riau24 Formula 1 di Tepi Jurang Kematian | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

Formula 1

Formula 1 di Tepi Jurang Kematian

0
Formula 1 kehilangan 175 juta penonton dalam enam tahun terakhir. (Mark Thompson/Getty Images)
Berita Riau -  Formula 1 di Tepi Jurang Kematian
Jakarta, Riau24.com - Formula 1 2015 berakhir dengan senyap. Kebisingannya tak lagi terdengar, seperti halnya deru mesin mobilnya yang kian halus dan tak lagi memekakkan telinga. 

Kegembiraan Lewis Hamilton menjadi juara dunia untuk kali ketiga tak menarik perhatian publik dunia. Ketika disandingkan dengan pemberitaan konflik Valentino Rossi kontra Marc Marquez yang terjadi nyaris berbarengan dengan keberhasilan Hamilton menggondol gelar juara, Hamilton kalah telak. 

Cerita soal F1 yang ditinggalkan penggemarnya ini sebenarnya usang. 

Di awal musim, Federasi Otomobil Internasional (FIA) melaporkan bahwa F1 telah kehilangan 175 juta penonton televisi hanya dalam waktu enam tahun. Pada 2008, total 600 juta pasang mata menyaksikan aksi Hamilton mendapatkan gelar juara dunia untuk pertama kali, sementara jumlahnya merosot ke angka 450 juta ketika Hamilton mendapatkan gelar kedua pada 2011. 

Masalah paling utama dalam urusan hak siar ini adalah F1 tidak mendapatkan tempat di Asia dan Amerika Selatan  yang memang memegang populasi penduduk dunia, sementara negara basis penggemar F1 di Eropa pun mulai kehilangan minat. 

Televisi Italia RAI mengeluarkan data bahwa hanya ada tiga juta orang Italia yang menyaksikan F1 2014, sementara di tahun 2000 nilai ini bisa mencapai 11 juta. 

Di Inggris juga terjadi hal serupa. GP Singapura 2015 mencatatkan jumlah penonton paling rendah di Britania Raya sepanjang sejarah, dan bahkan jumlah penontonnya bisa tersaingi oleh pemirsa Piala Dunia Rugbi antara Selandia Baru dan Argentina.  

Jika hak siar menjadi darah segar bagi keberlangsungan industri olahraga, maka semua indikasi menunjukkan kini F1 kian bergerak ke tepi jurang kematian.  

Para pemangku kepentingan bukannya tak menyadari hal ini. 

Berbagai cara dilakukan oleh bos F1 Bernie Ecclestone dan juga petinggi (FIA) untuk membalikkan roda nasib, mulai dari menerapkan sistem poin ganda pada 2014, membatasi pengembangan mesin ketika musim berjalan, hingga yang teranyar adalah nyaris menghapus pesan radio. 

Namun pada akhirnya, kemenarikan F1 memang akan tergantung kepada satu hal: aksi di atas trek. Dan, F1 musim 2015 gagal untuk memberikan jawaban pada hal tersebut. 

Musim F1 2015 diakhiri sebagaimana ia dimulai, dan sebagaimana ia berjalan sepanjang musim: didominasi duo Mercedes, Hamilton dan Nico Rosberg. 

Dari 19 pole position yang tersedia, hanya satu yang bisa diraih oleh pebalap non-Mercedes yaitu ketika Sebastian Vettel mendapatkan pole di GP Singapura. 

Di balapan sebenarnya, Vettel hanya mampu mengganggu kombinasi Hamilton-Rosberg sebanyak tiga kali. Di 15 balapan lain (minus Abu Dhabi), podium pertama selalu dikuasai Mercedes. 

Patut dipertimbangkan bahwa dominasi satu tim bukan hal baru dalam dunia balapan. Di era Alain Prost dan Ayrton Senna bersama McLaren pada periode 1980-1990 pun keduanya sangat mendominasi. Namun tak sampai membikin pebalap-pebalap lain tak mampu memberikan kejutan sama sekali.

Atau, misalnya saja, ketika Vettel menjadi juara dunia kedua kalinya bersama Red Bull di musim 2010. Meski Red Bull bersama Vettel dan Mark Webber dominan, ada empat pebalap yang bersaing memperebutkan gelar juara dunia hingga akhir musim, yaitu Vettel, Webber, Fernando Alonso, dan Jenson Button. 

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru