riau24

Pemilu Diawasi Ketat China, Presiden Taiwan yang Pro Kemerdekaan Unggul Sementara

Sabtu, 11 Januari 2020 | 23:46 WIB
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen unggul dalam penghitungan suara pemilu Taiwan (foto/int) Presiden Taiwan Tsai Ing-wen unggul dalam penghitungan suara pemilu Taiwan (foto/int)

RIAU24.COM - Sabtu 11 Januari 2020, Pemilu Taiwan diawasi ketat China. Hasil sementara, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen unggul dalam penghitungan suara pemilu presiden pada Sabtu (11 Januari 2020).

"Satu jam setelah tempat pemungutan suara (TPS) ditutup pada pukul 4 sore, Tsai unggul dibandingkan lawan utamanya Han Kuo-yu dari oposisi Partai Kuomintang dengan selisih lebih dari 500.000 suara," sebut hasil penghitungan awal oleh tiga stasiun televisi Taiwan seperti dilansir Sindonews.

Baca Juga: Mayat-Mayat Ditemukan Dari Lokasi Kecelakaan Helikopter Kobe Bryant



Hasil akhir diperkirakan diumumkan pada Sabtu (11 Januari) malam. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen akan menggelar konferensi pers pada pukul 8 malam waktu setempat.

Seperti diketahui China dan kerusuhan di Hong Kong masuk jadi elemen penting dalam pemilu Taiwan. Apalagi China telah meningkatkan upaya agar Taiwan menerima kontrolnya, baik melalui intimidasi militer hingga menawarkan model satu negara dua sistem.

Baca Juga: Guru Cantik Asal Afrika Ini Ungkap Ketakutan Warga di Wuhan, Semua Pasokan Makanan Habis

"Saya melihat apa yang terjadi di Hong Kong dan itu mengerikan. Saya hanya ingin memastikan saya memiliki kebebasan untuk memilih di masa depan," sebut pemilih Stacey Lin (20).

Ketika berbicara di Taipei, Lin yang baru pertama kali memilih menyebutkan diriny memilih Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Demokratik Progresif (DPP) yang pro-kemerdekaan. "Dia yang terbaik di antara semua kandidat untuk melindungi demokrasi kita," sebut Lin.

Seperti diketahui Han menyebut dirinya bakal memperbaiki hubungan dengan China. Itu berguna untuk mendorong ekonomi Taiwan meningkat.

Hanya saja Han tidak akan kompromi dalam membela demokrasinya. Sama dengan Han, Tsai juga menolak model satu negara dua sistem seperti yang telah diterapkan China di Hong Kong. (Riki)

PenulisR24/riki



Loading...
Loading...