riau24 Sejenak
Selasa, 12 Desember 2017

Karya : Januar Ananta D P

Sejenak

0
Sejenak

Pekanbaru-Riau24.com-Pesawat itu baru saja take off, dengan derung bising mesin yang seolah memberitahu langit bahwa ia akan datang berkunjung, sejenak. Aku memutuskan untuk sejenak pergi keluar kota demi menghadiri pelatihan kepemimpinan yang telah lama ku impikan. “Mari berhenti, kau punya banyak hal untuk diperjuangkan. hari ini contohnya, kau tak ingin membuatnya kecewa untuk kesekian kalinya, kan?” ujarku ketika bertemu diriku yang lain di cermin pagi itu. Iya, berhenti untuk berharap lebih pada sesuatu, apalagi seseorang. Kadang kau hanya butuh luka agar peka dan terinjak untuk menjadi bijak. Aku hanyalah seorang pemimpi, yang selalu percaya nasihat ayaku bahwa sehebat apa pun impianmu, ia selalu layak untuk diperjuangkan. Kadang kau hanya perlu rentetan kekalahan untuk belajar kehidupan.

Acara itu dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari universitas lain seolah sama-sama ingin menunjukkan kedigdayaan mereka. Sebuah video mengenai perjuangan awal tentang semua orang yang duduk di sebelahku diputar, tanda dimulainya semua kisah ini. Senyum ku, yang biasanya tak pernah terlihat, lepas tanpa aturan pada scene dimana seorang dengan tatapan hangat memperkenalkan diri. Iya, tatapan itu berhasil mendiamkan sejenak gravitasi. Sesaat kemudian, semua orang di dalam ruangan berdiri untuk mencari satu sama lain sesuai dengan nama yang ada di daftar kelompok mereka. Mata ini seolah bergerak sendiri, diam-diam, mencari tatapnya diantara lalu lalang seolah tak peduli apa yang harusnya aku lakukan.

Hari itu, semesta seolah bersatu mendukung untuk memberi ku sebuah kesempatan.

“Wah, ternyata ia berada dalam daftar kelompok ku”, batinku dalam hati.

Sebuah percakapan pertama, formalitas belaka tentunya, dimulai dengan menyebut nama dan asal universitas/institut tempat mereka belajar. Tentu saja, aku hanya menunggu ia memperkenalkan diri. Terkadang, kau hanya harus menanti semua jawaban itu datang sendirinya. Tak semua orang punya kemampuan yang baik untuk bicara dengan baik di depan seorang yang ia kagumi. Aku jelas sama sekali tak punya hal itu. Iya, semua pendiam kadang hanya disuruh menahan diri oleh takdir, walau ia punya kesempatan untuk bicara.

Tatapannya menyuruhku ikut bicara. Sayangnya lidahku kelu. Hampir tak mampu berucap sepatah kata pun.

“Hei, kau yang sedang bicara dengan orang lain sambil menatap ku sesering yang kutangkap!”

“Alihkan pandanganmu segera, tak kuat ku melihatnya terlalu lama.”

Semua perkataan tersebut tentu saja semu, mana mungkin aku berani ber-kode sekeras itu.

Perkenalan itu akhirnya mau tak mau terjadi ketika kau membutuhkan koneksi internet untuk mencari data untuk kelompok.

“Hei, bisa kah kau membantu ku?”, beberapa kata pembuka yang membuat ku sejenak berani beranjak dari diam. Iya, akhirnya kesempatan itu datang juga. Percapakan sangat singkat itu hampir saja berakhir ketika aku memberinya password untuk menggunakan koneksi milikku, nama belakang ku. Keberanian untuk memulai sesuatu mungkin memang salah satu hal yang sulit untuk dilakukan, termasuk mulai untuk mengenal seseorang. Iya, akhirnya aku pun memberikan nama ku, tanda percakapan singkat itu sudah usai.

Sebuah perkenalan terkadang hanya menjadi klise dalam hidup ku. Hanya segelintir orang yang pada akhirnya akan tetap mengenaliku, terlepas dari bagaimana momen perkenalan tersebut bisa terjadi. Aku hanya memaknai pertemuan singkat itu dengan sangat, sama sekali tak berharap lebih. Iya, tak seperti manusia pada umumnya, aku terlahir dari seorang guru ngaji di desa. Beliau pernah menasihatiku sekali, berhenti dan janganlah terus mencari tulang rusuk, apabila cintamu kepada Sang Pencipta rusuk masih saja belum sampai. Beliau selalu mengingatkan ku, sebagai anak pertama, untuk menjadi seorang pemberi teladan dan menjadi inspirasi bagi kedua adikku sekaligus semua orang disekitar ku. Tak hanya kedua orang tua ku tentunya, kakek ku juga pernah berkata, seorang pemimpin adalah seorang yang sudah selesai dengan dirinya.

Sesaat sebelum senja menyapa, ia berada di sebelah ku saat makan. Saat itu ia malah menanyakan kediaman ku dan tampak tak puas saat aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Mungkin aku tak kan pernah tau apakah ia sengaja salah menyebut jurusanku, tapi yang pasti, akhirnya aku angkat bicara untuk menyalahkan nya.

Hanya ingin mendengar suaraku, katanya.

Kakiku sudah lelah untuk sengaja lari, dan aku tak memintamu untuk mencari. Aku hanya merasa perlu berhenti, rehat, selamanya atau esok mulai lagi. Aku bertemu denganmu dalam satu keadaan yang tak pernah jadi rencanaku, tapi rencana Tuhan selalu lebih hebat. Barangkali kau memang rencana Tuhan untukku, atau mungkin semesta sedang bercanda. Tak ada yang pernah tau. Hanya saja, terima kasih telah mengingat namaku. Itu saja.

Mungkin Tuhan tidak sedang menitipkan harapan pada nasib dan masa depan, tetapi pada tiap momen kini dalam hidup.

Sejenak tapi indah, misalnya.

TAMAT

R24/efk/tumblr


Bagikan :
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_mmuc9_3424.jpg
Inhil, Riau24.com - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) dapat lebih proaktif, dalam mencari sumber dana bagi pembangunan pasar terapung yang saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, Minggu 10 Desember 2017.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru