riau24

Masih Banyak Muslim Uighur yang Ditahan, Turki Minta Cina Tutup Kamp di Xinjiang

Minggu, 10 Februari 2019 | 23:30 WIB
Aksi kekerasan yang dialami kaum perempuan muslimah Uighur dari tentara China. Foto: int Aksi kekerasan yang dialami kaum perempuan muslimah Uighur dari tentara China. Foto: int

RIAU24.COM -  Hingga saat ini, jutaan kaum muslim Uighur masih ditahan Pemerintah China dalam kamp pengasian di Xinjiang. Protes pun terus berdatangan. Salah satunya, dilontarkan Turki. Dalam hal ini, Pemerintah China diminta menutup kamp yang sudah kerap mengundang kontroversial dari dunia internasional tersebut.

Hal itu dilontarkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy. "Kami mengundang pihak berwenang Cina untuk menghargai hak asasi fundamental Turki Uighur dan menutup kamp sementara, kami meminta masyarakat internasional dan Sekretaris Jendral PBB untuk mengambil langkah efektif demi mengakhiri tragedi kemanusiaan di Xinjiang," ujarnya, dalam pernyataan diunggah di situs resmi Kementerian Luar Negeri Turki, seperti dilansir di Sputnik, Minggu 10 Februari 2019.



BACA JUGA : Terbang Dekat Wilayah Jepang, Pesawat Pembom Rusia Langsung Dicegat Jet Tempur

PBB menyatakan sekitar 1 juta warga minoritas muslim Uighur ditahan di kamp 'program edukasi'. Namun Pemerintah China berdalih kamp tersebut sebagai bentuk upaya mereka menangkal dan memerangi terorisme dan radikalisme.

Dalam beberapa kesempatan, Beijing juga sempat membantah adanya 'kamp re-edukasi' tersebut. Mereka kerap menegaskan Cina tetap mematuhi Konvensi Internasional dalam Mengeliminasi Segala Bentuk Diskriminasi Rasial.

Dilansir republika.co.id, penelitian Adrian Zenz dari European School of Culture and Theology menunjukan betapa menakutkan dan besarnya jumlah muslim Uighur yang ditahan dalam kamp pengasingan tersebut.

Bukti tentang keberadaan kamp pengasingan ini juga diperkuat pengakuan para pengelana independen yang berhasil masuk ke Xinjiang. Pengakuan mereka sangat mengejutkan, karena mereka menyebutkan tidak melihat muslim Uighur yang berusia antara 15 sampai 45 tahun di jalan-jalan di daerah itu. ***

 

PenulisR24/wan


Loading...

loading...