rendeng merupakan panen paling menyulitkan. Hal ini terjadi karena panen berlangsung saat curah hujan masih cukup tinggi. Pada kondisi cuaca seperti itu intensitas sinar matahari yang menjadi andalan petani dalam pengeringan gabah sangat kurang sehingga pengeringan menjadi sangat krusial.


 


Bagikan :
Sumber:
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru