riau24

Walah, Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia Dituding Kuliah di Kampus Abal-abal

Jumat, 08 Februari 2019 | 00:22 WIB
Pusat pemerintah Malaysia di kawasan Putra Jaya (ilustrasi, int) Pusat pemerintah Malaysia di kawasan Putra Jaya (ilustrasi, int)

RIAU24.COM -  Sorotan tengah tertuju kepada Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia, Marzuki Yahya. Hal itu setelah ia dituding kelompok oposisi Malaysia, Barisan Nasional, Marzuki telah berbohong soal latar belakang pendidikannya.

Dalam profilnya di laman situs Wikipedia, tercantum bahwa Marzuki Yahya adalah lulusan Universitas Cambridge, Inggris. Namun hal itu malah membuat Marzuki diduga berbohong, karena ia diduga tidak kuliah di kampus tersebut.

Seperti dilansir AFP, Kamis 7 Februari 2019, sorotan paling keras datang dari Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO). Ketua Gerakan Pemuda UMNO, Asyraf Wajdi Dusuki, bahkan mendesak Marzuki mundur dari jabatannya saat ini.



BACA JUGA : Terbang Dekat Wilayah Jepang, Pesawat Pembom Rusia Langsung Dicegat Jet Tempur

"Bagaimana Anda mengklaim memerangi korupsi dan mendukung pemerintahan yang bersih serta beretika, sementara Anda membohongi rakyat dengan gelar palsu?," ujarnya, dilansir cnnindonesia.com.

Belakangan, setelah dikritik melalui media sosial, Yahya mengakui dia memang tidak pernah kuliah di kampus ternama Inggris itu. Namun, dia menempuh pendidikan di Amerika Serikat.

"Saya pikir mereka salah paham. Saya kuliah di Universitas Internasional Cambridge di AS," terang anggota Partai Bersatu itu.



BACA JUGA : Angkatan Laut AS Pesan 4 Kapal Selam Robot Raksasa dari Boeing Seharga USD43

Meski begitu, kelompok oposisi juga mempertanyakan kredibilitas kampus tempat Yahya menempuh pendidikan. Bahkan sebagian besar menganggap lembaga pendidikan itu abal-abal.

Dalam situs resminya, Universitas Internasional Cambridge menyatakan mereka tidak terakreditasi oleh Kementerian Pendidikan AS. Namun, kampus ini membuka 150 jurusan.
Ketika dikonfirmasi soal latar pendidikan Yahya, kampus itu belum memberikan komentar. Jika hal ini benar, maka bakal berdampak terhadap popularitas pemerintahan Mahathir dan kelompok Pakatan Harapan. ***

 

PenulisR24/wan


Loading...

loading...