riau24

Manfaatkan Limbah Cair CPO, PTPN V Berhasil Menghemat Biaya Produksi Hingga Miliaran Rupiah

Senin, 09 Maret 2020 | 10:30 WIB
Manfaatkan Limbah Cair CPO, PTPN V Berhasil Menghemat Biaya Produksi Hingga Miliaran Rupiah Manfaatkan Limbah Cair CPO, PTPN V Berhasil Menghemat Biaya Produksi Hingga Miliaran Rupiah

RIAU24.COM -  PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V) menggunakan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) dalam proses produksi minyak sawit mentah (CPO) dari pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit (POME) atau limbah cair produksi CPO.

Direktur Utama PTPN V Jatmiko Krisna Santosan mengatakan bahwa ini adalah pembangkit listrik yang baru menyediakan energi bagi satu dari 12 pabrik pengolahan perkebunan kelapa sawit (PKS) perusahaan.

Sementara itu, utilitas pembangkit listrik tersebut berada di level 50 persen dengan produksi listrik 700 kWh.

"Jika ini hanya dengan separuh biaya, maka bisa mencapai Rp6 miliar per tahun. Ini baru 50 persen di satu PKS. Kami ada 12 PKS. Jadi bisa dihitung biaya [penghematan biaya produksi]," katanya di PKS Terantam, Jumat 6 Maret 2020.

Dengan kata lain, perusahaan dapat menghemat biaya hingga Rp72 miliar per tahun jika seluruh PKS PTPN V memiliki kapasitas yang sama.

Dengan hitung-hitungan tersebut, penghematan yang ada pada perusahaan memiliki kapasitas biogas berkapasitas 8,4 Megawatt dengan serapan TBS hingga 252 ton per jam atau 6,048 ton per hari.

Sementara itu, POME yang terserap oleh pembangkit listrik ini saat ini dibutuhkan dari sekitar 21 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Jatmiko mengumumkan rencana untuk meningkatkan kapasitas listrik hingga 2 Megawatt dengan serapan TBS mencapai 60 ton per jam.

Jatmiko mencatat pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTBG) di PKS Teranam ini memerlukan investasi Rp27 miliar di luar jaringan listrik. Alhasil, perusahaan harus menambah investasi sekitar Rp108 miliar-Rp135 miliar untuk pembangunan empat hingga lima PLTBG agar dapat mendukung penuh pada PLTBG.

Dia menambah PTPN V saat ini memiliki kapasitas produksi TBS mencapai 570 ton per hari. Sedangkan, lanjutnya, produktivitas produksi perusahaan merupakan yang tertinggi pada dua bulan pertama 2020 dengan 5,6 ton per hektar.

"Kalau dibandingkan dengan swasta, kami lebih produktif. Oleh karena tiu, kami mohon dukungannya terus untuk pengembangan teknologi karena kami menargetkankan 12 PKS bisa [menggunakan PLTBG] dapat menyelamatkan-nya segera didapat," ucapnya.

Selain itu, Jatmiko menyetujui penambahan PLTBG yang dapat digunakan secara bersamaan untuk mengurangi produksi gas rumah kaca (GRK) perusahaan. Dengan demikian, diumumkan, perusahaan akan mendapatkan premi GRK yang akan disetujui dari harga CPO perusahaan.

 

 


R24/DEV

PenulisR24/dev



Loading...
Loading...