riau24 Inspirasi dan Solusi Islam Nusantara
Selasa, 19 Desember 2017

Menyambut International Summit Of The Moderate Islamic Leader

Inspirasi dan Solusi Islam Nusantara

0
Inspirasi dan Solusi Islam Nusantara
IBNU Khordabeh, seorang sejarawan asal Persia, dalam kitabnya, Al-Masalik Wal Mamalik, mencatat sekaligus memberikan gambaran rinci fakta masyarakat Indonesia/Nusantara zaman dulu. Ibnu Khordabeh menjelaskan masyarakat Nusantara adalah masyarakat yang jujur, santun, terbuka, toleran, kosmopolit, juga beragam dan multikultural.

Menurut catatan Ar-Romahurmuzy dalam Ajayibul Hindi, Islam datang ke Nusantara pada abad ke-7 M. Hari ini banyak kalangan sejarawan mulai menemukan fakta baru bahwa di Barus, Tapanuli Selatan, sudah ada sebuah komunitas muslim yang melakukan aktivitas perdagangan di sana, tapi skalanya masih kecil. Komoditas yang diperdagangkan salah satunya yang paling terkenal: komoditas kapur Barus.

Pada abad ke-7 M tersebut Islam tampaknya kurang bisa berkembang di Nusantara. Baru kemudian setelah era kedatangan Walisongo sekitar abad 13 M, Islam bisa menyebar secara masif dalam waktu yang relatif sangat singkat, 50 tahun. Apa rahasianya?

Pertama, Walisongo sangat memahami esensi dakwah yang sesungguhnya dan seharusnya. Dakwah yang dilakukan Walisongo adalah dakwah dengan jalan pendekatan kebudayaan dan bersifat memberi wejangan. Dakwah yang mengedepankan laku-lampah dan tindakan, bukan semata-mata pemulas bibir ataulips service semata.

Kedua, dakwah yang dilakukan Walisongo bersifat dakwah yang metodik. Walisongo sangat mengerti derajat, tahapan, dan juga gradasi dalam berdakwah. Ketika terjun dan berdakwah ke masyarakat mula-mula Walisongo menggunakan hikmah, kemudian menggunakan nasihat-nasihat yang baik, dan yang terakhir—jika dua cara tersebut masih gagal—yang ditempuh adalah jalur perdebatan. Itu pun dengan catatan harus dilakukan dengan santun dan sopan.

Ketiga, Islam diajarkan sebagai manifestasi dari pesan memberi rahmat kepada seluruh alam (rahmatan lil alamin). Islam bukan semata-mata hanya rahmat bagi manusia, namun lebih dari itu, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam raya seisinya. Kitab-kitab fikih mengajarkan hal itu. Contoh kecil, kita dimakruhkan untuk buang air kecil di lubang-lubang yang ada di tanah. Alasannya? Karena, dikhawatirkan di lubang-lubang tersebut ada hewan yang sedang bersarang. Ini salah satu bukti nyata bahwa Islam itu ramah ekologis dan peduli lingkungan.

Hari ini jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Dari jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan tersebut, jumlah pemeluk agama Islam hari ini mencapai lebih dari 205 juta jiwa. Angka yang sangat luar biasa. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Ada sebuah pertanyaan menggelitik yang laik dijadikan bahan renungan bersama: Andaikan Candi Borobudur ini dibangun di negara-negara Teluk, apakah candi peninggalan agama Hindu tersebut akan bisa terus lestari sebagaimana yang bisa kita jumpai di Indonesia saat ini? Tidak ada jaminan. 

Menjaga Candi Borobudur—meminjam Franz Magnis Suseno (2008)—dibutuhkan kelapangan psikologis juga teologis serta toleransi yang tinggi. Menjaga Candi Borobudur bukan hanya membutuhkan toleransi, namun justru yang utama dibutuhkan adalah sikap menghargai warisan-warisan kebudayaan peninggalan para pendahulu meski itu dibuat dan diwariskan oleh mereka yang berbeda keyakinan. 

Ini bukti bahwa dakwah Islam di Indonesia adalah dakwah yang mengedepankan kompromi terhadap budaya dan kearifan lokal. Corak keislaman di Indonesia adalah corak keislaman yang mengedepankan toleransi dan penghargaan terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

Maka itu, miris dan sangat patut disayangkan sekali jika dengan nonmuslim yang berbeda agama dan keyakinan saja, kita utamanya di Indonesia, bisa saling hidup rukun berdampingan dan saling membantu, mengapa justru dengan sesama muslim yang hanya berbeda mazhab, berbeda pandangan, justru kita perangi?

Sudah saatnya kita mengakhiri era Islam yang dipenuhi citra pertempuran, permusuhan sebagaimana yang terjadi di negara-negara Teluk sampai saat ini. 
Ulama-ulama harus bekerja keras menjalankan—meminjam analisis Said Aqil Siroj (2016)—fungsinya. 

Bagikan :
Sumber:
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_nfrwg_3427.jpg
Inhil, Riau24.com - Bupati Inhil HM Wardan terus melakukan peninjauan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di lapangan, guna memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru