riau24

Dua Tahun Kasus Novel Baswedan, Janji Jokowi Bentuk TGPF cuma PHP, Begini Alasannya

Kamis, 11 April 2019 | 09:56 WIB
Novel Baswedan Novel Baswedan

RIAU24.COM -  Hari ini, genap dua tahun penyidik KPK Novel Baswedan saat disiram air keras oleh orang tak dikenal, 11 April 2017 silam. Meski sudah dua tahun berlalu sejak teror tersebut, pelakunya belum juga tertangkap.

Janji petinggi kepolisian hingga Presiden Jokowi untuk menuntaskan kasus ini nyatanya semu belaka. Perhatian itu tak diikuti langkah konkret penanganan kasus yang cepat dari kepolisian.

Bila terus bersikap pasif atas aspirasi tersebut, bukan tak mungkin para pemilih akan semakin meragukan komitmen Jokowi dan pemerintahannya dalam pemberantasan korupsi dan penguatan KPK.

"Iya, ini panggilan terakhiir. Selama ini kalau kita dengar Jokowi masih sebatas verbal belum terlihat dalam kebijakan," kata pengamat hukum pidana dari Universitas Indonesia Chudry Sitompul seperti dilansir CNNIndonesia.com, Rabu (10/4).

Anggapan atas lemahnya komitmen Jokowi terhadap pemberantasan Jokowi terbilang wajar mengingat perkembangan penyidikan kasus Novel selama dua tahun terakhir memang bisa disebut jalan di tempat.

Chudry pun mengingatkan bahwa kasus Novel akan menjadi rapor merah bila tak mampu dituntaskan. Sebab, lanjut dia, kasus ini masuk dalam kategori mudah karena polisi memiliki data pelaku tindak kejahatan. "Kasus seperti ini seharusnya tidak sulit dicari, polisi sudah punya data penjahat yang melakukan seperti ini, sudah terpetakan," tuturnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi menegaskan Presiden Jokowi tetap memantau pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Ia mengatakan meskipun Presiden Jokowi urung membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), tetapi Jokowi masih menagih janji Kapolri dalam pengusutan tuntas kasus tersebut.

Menurut Johan, Presiden Jokowi sedikitnya, tiga kali sudah memanggil Kapolri Tito khusus menanyakan hasil dari proses penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut. Jokowi selalu menegaskan kepada Kapolri Tito agar Polri mengusut tuntas kasus tersebut.

Johan mengatakan tiga kali pemanggilan itu, Kapolri selalu mengatakan kesanggupannya mengusut kasus Novel. Komitmen kesanggupan Kapolri itu yang menjadi salah satu alasan mengapa Presiden, kata Johan belum juga membentuk TGPF. Menurut Johan, Presiden masih memberikan waktu kepada Polri dalam pengusutan tuntas kasus tersebut.

“Bahwa sampai hari ini belum terbentuk tim TGPF, karena presiden mendapat laporan dari Kapolri, masih sanggup untuk menuntaskan kasus itu. Karena itu sampai hari ini belum ada pembentukan TGPF,” sambung Johan seperti dilansir republika.***

 

R24/bara

PenulisR24/saut


Loading...

loading...