riau24 Mengapa Bung Karno 'Takluk' di Wisma Yaso?
Minggu, 17 Desember 2017

Opini

Mengapa Bung Karno 'Takluk' di Wisma Yaso?

0
Bung Karno
Mengapa Bung Karno 'Takluk' di Wisma Yaso?

”...the mouth of a wise man is in his heart.” (BenjaminFranklin)

Pada Maret 1966, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) keluar. Supersemar laksana pengabsahan bagi Soeharto untuk melakukan pengabaian terhadap sang presiden.

Pada 12 Maret 1967, MPR mengadakan Sidang Istimewa yang menunjuk Soeharto sebagai pejabat presiden. Menyusul penunjukanitu, Presiden Soekarno yang akrab disapa Bung Karno sudah harus angkat kaki dari Istana Negara.

Bung Karno diasingkan sesaat di Istana Bogor, dan tak lama kemudian menetap di Wisma Yaso di kawasan Gatot Subroto, Jakarta.

Sejak turun dari singgasananya, kehidupan Bung Karno di Wisma Yaso begitu nelangsa. Sakit fisik, tekanan batin, dan terkucil dari kehidupan sosial. Pertanyaannya, mengapa Bung Karno tidak mendobrak gerbang Wisma Yaso? Mengapa ia tidak melawan rezim Soeharto yang diyakini banyak kalangan sebagai otak pengasingan Sang
Proklamator itu?

Persatuan Bangsa.

Sekian sejarawan meyakini Bung Karno sesungguhnya masih memiliki kemampuan untuk
melakukan perlawanan. Ada kisah tentang aksi evakuasi yang dilancarkan oleh sebuah tim elite militer guna membebaskan Bung Karno, namun justru Pemimpin Besar Revolusi itu sendiri yang menolaknya.

Ketentaraan juga disebut-sebut masih menunjukkan kepatuhan dan kesiapan mereka untuk mengeluarkan Bung Karno dari situasi yang menyakitkan di Wisma Yaso.

Namun, Bung Karno juga tidak memberikan aba-aba untuk itu. Beberapa penulis sejarah menilai, Bung Karno memilih untuk bertahan melalui masa senjanya dengan sedemikian getir guna mencegah baku bunuh sesama anak bangsa.

Asumsi tersebut masuk akal. Karena selaku orang yang sudah membubuhkan tanda tangannya selaku ”atas nama bangsa Indonesia”, tentu sangat ironis jika Bung Karno pula yang menekan tombol meletusnya senjata api dari dua kubu. Komitmen demi satu Indonesia itu juga tercermin pada penolakan Bung Karno untuk menghentikan impian utopisnya tentang penyatuan kelompok nasionalis, agama, dan komunis—terlepas apakah penolakan itu dilatari oleh alasan ideologis atau lebih untuk menyelamatkan reputasinyapribadi. Begitulah spekulasi pertama.

Perlawanan dalam Diam.

Kemungkinan Kedua. Berangkat dari pemahaman akan watak Bung Karno yang pantang ditantang. Bertahannya Bung Karno di Wisma Yaso dipandang mirip dengan taji yang Bung Karno pertontonkan. Antara lain, saat ia diancam oleh Sukarni dan kawan-kawan (dalam peristiwa Rengasdengklok) pada
hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Suatu malam pada Agustus 1945 para pemuda yang sudah kehilangan kesabaran mendesak Bung Karno untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno menolak. Dua kepala mendidih. Bung Karno bersikukuh, sampai kemudian menyodorkan lehernya ke lawan bicaranya yangia anggap mengancam membunuhnya dengan badik.

Persoalannya, benarkah Bung Karno sama sekali tidak pernah menunjukkan perilaku lemah di hadapan lawan? Bung Karno bisa tetap kokoh ditodongsenjata. Dipenjara pun tidak membuatnya rapuh. Tapi, Bung Karno akui ia sangat tersiksa oleh hukuman berupa pengasingan.

Terdapat catatan bahwa saat diinternir di Ende misalnya, Bung Karno mengiba-iba kepada Pemerintah Belanda agar dipindah dari lokasi pembuangannya di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Inggit, istri kedua Bung Karno, menolak mentah-mentah kemungkinan bahwa Bung Karno pernah memosisikan diri sedemikian rendah di depan pemerintah kolonial.

”Pamali!” tegas Inggit.

Apabila catatan di atas benar adanya, masuk akal untuk menduga bahwa pengisolasian yang diberlakukan rezim Orde Baru juga memunculkan penderitaan tak terperi pada diri Bung Karno.

 


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru