riau24

Jokowi Kaget Harga Tiket Naik, Rocky Gerung Beri Komentar Menohok

Rabu, 13 Februari 2019 | 09:13 WIB
Pengamat Politik, Rocky Gerung Pengamat Politik, Rocky Gerung

RIAU24.COM - Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kaget soal harga tiket pesawat yang hingga saat ini masih mahal. Menurut Jokowi, dia juga baru tahu bahwa harga avtur dimonopoli oleh Pertamina sendiri.

Pengamat politik, Rocky Gerung mengkritik tentang pernyataan Jokowi tersbeut. Dia mengatakan bahwa banyaknya kekacauan yang terjadi di Indonesia hanya karena ketidakpahaman terhadap dalil-dalil dasar bernegara.

Yang dimaksud oleh Rocky Gerung itu salah satunya adalah tentang sikap Presiden Joko Widodo karena ketidaktahuannya jika Pertamina selama ini memonopoli harga avtur di bandara.



BACA JUGA : Diduga Lakukan SARA, Romy Bandingkan Agama Jokowi Dengan Prabowo

"Presiden kaget kenapa harga tiket (pesawat) naik, ngapain kaget? Negara itu adalah pemegang saham Pertamina. Kok kaget bahwa Pertamina memonopoli perdagangan avtur?" kata Rocky yang dilansir dari viva.co.id, Rabu, 13 Februari 2019 pada saat di acara Indonesia Lawyers Club atau ILC di tvOne.

Kata dia, sikap presiden seperti itu akan membuat masyarakat berpikir jika Presiden tidak mengerti hierarki perundang-undangan yang ada.

"Kan orang jadinya berpikir, ini presiden tidak ngerti hierarki perundang-undangan apa. kenapa dia mesti kaget," ujar Rocky.

Dia berkesimpulan, dengan banyaknya hal yang dipertontonkan ketika tahun politik atau tahun pergantian kekuasaan ini, Sikap arogansi yang ditunjukkan oleh Jokowi belakangan ini yang juga menjadi sorotan.

"Nah mental hukum seperti ini yang selalu saya kritik. saya mengkritik mental hukumnya ya," lanjutnya lagi. 

Dia menekankan, jika sikap arogansi Jokowi tentang merespons banyak isu tidak menunjukkan sikap toleransi sebagaimana yang sering disampaikan.



BACA JUGA : Baru Saja Hirup Udara Bebas, Adik Abu Bakar Ba'asyir Wafat

"Cara Presiden Jokowi bereaksi akhir-akhir ini betul-betul memperlihatkan arogansi. Marah-marah, kemarin berupaya untuk memperlihatkan tubuh kekuasaan bukan tubuh kenegarawanan," paparnya. 

"Dan itu membuat orang khawatir apa benar demokrasi kita berjalan kalau cara pemimpin mengorganisir tubuhnya sendiri itu memperlihatkan arogansi bukan toleransi," tuturnya.

PenulisR24/ibl


Loading...

loading...