riau24

Meski DIperlakukan Diskriminatif, Warga Uighur Ini Sumbangkan 11 Ekor Kuda Untuk Tangani Corona

Senin, 10 Februari 2020 | 08:50 WIB
Muslim Uighur di kamp konsentrasi China Muslim Uighur di kamp konsentrasi China

RIAU24.COM -  Seorang warga beretnis Uigur Xinjiang, Ba Baintolle, menyumbangkan 11 ekor kudanya. Uang hasil penjualan 11 ekor kuda senilai 88 ribu yuan atau sekitar Rp 171,9 juta itu diberikan kepada Pemprov Hubei untuk mengatasi wabah virus mematikan.

Penggembala kuda itu tinggal di Kabupaten Wenquan, Daerah Otonomi Xinjiang. Kabupaten Tongcheng, Provinsi Hubei, setiap tahun menyumbangkan 300 ribu yuan (Rp 586 juta) kepada warga Wenquan untuk membangun infrastruktur, pengenalan teknologi, dan membangun sekolahan.

Baca Juga: Soal Video Lucinta Luna Meraung-raung Minta Obat Penenang, Pakar Ekspresi Sebut Itu Cuma Drama

"Saya sangat sedih dengan berjangkitnya wabah di Hubei. Mereka banyak sekali bantu kami dan sekarang saatnya saya membantu mereka," ujar Baintolle dikutip China Daily.

Pria yang memiliki 400 ekor kuda dengan pendapatan sekitar 150 ribu yuan (Rp 293 juta) per tahun itu mengatakan kuda melambangkan keberanian dan ketangguhan. "Saya berharap masyarakat Hubei dengan gagah berani bisa menundukkan virus tersebut. Jangan menyerah. Hati saya bersamamu, meski jarak kita ribuan mil," ujarnya.

Di sisi lain, wabah virus Corona telah membuat khawatir warga muslim Uighur, terutama yang keluarganya saat ini masih berada dalam kamp tahanan pemerintah China.  Apalagi virus Korona Wuhan disebut sudah sampai ke Xinjiang.

Baca Juga: Babat Habis Rambut dan Jenggot, Abu Janda Malah Disebut Mirip Tokoh Ini

Kondisi kamp yang buruk serta infrastruktur dan fasilitas yang kurang baik menjadi tempat ideal bagi penyebaran virus korona Wuhan yang mematikan tersebut. Meski demikian, hingga saat ini belum ada satu pun virus yang telah menyerang kamp-kamp di mana muslim uighur berada.

Para ahli memperingatkan, bahwa jika virus korona Wuhan dapat menyebar. Hal ini dapat menambah lebih banyak penderitaan di lokasi tersebut. "Kondisi sempit, kebersihan yang buruk, sistem kekebalan tubuh yang kurang serta stres. Ini bisa menjadi bencana," ujar Profesor Sejarah Tiongkok di Universitas Georgetown, James Millward. ***

PenulisR24/saut



Loading...


Loading...