riau24 Tabiat Buruk "Emosi Tak Sadar"
Kamis, 14 Desember 2017

Opini

Tabiat Buruk "Emosi Tak Sadar"

0
Ilustrasi
Tabiat Buruk
DALAM masyarakat awam, emosi dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Ini karena masyarakat telanjur memahami bahwa emosi identik dengan ungkapan kebahagiaan yang meluap-luap, suara keras, bentak membentak, amarah yang meledak-ledak, ucapan kasar, hingga umpat-mengumpat dan caci maki. 

Makanya tak jarang, ketika kita menjumpai seseorang yang sedang marah-marah, spontan kita menasihati yang bersangkutan dengan ucapan "tenang ya yang sabar, dan jangan terbawa emosi, emosi itu tak baik". Pandangan tersebut tidaklah keliru, tapi juga tidak merupakan sebuah pemahaman yang lengkap tentang hakikat emosi seutuhnya. 

Dengan semakin berkembangnya ilmu tentang otak, tabir gelap emosi yang selama ini dikenal sebatas sebuah reaksi terhadap kejadian tertentu, perlahan mulai tersingkap. Jika selama ini kita memahami emosi sebagai suatu reaksi yang di sadari, ternyata tidak demikian. Studi terbaru menyatakan bahwa mayoritas emosi terjadi melalui proses yang tidak melibatkan dimensi kesadaran otak manusia. 

Anatomi Emosi  
Emosi "dihasilkan" oleh sistem limbik yang terdapat dalam otak. Dalam sudut pandang evolusi, sistem limbik merupakan bagian otak mamalia yang lebih tua dan bertanggung jawab atas cara binatang mengungkapkan dan merasakan emosinya. 

Setiap informasi diterima tubuh melalui alat indra, akan diteruskan ke sistem ini. Selanjutnya, informasi berupa impuls tersebut akan diteruskan ke bagian otak yang disebut korteks untuk dipersepsikan dan diinterpretasikan secara sadar. Selain itu juga, informasi (berupa impuls) yang diterima sistem limbik, akan mengaktifkan struktur sistem limbik yang lain seperti hippokampus yang berkaitan dengan memori dan ingatan, amygdala yang berkaitan dengan derajat intensitas emosi, serta bagian lain seperti hipotalamus, thalamus, corpus callosum, stria terminalis, dan korteks singulata. 

Struktur sistem limbik sendiri berada pada bagian otak tengah, dan terletak pada bagian bawah korteks. Pada manusia, struktur ini terkoneksi dengan banyak bagian otak kortikal. Inilah sebabnya mengapa struktur ini terhubung dengan area korteks otak yang bertanggung jawab atas dimensi kesadaran manusia. 

Adanya koneksitas ini memungkinkan manusia bisa merasakan dan mengendalikan emosi secara sadar. Itulah mengapa pada pribadi-pribadi yang matang dan mapan, sekuat apa pun dorongan emosi yang dirasakan, mampu mereka kendalikan dan ekspresikan secara santun. Hal ini karena mereka mampu mengenali, merasakan, dan mengendalikan dorongan emosi yang mereka alami secara sadar melalui peran korteks sensorik dan hippokampus yang berkaitan dengan persepsi, memori, dan ingatan. 

Semakin berkualitas deposit memori dan ingatan (berupa nilai, budaya, pengetahuan, agama) yang disimpan oleh hippokampus, semakin berkualitas juga kontrol kesadaran atas dorongan emosi yang dihasilkan. Orang cerdas tidak akan mengekspresikan emosi mereka secara membabi buta, tak peduli seberapa besar impuls emosi yang dihasilkan oleh sistem limbik. Sebaliknya dengan kecerdasan dan kesadaran mereka, dorongan emosi tersebut akan mereka ekspresikan secara santun dan halus. 

Bagikan :
Sumber:
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_sde4m_3406.jpg
Inhil, Riau24.com - Puluhan pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) dan Dewan Pimpinan Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pulau Burung berikrar untuk senantiasa berupaya mencapai tujuan dan mematuhi peraturan organisasi yang berlaku.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru