Senin, 22 September 2014
Dugaan Kredit Macet Bank Riau Kepri Hadirkan Saksi Ahli, Irham
0
(Foto:Riau24/Ina)
Dugaan Kredit Macet Bank Riau Kepri Hadirkan Saksi Ahli, Irham
PEKANBARU -- Sidang pengadilan Tipikor Bank Riau Kepri dengan terdakwa Buchori, kali ini menghadirkan Saksi Ahli Ihram (50). Saksi ahli bekerja sama dengan Mabes Polri untuk mengungkap kasus dugaan kredit macet yang terjadi di Bank Riau Kepri. Sidang yang di Gelar dipengadilan Negeri Pekanbaru Selasa, (19/2) sangat menarik perhatian pengunjung.

Persidangan yang di Ketuai oleh Majelis Hakim Krosbin meminta keterangan dari saksi ahli terkait investigasi yang dilakukan selama ini. Saksi Ahli menjawab dan menerangkan Kepada Ketua Majelis Hakim dengan tegas dan lugas. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Pengacara terdakwa dijawab dengan tegas oleh saksi Ahli.

"Setelah saya dan Mabes Polri melakukan Investigasi dilapangan banyak kita temui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, diantaranya Permohonan yang tidak sesuai dengan pedoman seperti perusahaan yang baru berdiri, permohonan profil nasabah yang tidak di isi oleh si pemohon, gambaran usaha tidak di isi, Miswanto sebagai kepala seksi pemasaran di Batam harusnya meng analisa dulu baru menandatangani Dokumen, harusnya wakil kepala cabang menolak pencairan dengan alasan Agunan nilainya dibawah dari pedoman yang seharusnya minimal 100% kredit ternyata hanya 72% dan terbukti persyaratan tidak lengkap atau hasil dari analisa tidak memenuhi syarat. Jaminan Deposito yang diajukan senilai 100 miliar di BNI ternyata tidak ada dan Bank sudah dibohongi.

Saksi ahli menambahkan, Sebelum pendanaan cair Mantan Dirut Zulkifli menggelar rapat namun tidak dihadiri oleh Ketua Komite dengan alasan Ketua Komite berhalangan. Seharusnya ada surat kuasa dari Ketua Komite untuk diserahkan kepada Dirut Zulkifli untuk memimpin sidang ternyata tidak ada. Hasil rapat tersebut menyetujui pencairan dana PT Saras 3,5 miliar yang seharusnya ditolak oleh Dirut karena Dirut dan anggota rapat punya wewenang untuk menolak keputusan hasil rapat tersebut terkait persyaratan yang tidak memenuhi syarat walau dengan alasan tindakan penyelamatan Bank tapi tetap dengan aturan yang berlaku. Ujar saksi ahli.

Pada tanggal 30 juli 2003 surat sudah ditanda tangani dan dihadiri langsung oleh Kepala pimpinan cabang Arya wijaya yang saat ini sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) di kepolisian. Hari itu juga setelah di tanda tangani Pencairan dana 3,5 miliar langsung di transfer ke rekening Arya wijaya sendiri.

"Setelah dana dicairkan dan ternyata terjadi permasalahan apakah pihak Bank merasa dibohongi dan apakah Bank dirugikan dan siapa yang untung dalam kasus ini" tanya Hakim.

Saksi ahli menjawab, "jelas Bank sudah dibohongi dan yang dirugikan adalah negara dan yang untung Arya wijaya". Jawab Irham.

"Sebenarnya berapa modal dari PT Saras" tanya Hakim lagi. Dengan tegas Saksi ahli menjawab "yaa modal dengkul lah" Hakim dan pengunjung yang hadir pun ketawa. "karena sesungguhnya PT Saras hanya mengandalkan pinjaman dari Bank".ujarnya lagi.

Setelah mendengar keterangan saksi Ketua Majelis Hakim meminta pihak dari pengacara terdakwa untuk tanya jawab kepada saksi ahli. Sedikit berargumen pengacara terdakwa meminta Dokumen tapi saksi ahli ternyata tidak membawa sebagian Dokumen tersebut dengan alasan diluar pembahasan sidang. Akhirnya Pengacara terdakwa meminta kepada Ketua Majelis Hakim agar saksi ahli untuk hadir pada persidangan berikutnya tapi ditolak oleh Majelis Hakim dan Majelis Hakim meminta Saksi ahli mengirimkan lewat Fax Hakim saja dan saksi ahli menyetujui. Sidang pun di tunda. (Ina)
Silahkan SMS ke No HP : 0812 6866 1601, Invite Pin BB : 2756E754,
atau email ke alamat : redaksi@riau24.com
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
(harap cantumkan data diri anda).

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     
  • Subscribe

    untuk mendapatkan berita terbaru

Baca

Versi mobile Riau24 disini

m.Riau24.com