riau24 BNPB: 'Kami tidak bisa pasang tembok di Selat Malaka' | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

BNPB: 'Kami tidak bisa pasang tembok di Selat Malaka'

0
BNPB dan otoritas terkait tetap berusaha memadamkan titip api di sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan.
Berita Riau -  BNPB: 'Kami tidak bisa pasang tembok di Selat Malaka'

Riau24.com -Kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan di Sumatra melanda sebagian wilayah Malaysia pada Kamis (03/09) siang, demikian keterangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Kemarin di pinggiran (Malaysia), tapi sekarang (Jumat, 3 September) tidak ada lagi," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles Panjaitan, Jumat (04/09) siang.

Kantor berita Associated Press sebelumnya melaporkan, sejumlah warga Kota Kuala Lumpur dan beberapa kota lainnya telah merasakan kehadiran asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang diduga berasal dari Sumatra.

Di antara mereka disebutkan mulai merasakan gangguan pernapasan, walaupun Kementerian Lingkungan hidup dan kehutanan menyatakan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) "masih moderat atau sedang".

Seperti dilaporkan kantor berita Bernama, Direktur Kesehatan Kedah, Norhizan, mengatakan kabut asap di sejumlah wilayah di Malaysia sudah pada level "menganggu pernapasan".

Ditanya apakah pemerintah Indonesia sudah mendapat keluhan atau protes dari Malaysia dan Singapura terkait kehadiran kabut asap, Raffles Panjaitan mengatakan: "Sampai saat ini (Jumat siang, 03/09) kita belum ada komplain (dari Malaysia dan Singapura)

Arah angin berubah

Dan memasuki hari Jumat, menurut BNPB, arah angin yang semula mengarah ke arah barat (dan bakal melewati Malaysia dan Singapura), kini cenderung ke arah utara dan timur laut.

"Kondisi angin di Sumatra sekarang dominan dari selatan ke utara sampai dengan arah timur laut," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB ,Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (04/09).

Akibatnya, kini hampir 80% wilayah Sumatra tertutup oleh kabut asap.

Hampir 80% wilayah Sumatera terpapar kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan di wilayah itu.

Menurutnya, kondisi angin seperti ini bisa terjadi karena tidak ada siklon (badai) tropis di sekitar Filipina dan Laut Cina selatan.

Pada kasus kebakaran hutan dua tahun lalu, lanjutnya, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatra telah melanda Singapura dan Malaysia karena ada badai di Filipina dan Laut Cina Selatan.

"Kejadian tahun 2013, ketika Singapura komplain (kepada pemerintah Indonesia), pada saat itu ada siklon di Filipina ada Laut Cina selatam, sehingga asap yang di Riau saat itu semuanya ditarik menuju Cina selatan dan melalui Singapura dan Malaysia," jelas Sutopo.

Lebih lanjut dia mengatakan, Indonesia hanya bisa melakukan antisipasi dengan melakukan pencegahan dan upaya pemadaman titik-titik api di Sumatra sehingga asapnya tidak menyebar ke negara tetangga.

"BNPB nggak bisa pasang tembok di atas selat Malaka untuk menghalangi kabut asap," kata Sutopo.

Upaya pemadaman dilanjutkan

Upaya pemadaman kebakaran lahan dan hutan di wilayah Sumatra dan Kalimantan terus dilakukan, walaupun masih dijumpai kendala dan hambatan.

Selain mengerahkan upaya pemadaman lewat jakur darat, BNPB dan otoritas terkait juga terus melakukan pemadaman melalui udara, kata Deputi Penanganan Darurat BNPB, Tri Budiarto, Jumat (04/09) siang.

"Kita sudah menggunakan tiga pesawat Casa 212 yang ditempatkan di Pekanbaru, Palembang dan Pontianak. Mereka membawa garam untuk membuat hujan buatan," ungkap Tri Budiarto.

Upaya BNPB dan otoritas terkait untuk memadamkan api masih terkendala sejumlah persoalan. 

Mereka juga telah mengoperasikan 13 pesawat helikopter yang tersebar di enam provinsi, yaitu Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan.

Upaya pemadaman lewat jalur darat juga dilakukan, meskipun menurut Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles Panjaitan, masih dijumpai hambatan.

"Karena udara kering dan tidak ada air, sehingga sulit mengendalikan api, apalagi yang terbakarnya gambut. Karena air tidak ada, kita cari air pakai tangki. Tapi begitu sampai dan balik lagi, api menjalar lagi," ungkapnya.

Masalah lokasi yang sulit diakses melalui jalan darat juga merupakan kendala lainnya. "Kadang harus jalan kaki hingga dua jam, karena tidak bisa dilalui kendaraan," katanya lagi.

BNPB menyebutkan, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap terjadi sejak 18 tahun silam, dan dua tahun lalu kabut asap itu untuk kesekian kalinya melanda Malaysia dan Singapura.
Tahun lalu, Indonesia telah meratifikasi rencana ASEAN untuk mengatasi kabut asap.

Dalam ratifikasi itu, Indonesia diharuskan memperkuat kebijakan kebakaran hutan dan asap, serta aktif terlibat dalam proses pengambilan keputusan kawasan mengenai masalah ini.

Indonesia juga diharuskan meningkatkan sumber daya untuk mengatasi masalah di dalam negeri dan kawasan.


R24/bbcindonesia/Noe 

 

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru