riau24 Global Security 2016 dan Nihilisme Tentara
Jumat, 15 Desember 2017

Opini

Global Security 2016 dan Nihilisme Tentara

0
Global Security 2016 dan Nihilisme Tentara

GLOBAL Security (Globsec) Forum 2016 di Bratislava pekan lalu membawa sejarah baru untuk Indonesia. Dalam forum keamanan dan pertahanan dunia yang menjadi salah satu security icon terbesar di Eropa Tengah ini membuat saya bangga sekaligus terhenyak akan apa yang sedang dipersiapkan dunia. Yaitu, persiapan menghadapi tantangan pertahanan keamanan serta risiko yang akan dihadapi Indonesia dan kawasan dalam waktu dekat. Globsec kali ini dihadiri sekitar 22 pemimpin negara, baik presiden maupun perdana menteri. Kegiatan ini juga dihadiri 800 peserta terpilih, melalui undangan yang sangat ketat dan khusus.

Sejumlah pembicara ternama mengisi kegiatan itu seperti mantan US Secretary of State Madeline Albright, Menteri Pertahanan Jerman Ursula Von der Leyen, Jenderal Peter Pavel Chairman dari NATO Military Committee, dan James Townsend selaku deputi sekjen untuk Eropa dan NATO dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat. Isu utama yang dibahas adalah tantangan dan ancaman dunia terkini terkait ekonomi, energi, terorisme, radikalisme, cyber-space, dan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).

Dibahas pula mengenai gelombang migrasi Suriah dan Timur Tengah yang diakibatkan oleh perang (state and nonstate) yang membawa tekanan politik, penderitaan, kemiskinan, dan isu bagaimana sikap bangsa Eropa berdiri bersama aliansinya dalam menghadapi ancaman yang diistilahkan sebagai "Millenial Paradox". Sangat tersirat pada Globsec kali ini bahwa Millenial Paradox hanya dapat diselesaikan dengan jalan collective defence dari negara yang tergabung pada NATO, Amerika, serta aliansinya.

Mereka yang tergabung dalam collective defense ini sepakat menyebut kelompoknya sebagai "Coalition of the Willing" (COTW). Seharusnya ini membuat kita tersadar bahwa siapa pun di luar kelompok itu akan dianggap sebagai "Coalition of the Non Willing" (COTNW), di mana Indonesia dengan posisi teguh politik luar negerinya sebagai nonalignment nation otomatis termasuk ke dalam kelompok COTNW.

Untuk mencapai tujuannya, kelompok COTW berusaha untuk terus mengolah dan menemukan: Pertama, sistem nilai yang mempersatukan mereka sebagai bangsa "Barat" untuk menghadapi kelompok dan ideologi di luar ”Barat”. Atau, bahkan yang dianggap "membelot" seperti Rusia dengan kebijakan politik serta penyerangannya atas Crimea dan Suriah yang dianggap menjadi ancaman baru dunia. Kedua, bagaimana kelompok COTW terus memperkuat kekuatan ekonomi dengan pertumbuhan yang terkejar. Antara lain dari hasil penggunaan dan penjualan senjata ke belahan dunia yang dianggap tidak aman.

Negara-negara produsen senjata di kelompok COTW ternyata dapat mencapai peningkatan ekonomi negaranya sekitar 40% hingga 50% setiap tahun. Itu artinya, kita dapat memastikan bahwa perang atau konflik akan terus terjadi pada masa mendatang. Tidak mungkin negara produsen senjata dari COTW akan rela berhenti berproduksi sehingga berakibat pada setengah pendapatan ekonominya dan membawa risiko pada APBN mereka.

Di lain sisi, kelompok COTNW termasuk Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk menemukan kembali sistem nilai bangsa, memperkuat tentara dan persenjataan, serta teknologi terkini untuk dapat bertahan dari tuduhan, anggapan, penguasaan ataupun serangan kelompok COTW.

Mengapa demikian? Karena, kelompok COTW sangat meyakini bahwa semua ancaman di atas utamanya ISIS, cyber-space, terorisme, dan radikalisme adalah ”frontline of war” mereka. Sehingga, semua tantangan dan tanggung jawabnya harus terbagi pada negara COTW dalam sebuah cetak biru ”collective programme”.

Pertanyaannya, badan apa di dunia ini yang dapat menjalankan program kolektif secara fair dan atas perintah siapa? Lalu, bagaimana dengan kondisi ketidak-seimbangan negara-negara dunia dalam kapabilitas dan kapasitas militernya? Karena dampak akan ada keyakinan atas frontline of war bagi negara-negara COTW, itu berarti setiap kejadian atau bencana yang dianggap membahayakan kelompok tersebut akan membuat negara-negara berdaulat lainnya di dalam kelompok COTNW suatu ketika harus rela kehilangan kemandirian dan kedaulatannya. Untuk kemudian di-take over (diambil alih) oleh negara yang tergabung dalam COTW.


Bagikan :
Sumber:
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_e3zes_3426.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), HM Wardan mengikuti prosesi pelepasan pawai ta'aruf sebagai awal dimulainya  serangkaian kegiatan dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Ke - 36 Provinsi Riau di Kota Dumai, Minggu 10 Desember 2017.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru