riau24 Rio Capella Bersama Gatot-Evy Tersangka Suap Bansos Sumut | Berita Riau
Jumat, 15 Desember 2017

Rio Capella Bersama Gatot-Evy Tersangka Suap Bansos Sumut

1
Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella di Gedung DPR. (Foto : Arie Riswandy)
Berita Riau -  Rio Capella Bersama Gatot-Evy Tersangka Suap Bansos Sumut
Jakarta-Riau24.com-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Sekretris Jenderal DPP NasDem Patrice Rio Capella sebagai tersangka penanganan kasus bantuan sosial, tunggakan Dana Bagi Hasil, dan penyertaan modal Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sumatra Utara. Rio Capella diduga menerima duit dari Gubernur nonaktif Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho dan istri mudanya, Evy Susanti. 

"Penyidik menyimpulkan ditemukan dua bukti permulaan cukup yang diduga dilakukan GPN (Gatot Pujo Nugroho) selaku Gubernur Sumatra Utara bersama dengan Evy Susanti. Penyidik juga menetapkan PRC (Patrice Rio Capella), anggota DPR, menjadi tersangka," kata Pelaksana Tugas Wakil Ketua KPK Johan Budi Sapto Pribowo saat jumpa pers di Kantor KPK, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Johan melanjutkan, Gatot dan Evy diduga ingin mengamankan kasus bansos yang disidik oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara atau Kejaksaan Agung. Duit panas mengalir ke kantong Rio Capella. Diketahui, Jaksa Agung HM Prasetyo merupakan bekas politikus NasDem, partai yang sama dengan Rio Capella.

"Kasus ini beda dengan yang ditangani Kejagung. Kami tidak menangani perkara (korupsi) bansos," kata Johan. 

Gatot dan Evy disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a, huruf b atau pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. Sementara itu, Rio Capella dijerat Pasal 12 huruf a, huruf b atau Pasal 11 undang-undang yang sama. 

Sebelumnya, KPK telah memeriksa Rio Capella. Pemeriksaan berlangsung empat jam di Kantor KPK, Jakarta, Rabu (23/9/2015). Rio Capella segera berlari menghindari awak media usai diperiksa penyidik KPK.

Belum Periksa Jaksa Agung

Hingga saat ini, KPK menegaskan tak akan memeriksa Prasetyo dalam kasus tersebut. Tim penyidik belum membutuhkan keterangan dari Prasetyo untuk mengonfirmasi hasil keterangan lain. 

"Sampai hari ini tidak ada kebutuhan memeriksa yang bersangkutan (Prasetyo)," katanya. 

Secara terpisah, Prasetyo menyilakan komisi antirasuah untuk memeriksa jajarannya jika ada yang terlibat dalam kasus tersebut. "Silakan saja, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) tahu apa yang harus dilakukan. Siapa pun yang disebut kalau betul ada relevansinya, silakan. Bahkan sejak awal KPK melakukan operasi tangkap tangan, saya bilang usut tuntas sampai siapa yang menjadi aktor intelektualnya," kata Prasetyo usai menghadiri pelantikan pejabat baru KPK, di Kantor KPK, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Prasetyo menantang Evy dan Gatot untuk menunjukkan bukti tudingan yang pernah dilontarkan terkait dugaan pengamanan kasus. "Saya sangat tahu dengan diri saya dan lingkungan saya. Seseorang berbicara harus di back up dengan bukti dan fakta," katanya.

Evy dan Gatot telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan oleh KPK. Keduanya disangka menyuap hakim untuk memenangkan gugatan yang diajukan.

Gugatan tersebut terkait pembatalan Surat Pemanggilan oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara kepada anak buah Gatot bernama Achmad Fuad Lubis. Pemanggilan terkait dugaan korupsi Dana Bantuan Sosial (bansos), Bantuan Daerah Bawahan (BDB), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tunggakan Dana Bagi Hasil (DBH), dan penyertaan modal pada sejumlah Badan Usaha Milik Daerah pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Dalam sidang untuk terdakwa Panitera PTUN Medan Syamsir Yusfan, Evy sempat menyinggung dugaan pengamanan kasus oleh pihak Kejaksaan Agung yang dipimpin oleh bekas politikus NasDem ini.

"Bapak (Gatot) mau jamin amankan supaya itu mau dibawa ke gedung bundar (Kejaksaan Agung). Jadi kalau itu sudah menang (di PTUN Medan) tidak akan ada masalah katanya di gedung bundarnya," kata Evy, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (17/9/2015).

Sementara itu, Gatot bersama eks Wakil Gubernur Erry Nuradi pernah bertemu dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di Kantor DPP NasDem, Mei 2015 lalu. Namun, Erry menampik pertemuan terkait pengamanan kasus di Kejaksaan Agung.

Erry mengaku hubungannya dengan Gatot rentan. Seringkali, keduanya tak sepaham dan gagal berkomunikasi. Dalih tersebut digunakan Erry dan Gatot untuk bertemu dengan Paloh. "Itu yang ingin didamaikan Pak Surya Paloh. Tapi tidak membahas kasus," kata Erry usai diperiksa penyidik KPK, Senin (12/10/2015).

R24/rno/cnn
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Jumat, 27 Oktober 2017 15:29 wib
SABUNG AYAM DAN PACUAN KUDA ======> AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10% untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5% ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini Terima kasih dan salam succecs Form Bolavita !! [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/3kH5LyG.jpg
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru