riau24

Kepala BNPB Sebut Kerugian Akibat Karhutla Bisa Mencapai 16 Miliar USD

Rabu, 10 Juli 2019 | 18:42 WIB
Suasana apel siaga karhutla yang berlangsung di halaman kantor gubernur Riau dan dihadiri oleh Kepala BNPB Doni Monardo, Rabu, 10 Juli 2019 Suasana apel siaga karhutla yang berlangsung di halaman kantor gubernur Riau dan dihadiri oleh Kepala BNPB Doni Monardo, Rabu, 10 Juli 2019

RIAU24.COM - Kepala BPNB, Letjen TNI Doni Monardo menjadi pemimpin apel gelar pasukan dalam rangka penyiapan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Karhutla yang berlangsung di halaman kantor Gubernur Riau.

Doni mengatakan, untuk menangani permasalahan karhutla di Riau, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri. BNPB juga butuh dukungan seluruh komponen sangat dibutuhkan. 

"Pada saat kebakaran hutan pada tahun 2015 lalu menimbulkan kerugian ekonomi hingga 16,1 miliar USD. Jika dibandingkan dengan bencana tsunami di Aceh yang sekitar 7 miliar USD, artinya ada kerugian ekonomi akibat karhutla lebih dari 2 kali lipat," kata Doni, Rabu, 10 Juli 2019.


BACA JUGA : Hotspot Riau Terbanyak Muncul di Bengkalis, Suhu 34 Derajat Celcius

Tak hanya itu saja, banyak dampak yang ditimbulkan akibat karhutla tersebut, diantaranya dampak kesehatan masyarajat, aktifitas terganggu seperti sekolah terganggu, layanan publik tutup, transportasi terganggu dan banyak hal yang merugikan lainnya.

"Selama berbulan-bulan kita merasakan penderitaan asap yang begitu pekat. Sehingga tak heran banyak saudara kita khusunya di Riau mencari daerah yang aman," ujarnya.


BACA JUGA : Driver Ojek Online Ini Dapat Order Dari SBY, Netizen Langsung Balas Begini

Saat ini, tambah Doni, anomali cuaca di sebagian wilayah timur Indoensia masuk musim hujan. Tapi di wilayah tengah dan barat masuk musim kemarau. Meskipun kemarau tahun ini relatif panjang tapi tidak seperti 2015 lalu.

"BNPB mengambil inisiatif dan melakukan kerjasama dengan sejumlah provinsi yang mengeluarkan status darurat kekeringan dan karhutla, yaitu Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dsn Kalimantan Selatan. Kerjasama ini diharapkan bukan hanya pusat yang diwakili BNPB, tapi juga masyarakat," jelasnya.

"Bukan hanya itu, dari pakar, akademisi yang ada di wilayah masing-masing, dunia usaha, komunitas, relawan, pemerhati lingkungan hidup dan media, jika kelima komeponen bersatu, saya yakin kita bisa cegah karhutla di Riau," kata dia lagi.

PenulisR24/ibl


Loading...

loading...