riau24 Harap Cemas kepada Ahok
Senin, 18 Desember 2017

Opini

Harap Cemas kepada Ahok

0
Harap Cemas kepada Ahok
Dulu, ketika penulis masih usia anak-anak, pola bermain dan berbahasa kami memiliki ruang. Ruang ini dibangun di atas nilai-nilai luhur. Anak-anak dengan mudah menjadikan ruang itu sebagai pola bermain dan berbahasa. Cara bertutur antaranggota keluarga sangat berpengaruh terhadap mereka. Karena terbiasa bertutur dengan benar dan baik di dalam keluarga, lingkungan jadi ruang besar pengejawantahan nilai keluarga di luar ruangan.

Di sekolah, jalan, warung, pasar, sungai, di pos-pos RT dan RW, serta di banyak tempat bertemu para anggota masyarakat, lebih-lebih di rumah-rumah ibadah, kita akan temukan pola berbahasa dalam pergaulan berjalan dengan baik dan benar. Penggunaan cara berbahasa yang benar dan baik, berkontribusi terhadap terjaganya harmoni sosial. Angka kriminalitas rendah, angka perceraian bisa ditekan, angka pertengkaran juga tidak tinggi.

Anak-anak sekarang gemar tawuran karena belajar dari cara berbahasa dan bertutur yang tidak benar. Mereka saling serang secara verbal. Saling caci, saling maki, saling hina, dan saling menyakiti. Ujung-ujungnya bertengkar. Nyawa anak-anak kita melayang sering hanya karena kata-kata kotor. Kita tak bisa berkilah, tidak apa-apa mereka berkata kotor asal pemberani. Alasan yang sangat tidak bisa dibenarkan. Tak apa-apa 'ngomong' kotor asal antikorupsi. Alamak!  

Dulu, para guru yang berdiri di depan kelas, kehadirannya terasa ada di mana-mana. Sikap anak didik di luar sekolah, mudah terpantau karena jaring pengikat sosial masih kuat. Apa sebab? Salah satunya karena cara bertutur antar anggota masyarakat masih terjaga dengan baik.

Para pemimpin pada setiap tingkatan mengambil peran sangat signifikan. Pak Harto (Soeharto, presiden RI ke-2), dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dikenal sebagai penutur bahasa yang santun. Nyaris selalu tersenyum. Sangat irit kata-kata. Mendelegasikan urusan penjelasan kebijakan pemerintah kepada orang yang bertugas untuk itu.

Kalau dicek di berbagai keterangan, baik di televisi, koran, majalah atau radio, kita akan kesulitan mendapati Pak Harto marah-marah apalagi mengumpat. Bung Karno, meski dikenal orator berkelas internasional, rada flamboyan, menguasai banyak bahasa asing, namun saat bertutur, jauh dari kasar apalagi kotor.

Karena caranya berbahasa baik dan menyenangkan, pidato Bung Karno selalu menyentuh dinding terdalam kesadaran bangsanya. Kalau tidak karena itu, Bung Karno diragukan tak akan berhasil mempersatukan bangsa yang “Bhinneka Tunggal Ika”. Bahasa pula yang mengantarkan kita bersatu pada masa-masa awal perjuangan mendirikan negeri tercinta. Maka lahirlah Soempah Pemoeda. Sumpah tentang bagaimana berbahasa dengan baik.



Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru