riau24 Pihak BRI Bantah Blokir Rekening Yayasan Wahidin Bagan Siapiapi | Berita Riau
Senin, 18 Desember 2017

Pihak BRI Bantah Blokir Rekening Yayasan Wahidin Bagan Siapiapi

0
Kepala Cabang (Kacab) BRI Tbk Bagansiapiapi, Herdiman
Berita Riau -  Pihak BRI Bantah Blokir Rekening Yayasan Wahidin Bagan Siapiapi

Rohil-Riau24.com-Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk Cabang Bagansiapiapi, membantah pihaknya melakukan pemblokiran rekening lembaga Yayasan Perguruan Wahidin (YPW), sebagaimana yang diberitakan di media massa bahwa BRI telah melakukan pemblokiran secara sepihak.

Kepala Cabang (Kacab) BRI Tbk Bagansiapiapi, Herdiman kepada wartawan, Jum'at (25/9/2015) mengatakan pihaknya tak pernah melakukan pemblokiran apalagi dengan secara sepihak. Hal itu dijelaskannya bahwa selama ini pihak BRI dengan kehati -hatian agar penyerahan sejumlah uang Yayasan tidak salah orang.

"Seperti pada berita di media massa selama ini selalu saja yang berbicara itu kalau tak salah Pak Ilyas Yusuf sebagai Wakil Kordinator Yayasan Wahidin, dalam notaris anggaran dasar seperti pada dokumennya yang kita terima terakhir kali, tidak ada yang namanya Koordinator cuma ada yang namanya Pengurus dan Pembina Yayasan," kata Herdiman.

Herdiman juga mengatakan bahwa dalam akta notaris diketahuinya bahwa Ketua YPW atas nama Rajadi alias Awi Tongseng termasuk pengurus lama yang artinya masa bakti sudah kadaluarsa. "Pak Awi juga sebagai pengurus lama masa bakti nya sudah habis, itu kita lihat dalam dokumen akta notaris Yayasan Wahidin yang terakhir kita terima," kata Hardiman lagi.

Sebagai langkah aman, pihak BRI telah meminta kepada Pihak Yayasan Wahidin melalui sepucuk surat agar menyertakan Akta notaris Yayasan Wahidin. Hal itu dilakukan guna meyakinkan pihak BRI sebagaimana disebutkan bahwa kepengurusan lama sudah habis masa berlakunya.

Herdiman mengaku, tujuh tahun Yayasan Wahidin tak bisa melakukan penarikan uang simpanan di BRI karena diyakini bahwa Yayasan tersebut masih mengalami perselisihan secara internal. Kronologis, perselisihan secara internal Yayasan yaitu antara Pembina dengan Pengurus.

"Kami tidak bisa membantu untuk melakukan pencairan dana Yayasan, karena kami menunggu terlebih dahulu sengketa tersebut selesai sesuai dengan ketetapan hukum yang bersifat final, kalau kami cairkan ke Pembina yayasan ternyata pengurusnya benar, kami jadi susah nanti, begitu sebaliknya jika dicairkan ke pihak pengurus ternyata Pembina yang betul. Jadi akhinya kami menunggu keputusan finalnya sajalah," kata Herdiman.

Setelah tujuh (7) tahun ditunggu tunggu, kabarnya sudah ada hasil putusan final berdasarkan putusan Hukum. Pihak BRI mengaku sudah merasa lega hati, artinya saat ini sudah tidak ada lagi sengketa internal yang terjadi di Yayasan Wahidin. Pihak BRI juga mengaku sedang menunggu surat permohonan dari Pengurus Yayasan baru periode saat ini yang disertakan bukti surat penunjukkan.

"Kabarnya sudah ada hasil final berdasarkan putusan Hukum, kita sekarang juga ikut lega mendengarnya. selanjutnya kita menunggulah permohonan pihak Pengurus Yayasan untuk mencairkan sejumlah dana yang disimpan itu, tapi permohonan mereka kita minta dengan disertakan dokumen Akta anggaran dasar dengan lampiran nama-nama pengurus baru, kan pengurus lama sudah habis masa berlakunya," kata Herdiman.

Dikatakan Herdiman, kehati-hatian pihaknya karenakan yayasan adalah sebuah lembaga yang pasti, jika mempunyai rekening simpanan dana atas nama lembaga sangat tidak mungkin setiap orang bisa mengambilnya tanpa adanya bukti jelas, surat keputusan sebagai bukti pendamping.

Seperti dicontohkan dengan Instansi Dinas Pendidikan, kepala dinas pasti menunjukkan bendahara sesuai surat keputusanya (SK). Misalkan instansi Rutan atau Lapas, Rutan itu ada memberikan surat wewenangnya siapa yang berhak mencairkan uang. Hal itu pastinya berlaku sama dengan Pihak Yayasan Wahidin tersebut.

"Silahkan saja Yayasan Wahidin untuk mengambil uangnya, akan kami berikan tapi juga harus dengan syarat tersebut, menyerahkan atau menunjukkan pengurus yang sah secara hukum untuk mengambil uang yayasan. Nantinya jika setiap orang bisa mengambilnya, tentu nantinya yang salah itu pihak BRI, karena tidak ada kepastian hukum," kata Herdiman.

Merasa Dihakimi

Kemarin ada undangan buat kantor unit BRI Cabang Bagansiapiapi untuk menghadiri forum discussion grup dengan tema terkait HAM namun disana pihak BRI merasa dihakimi, dicerca dengan sederet pertanyaan seputar persoalan yang berkaitan dengan Yayasan Wahidin.

"Kami semalam dapat undangan hadir dalam diskusi bersama pihak Kanwil Kemenkumham dan pihak Yayasan Wahidin, kebetulan ada anggota kami sebagai perwakilan, bukannya diskusi tapi malah seperti disidang tentang masalah Wahidin. Menurut kami caranya seperti itu tidak etis," kata Herdiman kecewa.

Keputusan BRI meminta pihak Yayasan secepatnya menyerahkan dokumen sah pengurus baru. "Jika tidak ada sengketa lagi silahkan, Yayasan tinggal menujuk pengurus yang sah datang ke BRI, kita kasih, kan tidak ada masalah lagi, ngapain sekarang dipermasalahkan, sederhana saja," kata Herdiman.

"Kita selama ini mendapat kabar dari media, bahwa seolah-olah BRI memblokir, namun kami tidak menyalahkan pihak wartawan karena hanya menulis apa yang disampaikan oleh pihak Pengacara. Tapi tolong dulu pelajari Undang- undang Yayasan, pelajari dahulu tentang mekanisme kalau badan yayasan itu menyimpan uang di suatu Bank, bagaimana proses penarikan uang badan tersebut," kata Herdiman.

Pada kesempatan itu juga, Pihak BRI menyampaikan kepada para guru dan siswa sekolah Wahidin, pihak BRI tidak sedikitpun ada niat untuk menghalangi hak Wahidin atas dana yang ada di BRI tersebut.

"Sejak lama kami menunggu, kami minta baik-baik, balasan surat somasi kemaren juga telah kami sampaikan, kami sudah mengerti pesannya dan kami sudah jawab dengan baik-baik juga,” katanya mengakhiri.

R24/mrd/syofyan

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru