riau24 Urgensi Rehabilitasi Teroris
Selasa, 12 Desember 2017

Opini

Urgensi Rehabilitasi Teroris

0
Urgensi Rehabilitasi Teroris

AKSI-aksi terorisme di Indonesia, meski telah diberantas dengan berbagai macam cara, tampaknya masih tetap belum maksimal. Bak sedang bermain petak umpet, para pelaku terorisme seolah hilang dari bumi saat aparat keamanan menggerebeknya.

Namun, ketika situasi dan kondisi negara sedang adem ayem, tiba-tiba publik dikejutkan dengan aksi-aksi mereka yang bahkan dilakukan di tempat yang tidak terduga sama sekali, seperti peledakan bom di dekat kantor polisi.

Terlepas dari silang pendapat di antara sejumlah kalangan tentang keberadaan kaum teroris di negeri ini, antara yang berpandangan sebagai fenomena riil dan sekadar rekayasa pemerintah, berbagai aksi kekerasan yang khas dilakukan kaum teroris seperti bom bunuh diri mengindikasikan dengan jelas bahwa mereka benar-benar ada di sini.

Pertanyaannya adalah mengapa mereka seolah tidak pernah terkikis habis dari bumi Indonesia? Seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu, demikianlah kehidupan mereka di republik ini.

Dengan banyaknya kaum teroris di Indonesia yang seolah tidak akan pernah habis, sementara upaya-upaya penanggulangan terorisme selama ini sepertinya belum menunjukkan keefektifannya, mungkinkah sudah saatnya sekarang dibentuk semacam lembaga yang khusus menangani para teroris tersebut? Sebut saja namanya lembaga rehabilitasi teroris.

Menurut hemat penulis, lembaga rehabilitasi teroris sekarang ini memang sangat diperlukan mengingat kasus terorisme yang terus-menerus terjadi dan tentu akan menjadi ancaman negara. Tetapi, tentu pelaksanaannya, jika benar-benar dibentuk, harus mempertimbangkan beberapa hal.

Pertama, pendekatan rehabilitasi yang diimplementasikannya mesti dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai kalangan yang terkait. Rehabilitasi yang ujung-ujungnya adalah upaya deradikalisasi kaum teroris tidak bisa hanya dilakukan oleh satu kelompok terbatas, misalnya, kaum ulama dan militer atau pemerintah. Namun, harus juga melibatkan kalangan profesional lainnya, seperti psikolog, sosiolog, dan sebagainya sehingga solusi yang dihasilkannya bersifat komprehensif.

Kenyataan di lapangan sering kali memperlihatkan bahwa para pelaku terorisme berasal dari kalangan keluarga yang bermasalah, entah terkait kehidupan rumah tangga yang penuh konflik ataupun kesulitan ekonomi yang membelitnya, atau juga yang labil secara mentalitas. Dalam konteks ini, langkah rehabilitasi dapat melibatkan kalangan psikolog yang paham betul tentang kehidupan psikologi manusia, termasuk para teroris tersebut.

Pada sisi lain, para pelaku terorisme juga kerap ditemukan berasal dari latar belakangan kehidupan sosial yang beragam. Di Indonesia sebagian besar pelaku terorisme, untuk tidak mengatakan semuanya, memiliki latar belakangan kehidupan sosial menengah ke bawah.

Tidak heran kalau kemudian mereka begitu terbata-bata ketika berhadapan dengan kehidupan yang lebih luas sehingga mudah dimasuki ide-ide radikalisme. Dalam situasi seperti ini, keterlibatan kalangan sosiolog sangat diperlukan untuk memahami kondisi mereka.

Kedua, pendekatan kekerasan secara perlahan-lahan seharusnya ditinggalkan oleh pemerintah yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Densus 88. Pendekatan kekerasan hanya tepat dilakukan pada saat penangkapan basah kaum teroris, misalnya, pada saat mereka merencanakan atau melakukan peledakan sebuah tempat atau sarana umum. Namun, setelah itu pendekatan kekerasan termasuk ketika menginterogasi mereka tidak perlu dilakukan lagi.

Kita mesti berkaca pada tindakan pencegahan terorisme yang banyak melibatkan aksi kekerasan, seperti dilakukan Densus 88 selama ini. Ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.


 

Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_mmuc9_3424.jpg
Inhil, Riau24.com - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) dapat lebih proaktif, dalam mencari sumber dana bagi pembangunan pasar terapung yang saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, Minggu 10 Desember 2017.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru