riau24 Gereja Tugu, Peninggalan Sejarah Portugis di Jakarta Utara
Kamis, 14 Desember 2017

Wisata

Gereja Tugu, Peninggalan Sejarah Portugis di Jakarta Utara

0
Gereja Tugu, Peninggalan Sejarah Portugis di Jakarta Utara

Jakarta, Riau24.com - Selain Belanda, bangsa Portugis juga pernah datang dan meninggalkan warisan sejarah di Batavia. Salah satu peninggalannya adalah Gereja Tugu di Jakarta Utara.

Sejarahnya, Gereja Tugu merupakan salah satu yang yang tertua sekaligus peninggalan Portugis yang masih ada.

"Salah satu, yang tertua ada di Kota Batavia, dulu Gereja Salib Putih. Dulu itu gereja yang sekarang jadi Museum Wayang. Kalau ini kan baru 1661 mereka ke sini bikin gereja. Masih Katolik waktu itu, tapi termasuk gereja-gereja tertua," terang salah satu pemandu dari Jakarta Food Adventure, Adjie Hadipriawan.

Menariknya, ada papan penanda persis di depan Gereja Tugu yang menuliskan tahun 1748. Usut punya usut, ternyata dahulu orang Portugis yang dibawa sebagai tahanan oleh Belanda dari Malaka melakukan ibadah di Gereja Sion yang berada di daerah kota.

Namun karena merasa tidak bebas di bawah Belanda, para leluhur orang Tugu pun melarikan diri ke Kampung Tugu yang dahulu masih hutan dan rawa. Atas inisiatif dari Pendeta Melchior Leydecker, dibangunlah gereja pertama di sana pada tahun 1678 yang konon berlokasi di Gereja HKI Tanjung Priok yang berada tidak jauh.

Namun karena faktor usia, perlahan bangunan itu rusak di digantikan oleh Gereja Tugu yang ada kini. Namun pada tahun 1740, bangunan Gereja Tugu mengalami pengrusakan saat pemberontakan etnis Tionghoa.

"Pas tahun 1700 ada pemberontakan orang Tionghoa dan sempat dibakar," tambah salah satu pemandu JFA, Ira Lathief.

Barulah pada tahun 1744, Gereja Tugu dibangun kembali dan selesai pada tahun 29 Juli 1747. Setelah selesai, Gereja Tugu diresmikan pada tanggal 27 Juli 1748 oleh pendeta J.M. Mohr. Sama seperti tahun yang ada di depan Gereja Tugu.

Uniknya, ada sejumlah peninggalan sejarah di Gereja Tugu yang tidak berubah dan masih ada hingga kini. Contohnya seperti piala yang digunakan untuk misa, mimbar hingga engsel pintu yang tidak berubah.

"Ini salah satu peninggalan Portugis yang dibawa dari Roma, piala untuk misa, meja kayu itu masih asli, engsel pintu yang ada dibelakang itu juga masih peninggalan portugis," terang Brengki.

Tepat di samping Gereja Tugu, traveler juga dapat melihat lonceng gereja yang masih ada dari dulu. Hanya saja lonceng aslinya disimpan di ruang samping gereja dan digantikan oleh replikanya. Sejumlah makam keturunan Portugis juga masih dapat dijumpai di halaman gereja.

Sekiranya Gereja Tugu tetap bertahan dibalik gempuran kendaraan kontainer yang sehari-hari melewatinya. Geliat industri memang jauh lebih terlihat ketimbang keberadaan Gereja Tugu sebagai situs cagar budaya peninggalan Portugis di Jakarta Utara.


R24/dev 


Bagikan :
Sumber:
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Komentar Anda

Nama :
Komentar :
     
riau24_sde4m_3406.jpg
Inhil, Riau24.com - Puluhan pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) dan Dewan Pimpinan Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pulau Burung berikrar untuk senantiasa berupaya mencapai tujuan dan mematuhi peraturan organisasi yang berlaku.
loading...
  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru