riau24 Ini Strategi Proyek Konstruksi untuk 5 Tahun ke Depan | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

Ini Strategi Proyek Konstruksi untuk 5 Tahun ke Depan

0
Pembangunan gedung di Jakarta, Rabu (21/1). Melambatnya pertumbuhan sektor riil berpengaruh terhadap bisnis konstruksi yaitu penurunan 20 persen dari proyek swasta yang melibatkan pihak jasa konstruksi secara nasional. TEMPO/Puspa Perwitasari
Berita Riau -  Ini Strategi Proyek Konstruksi untuk 5 Tahun ke Depan
Jakarta, Riau24.com - Program pembangunan infrastruktur selama lima tahun ke depan sulit direalisasikan tanpa kesiapan sumber daya manusia pada sektor konstruksi. Karena itu, perlu strategi jitu untuk dapat menggenjot peningkatan kualitas pekerja konstruksi.

Dalam lima tahun masa pemerintahan saat ini, anggaran pembangunan infrastruktur nasional meningkat hampir 2,5 kali lipat dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya. Padahal penambahan sumber daya manusia dan juga peningkatan kualifikasi badan usaha jasa konstruksi (BUJK) belum sebanding dengan target tersebut.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyadari hal itu dan telah menetapkan sejumlah target hingga 2019.

Berdasarkan data pada Rabu, 9 Desember 2015, Ditjen Bina Konstruksi menargetkan, dalam lima tahun mendatang, akan ada penambahan 10 ribu tenaga ahli atau manajer proyek terlatih, 40 ribusupervisor atau foreman terlatih, dan 10 ribu instruktur atau assessor pelatihan konstruksi. Akan ada 50 ribu insinyur baru konstruksi bersertifikat, 200 ribu teknisi bersertifikat, dan 500 ribu tenaga terampil bersertifikat.

Pemerintah juga menargetkan 30 persen penggunaan beton pracetak dari semua pekerjaan konstruksi tahunan, meningkat dari yang saat ini baru 15 persen. Selain itu, 40 persen dari semua pekerjaan konstruksi ditargetkan sudah akan menerapkan manajemen mutu dan tertib penyelenggaraan konstruksi.

Dalam lima tahun, ditargetkan akan ada 200 kerja sama strategis dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), asosiasi, BUJK, proyek, dan masyarakat. Ekspor jasa konstruksi pun ditargetkan mencapai Rp 1,5 triliun.

“Saat ini baru 6,6 persen tenaga kerja kita yang bersertifikat. Karena itu, metodenya harus kita ubah. Bukan mereka lagi yang datang ke kita untuk urus sertifikat, tapi kita menjemput bola. Kita datangi proyek-proyek besar, kita tes on the job langsung para pekerja kita. Kalau lolos, langsung kita beri sertifikat,” kata Direktur Jenderal Bina Konstruksi Yusid Toyib.

R24/rno 
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru