riau24 Bekas Dirut Pertamina Dipanggil KPK Soal Bensin Bertimbal | Berita Riau
Rabu, 13 Desember 2017

Bekas Dirut Pertamina Dipanggil KPK Soal Bensin Bertimbal

0
Pekerja beraktivitas di anjungan lepas pantai Mike-Mike, milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Perairan Jawa Barat, Jumat 18 Juli 2015
Berita Riau -  Bekas Dirut Pertamina Dipanggil KPK Soal Bensin Bertimbal
Jakarta-Riau24.com-Bekas Direktur Utama PT Pertamina, Baihaqi Hamid Hakim, dipanggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pelaksana Harian Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan Baihaqi bakal bersaksi untuk tersangka kasus suap bensin bertimbal atau Tetraethyl Lead (TEL) untuk Pertamina, Muhammad Syakir.

"Iya (Baihaqi) diperiksa sebagai saksi untuk MSY (Muhammad Syakir)," kata Yuyuk ketika dikonfirmasi CNN Indonesia, Selasa (13/10/2015).

Syakir adalah Direktur PT Soegih Interjaya (PT SI), perusahaan pemasok bensin bertimbal untuk perusahaan pelat merah selama bertahun-tahun. Kolega Syakir yang juga menjabat sebagai Direktur PT SI, Willy Sebastian Lim, telah lebih dulu dijebloskan ke penjara.

Syakir disangka turut menyuap Direktur Pengolahan PT Pertamina, Suroso. Dia dijerat Pasal 5 ayat 1 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara Willy telah divonis tiga tahun bui dan Suroso dituntut tujuh tahun penjara. Dalam amar putusan Willy, dijelaskan suap bermula ketika Willy ingin Suroso menyetujui The Associated Octel Cimoany Limited (Octel) melalui PT SI menjadi pemasok bensin bertimbal untuk Pertamina. Bensin tersebut digunakan untuk kebutuhan kilang-kilang milik PT Pertamina (Persero) periode Desember 2004 dan 2005.
 
Saat 2003, Octel dan Pertamina membuat perjanjian kerja sama dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) tanggal 2 Mei 2003. MoU menyepakati pembelian TEL dilakukan pada 2003 hingga maksimal September 2004 dengan harga US$ 9.975 per metrik ton. Namun pada saat yang bersamaan, Indonesia mencanangkan program bensin tanpa timbal per 31 Desember 2004 dan target program dilakukan menyeluruh pada 2005.

Selanjutnya, Willy memerintahkan Syakir menyampaikan kepada Miltos Papachristos (Regional Sales Director Octel) terkait aksinya untuk memperlambat proses penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Negara Kelestarian Lingkungan Hidup, dan Menteri Keuangan terkait program tersebut.

Di sisi lain, Willy mencari cara agar bensin dengan timbal dapat digunakan. Alhasil, Willy mengusahakan penggunaan Plutecon sebagai oktan alternatif. Rupanya, alternatif tersebut dikuti permintaan imbalan sejumlah uang untuk pejabat Pertamina dengan alasan perusahaan lain pemasok Plutecon kepada Pertamina melakukan pemberian imbalan yang sama.

Di tengah persaingan bisnis pemasok kilang minyak, rupanya perusahaan lain, TDS Chemical Co. Ltd menawar harga yang lebih murah yakni US$ 9.250 per metrik ton. Pihak Willy dan rekannya pun mencari alternatif untuk mempertahanankan perusahaan Octel --pada 2006 berubah menjadi Innospec-- agar tetap menjadi pemasok utama, alih-alih perusahaan lain.

Alhasil, Willy menego Suroso. Akhirnya, PT Pertamina menurunkan harga menjadi US$ 9.250 per metrik ton untuk PT SI. Namun, PT SI selaku agen dari Octel menolak untuk menurunkan harga yang diminta PT Pertamina. Harga tersebut sama dengan harga yang ditawar TDS Chemical. Octel pun tetap meminta Pertamina untuk membayar dengan harga awal yakni US$ 9.975.

Pada November 2004, Willy bertemu Suroso dan meminta pengiriman bensin dengan timbal sejumlah 450 metrik ton dengan harga US$ 11 ribu per metrik ton untuk pesanan yang diterima seblum akhir 2004.

Suroso menyetujui dengan syarat terdakwa Willy memberi fee sebesar US$ 500 per metrik ton. Willy pun sepakat.

Suroso disebut menerima duit hingga US$ 225 ribu. Duit tersebut terdiri dari US$ 190 ribu yang disimpan dalam rekening dan fasilitas biaya perjalanan Suroso ke London dengan fasilitas menginap di Hotel May Fair Radisson sejumlah UK£ 749.6 serta di Hotel Manchaster senilai UK£ 149.50.

Jika kerja sama berlangsung hingga 2005, maka Suroso dijanjikan komisi tambahan.

Terkait perpanjangan, Suroso membuat memo dengan terkait harga pembelian TEL atau bensin dengan timbal senilai US$ 9.975 per metrik ton dengan total pembelian 455,20 metrik ton pada tanggal 17 Desember 2004.

Atas memo Suroso, Direksi PT Pertamina menyetujui proses pengadaan TEL. Setelah kesepakatan, harga melonjak menjadi US$ 10.750 metrik ton dengan kuota pembelian 446,4 meterik ton. Total duit pembelian bensin yakni US$ 4,7 juta. Willy juga disebut menerima komisi enam persen dari total penjualan US$ 276,5 ribu dan komisi US$ 300 ribu.

Untuk memenuhi kebutuhan TEL di kilang Pertamina, Octel menjadi pemasok TEL yang disetujui Suroso dengan rincian US$ 10.750 per metrik ton untuk total 307 metrik ton sesuai memo tanggal 17 Februari 2005. Selain itu, perusahaan tersebut juga menjadi pemasok sebanyak 287 metrik ton dengan harga US$ 10.750 dengan total 286 metrik ton melalui memo pembayaran tanggal 6 April 2005.

Pada pembelian selanjutnya tanggal 20 April 2005, Pertamina membeli 704 metrik ton TEL seharga US$ 7.568 per metrik ton. Kemudian, Pertamina membeli kembali TEL melalui PT SI kepadna Octel sebanyak 1.224 metrik  ton dengan harga satuan US$ 10.750. Terakhir, pembelian sebanyak 1.332,59 metrik ton senilai US$ 14.325 pada 5 September 2005.

R24/rno/cnn
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru