riau24 Polri Tegaskan Ideologi Gafatar Berbahaya | Berita Riau
Selasa, 12 Desember 2017

Polri Tegaskan Ideologi Gafatar Berbahaya

0
Dari pendalaman sementara, Mabes Polri melihat Gafatar menggunakan kedok mempermudah ritual agama dalam menjalankan Ideologinya. (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Berita Riau -  Polri Tegaskan Ideologi Gafatar Berbahaya
Jakarta, Riau24.com - Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan menyatakan bahwa Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar sebagai organisasi terlarang. Pernyataan ini merujuk pada sikap Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan Gafatar sebagai aliran sesat.

"Gafatar sudah dilarang. Ini berbahaya makanya dilarang MUI," kata Anton saat konferensi pers di Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, Selasa (12/1/2016).

Anton mengatakan, Gafatar dianggap berbahaya karena mengusung ideologi yang menyimpang. Gerakan ini, kata Anton, telah mengatasnamakan Islam namun tidak sesuai dengan syariat agama. 

menyampaikan, Gafatar menggunakan kedok mempermudah ritual agama. Beberapa di antaranya, tidak perlu menunaikan salat lima waktu dan puasa. 


Selain itu mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad bukan nabi akhir zaman. Namun ada utusan terakhir yakni sosok bernama Ahmad Musadeq.

"Ini kedok mereka, agama dipermudah. Bagi yang tidak ingin ribet dan inginnya instan, maka ini sangat menarik," kata Anton. 

Meski telah dilarang, pihak kepolisian saat ini masih mengidentifikasi dan melakukan pendalaman dengan metode intelejen. Mabes Polri memastikan sedang melacak keberadaan para aktivis yang tergabung dalam kelompok tersebut.

"Mereka pasti sudah menyiapkan pimpinan barunya, ini masih dalam penyelidikan. Ideologi memang tidak pernah mati," katanya.

Anton mengatakan, nama Gafatar telah berubah menjadi Negara Karunia Allah (NKA). Menurutnya, nama organisasi semacam ini dapat berubah sewaktu-waktu. Mirip dengan gerakan yang dibangun kelompok teroris.


Namun Gafatar tidak mengambil jalan perjuangan seperti kelompok radikal maupun teroris yang menempuh jalan kekerasan. Anton mengatakan, Gafatar mengusung ideologi berdasarkan kasih sayang dan anti kekerasan.

"Mereka ingin mencari peradaban baru," kata Anton.

Sebelumnya, polisi telah menjemput dokter Rica Tri Handayani dan anak balitanya di Bandara Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Rica dikabarkan hilang bersama anaknya sejak 30 Desember 2015.


Dia tidak berpamitan kepada suami, namun hanya meninggalkan sepucuk surat. Dalam surat itu, Rica meminta izin untuk melaksanakan perintah Tuhan. 

"Ada satu surat di bajunya yang menyatakan pamit dan mau melaksanakan perintah yang kuasa ke jalan Allah," ujar Anton.

Polisi menduga, Rica pergi dari Yogyakarta ke Kalimantan untuk bergabung dengan Gafatar. "Sementara salah satu organisasi, kami duga dari Gafatar," ujar Anton kemarin.

R24/rno 
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru