riau24

Melalui Program PINTAR Tanoto Foundation, Pandu Luwes Presentasi Bak Presenter Handalik

Jumat, 07 Februari 2020 | 14:46 WIB
Tanoto Foundation melalui program PINTAR meluncurkan metode MIKIR sebagai jawaban untuk memperbaiki ekosistem pendidikan (foto/int) Tanoto Foundation melalui program PINTAR meluncurkan metode MIKIR sebagai jawaban untuk memperbaiki ekosistem pendidikan (foto/int)

RIAU24.COM - SIAK- Tanoto Foundation melalui program PINTAR meluncurkan metode MIKIR sebagai jawaban untuk memperbaiki ekosistem pendidikan. MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) memampukan peserta didik untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar.

Guru menjadi semakin kreatif dan inovatif dalam menyampaikan pembelajaran dikelas, Metode ceramah yang dinilai membosankan kini ditarik dan beralih dengan melakukan metode MIKIR di dalam kelas, sehingga pembelajaran berlangsung lebih menarik.

Baca Juga: Dengan MTQ Kecamatan Siak yang Ke-20, Diharapkan Bisa Tingkatkan Implementasi Alquran



Peserta didik lebih menikmati pembelajaran menggunakan metode mikir daripada ceramah yang tidak memberikan kesempatan untuk mereka ikut aktif dalam pembelajaran, sehingga materi yang akan diberikan kepada siswa menjadi semakin mudah untuk dipahami, siswa juga menjadi aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Pandu Prawudia Wangga (13) yang akrab dipangil Pandu, salah seorang siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN ) 02 Siak terlihat begitu luwes dan percaya diri layaknya seorang presenter handal dalam membacakan berita - berita di depan layar televisi, saat dirinya mempresentasikan hasil pengamatannya pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan materi Zaman Aerkaekum  atau disebut juga Zaman Tua, Jum'at (07/02/2020).

Baca Juga: Sensus Penduduk Online Perdana di Kabupaten Siak Dimulai Dari Kediaman Bupati Alfedri

Pandu, yang sebelumnya seorang yang pemalu dan terkesan pendiam kini menjadi anak yang berani dan punya percaya diri besar.Tak ayal dirinya sekarang lebih terlihat aktif saat belajar di kelas.

"Dulunya saya seorang yang pemalu, namun karena guru selalu memberikan motivasi saya untuk berani dan percaya diri sekarang saya menjadi percaya diri untuk berbicara di depan kelas " ujarnya

Selain itu, Pandu juga mengaku lebih mudah dalam memahami pelajaran yang di sampaikan guru ,lantaran dirinya merasa bersemangat dalam belajar, Pandu juga sekarang sering tampil di depan kelas saat tidak ada satupun yang berani maju untuk menjelaskan.

"Saya tidak takut salah, yang paling penting saya percaya diri dengan apa yang saya ketahui, mau salah atau benar itu nanti saja yang penting saya berani dan percaya diri''ujarnya menambahi.

Sementara itu Guru Mata Pelajar IPS Anna Handayani, menuturkan ilmu ketrampilan dalam mengajar ia dapat melalui pelatihan - pelatihan yang di berikan oleh Tanoto Foundation yang sudah beberapa kali ia ikiti karena bagi dirinya menjadi pintar sekarang ini tak lagi cukup bagi seorang murid, namun mereka juga harus menjadi seorang pemecah masalah.

Anna juga menambahkan menjadi guru, sekarang ini adalah sebuah tantangan tersendiri. Kemajuan teknologi dan perubahan zaman mengharuskan guru untuk membantu siswa menjadi sosok yang tidak hanya pintar menghafal dan mendapatkan nilai tinggi, namun juga mendorong siswa agar lebih aktif dalam belajar.

Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 02 Siak, Drs. Amrin M.Pd menjelaskan, sekolahnya merupakan salah satu mitra Tanato Foundation,dirinya merasa sangat terbantu dengan adanya program PINTAR Tanoto Foundation tersebut, pasalnya Tanoto Foundation melalui Program PINTAR melatih dan mendampingi para guru untuk menerapkan unsur pembelajaran aktif mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi atau MIKiR dalam pembelajaran. Untuk mendukung implementasi pembelajaran aktif tersebut, para guru juga dilatih mengembangkan tugas atau pertanyaan yang mendorong siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran (HOTS/higher order thinking skill). 

Dengan menerapkan pembelajaran aktif tersebut, pada saat yang sama, siswa dipersiapkan memiliki keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, memecahkan masalah secara kreatif, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik.

Amrin juga percaya bahwa memperbaiki ekosistem pendidikan merupakan kerja bersama dan melalui program penguatan kapasitas pengelolaan dan kepemimpinan sekolah, peningkatan kapasitas guru, partisipasi orangtua dan masyarakat, diharapkan mampu meningkatkan minat belajar siswanya. (R24/lin)

PenulisR24/lin



Loading...


Terpopuler

Loading...