riau24 Simak Usaha Sektor Properti Nasional Lewati 3 Krisis | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Simak Usaha Sektor Properti Nasional Lewati 3 Krisis

0
Selain perlambatan ekonomi, ada dua peristiwa ekonomi penting lain, yakni krisis moneter 1997 dan krisis finansial global di 2008...
Berita Riau -  Simak Usaha Sektor Properti Nasional Lewati 3 Krisis
Jakarta, Riau24.comPerlambatan ekonomi Indonesia yang terjadi setahun terakhir tak terlepas dari perlambatan ekonomi dunia. China membawa pengaruh besar, khususnya pada harga komoditas dunia yang merupakan bahan baku industri di China.

Harga komoditas yang menurun tajam di 2014 memukul penerimaan negara yang berakibat turunnya PDB nasional. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh angka R p14.700 pun makin membuat masyarakat harus mengencangkan ikat pinggang.

Sebelumnya, dua peristiwa penting pernah melanda Indonesia, yakni krisis moneter 1997 dan krisis finansial global di 2008 lalu. 

Lantas bagaimana kinerja properti Tanah Air di tiga peristiwa ekonomi penting tersebut? Berikut ulasannya, seperti dinukil dari laman Rumah.com.
Krisis Moneter 1997

Senior Vice President of Research and Consultancy Coldwell Banker Commercial, Tommy Bastami menuturkan, krisis 1997 merupakan krisis terbesar yang pernah melanda Indonesia yang menyebabkan PDB terjun menjadi minus 13 persen, tingkat suku bunga yang tinggi, serta nilai tukar rupiah menukik. Pengaruhnya pun sangat besar bagi sektor properti.

Di sektor apartemen, 1997 merupakan puncak permintaan apartemen strata title dengan permintaan 8.700 unit per tahun.  Namun saat krisis terjadi, permintaan drop menjadi 1.500 unit saja.

Di sisi suplai, pembangunan apartemen mangkrak di sana-sini akibat biaya yang membengkak dan tertutupnya pintu investasi.  Kondisi ini terus berlanjur hingga 2001.

Di sektor ritel, pada 1997 pasokan di Jabodetabek mencapai 1,1 juta meter persegi. Akibat kerusuhan massa, pasokan terjun ritel menjadi 60 ribu meter persegi sementara tingkat hunian hanya 78 persen. Namun, sektor ini kembali pulih pada 1999 dengan mencatatkan permintaan sebesar 139 ribu meter persegi.

“Sektor ritel paling sensitif terhadap perubahan ekonomi dan sosial, namun paling cepat pulih dibanding sektor properti lain,” kata Tommy.

Sektor perkantoran Jakarta pun tengah mengalami pertumbuhan tinggi di 1997 dengan permintaan 340.000 m2. Krisis 1997 membuat demand turun drastis dan membuat okupansi mencapai 735.000 m2. Pembayaran yang selalu menggunakan Dolar juga harus dikaji ulang lantaran Rupiah semakin melemah.
Krisis Finansial Global 2008

Kendati tak separah krisis moneter 1997, krisis finansial global 2008 juga berdampak bagi sektor properti Tanah Air. Permintaan apartemen di 2007 mencapai 13.400 unit dengan suplai 13.800 unit.

Saat krisis terjadi, permintaan apartemen mencapai minus 39 persen yang berlanjut hingga 2010. Belajar dari krisis moneter, pengembang terlihat berhati-hati mengembangkan apartemen, sehingga menunda peluncuran proyek hingga kondisi membaik.

Sektor ritel pun terpengaruh, meski dengan cepat mengalami perbaikan. Di 2007 permintaan ruang ritel di Jabodetabek 310 ribu meter persegi. Saat krisis, terjadi penurunan 41 persen, tetapi segera membaik di 2009 dengan kenaikan 11 persen.

Di sektor perkantoran Jakarta, permintaan mencapai puncaknya di 2008 dengan angka 280 ribu meter persegi. Kendati sempat melemah akibat krisis, kinerja perkantoran Jakarta kembali membaik di 2009.

“Krisis 2008 berpengaruh pada ekonomi global namun tak membuat properti dalam negeri  terpuruk. PDB yang turun, suku bunga yang cukup tinggi, nilai tukar rupiah yang sempat berada di angka Rp 11.000 memang sempat memengaruhi kinerja properti, namun tidak berlangsung lama. Harga komoditas ekspor Indonesia yang berada di puncak, membuat PDB cepat pulih,” papar Tommy.
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru