riau24 Teror ISIS, Mendoktrin Anak dari Usia Sekolah | Berita Riau
Minggu, 17 Desember 2017

Teror ISIS, Mendoktrin Anak dari Usia Sekolah

1
Suasana di kamp pelatihan kelompok militan yang berbaiat kepada ISIS, Ansar Khalifah Filipina (AKP), di Barangay Butril, Palimbang, Filipina, pada November 2015. (Dok. Marconi Navales)
Berita Riau -  Teror ISIS, Mendoktrin Anak dari Usia Sekolah
Jakarta, Riau24.com - Saat adzan berkumandang, pohon Natal dan segala ornamennya selesai terpasang. Ketika daerah lain di Mindanao, Filipina Selatan, gesekan sektarian antara kelompok separatis Muslim dan penduduk Kristen masih kerap terjadi, warga Cotabato hidup dalam harmoni.

Namun kini, harmoni tersebut terancam rusak. Paham radikal mulai menyeruak.

Desember 2015, Angkatan Bersenjata Filipina melakukan operasi pemberantasan sel Ansar Khalifah Filipina (AKP), kelompok teroris yang berbaiat kepada ISIS, di Palimbang, menewaskan setidaknya sembilan orang, termasuk satu pelatih Indonesia bernama Ibrahim Ali Sucipto dari kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur. Beberapa siswa berasal dari Cotabato.

Tak mau keamanan dan keharmonisan daerah pimpinannya terancam, Wali Kota Cotabato, Japal Guiani, tak tinggal diam. Ia pun melakukan investigasi pribadi.


Pintu investigasi terbuka ketika beberapa orang tua dari anak tersebut mengadu kepada Guiani. Kebanyakan dari mereka ketakutan karena anaknya mengaku sedang belajar membuat bom dan memaksa meminta uang. Mereka diancam agar tidak memberi tahu pemerintah.

"Beberapa orang tua tak berani menolak karena menurut ajaran radikal itu, mereka bahkan diperbolehkan membunuh orang tua dan saudaranya jika tidak tunduk pada ajaran itu," ujar Guiani saat ditemui CNN Indonesia di kantornya di Cotabato, Desember lalu.

Racun radikalisme disuntikkan di sekolah

Bahayanya, kata Guiani, ajaran "racun" tersebut pertama kali disuntikkan di lingkungan sekolah. "Anak-anak ini mulai meninggalkan kelas dan mengikuti pengajaran radikal di masjid sekolah mereka," kata Guiani.

Pejabat yang akrab disapa Jojo ini lantas membeberkan bahwa kantong-kantong perekrutan tersebut tak hanya di satu sekolah, tapi di beberapa tempat, seperti STI College dan Notre Dame University.

Setelah otaknya dicuci, para siswa ini tak dapat mengontrol diri untuk menceritakan apa yang mereka pelajari dengan berapi-api. Menurut sumber CNN Indonesia yang tak ingin disebut identitasnya, anak sekolahan ini bahkan sering membahas ajaran radikal tersebut di salah satu warung internet (warnet) di pusat Cotabato.

"Mereka mulai membicarakannya saat Bulan Ramadhan lalu. Awalnya, saya mencoba meluruskan pikiran mereka, tapi mereka berubah menjadi menakutkan jadi saya putuskan untuk diam," katanya kepada CNN Indonesia.

Awalnya, anak-anak ini hanya membicarakan iming-iming kenikmatan jika mengikuti kelompok teror tersebut. Dalam beberapa ajarannya, mereka diberi pemahaman bahwa tak perlu biaya menikah jika ingin membangun rumah tangga dengan perempuan yang mereka idamkan.

"Anak-anak ini kebanyakan masih sangat muda, sekitar 18-21 tahun dan dari kelas menengah ke bawah. Itu menjadi motivasi besar bagi mereka," tuturnya. Dalam baku tembak di kamp ISIS di Palimbang, salah satu korban tewas yang merupakan anggota AKP bahkan masih berusia 16 tahun.


Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, juga mengamini hal ini. "Kebanyakan anak tertarik karena uang atau alasan kekeluargaan, sangat jarang yang karena ideologi," katanya.

Namun tak berapa lama, para anak ini sudah membicarakan mengenai rencana penembakan orang Kristen di pinggir jalan. Mereka bahkan sering terdengar mengatakan bahwa membunuh orangtua sendiri diperbolehkan jika tak tunduk pada ajaran tersebut.

"Mereka terus membicarakan rencana-rencana menyeramkan. Mereka sering bermain Counter Strike, sepertinya untuk mempelajari taktik perang," ucap sumber ini.

Ingin hidup tenang, sumber ini mencoba memendam segala kecurigaannya. Hingga akhirnya, ia mendapatkan kabar bahwa salah satu anak yang sering datang ke warnet tersebut tewas dalam penyerbuan AL di Palimbang.

Ia adalah Mulang Dilangalen, keponakan mantan wakil Gubernur Maguindanao, Umbra Dilangalen. Keluarga tersohor di Mindanao ini pun terguncang.

Saat ditemui CNN Indonesia di kediamannya, Didagen mengaku terkejut ketika mendapatkan kabar tersebut. Pasalnya, keponakannya tersebut dikenal sebagai siswa teknik komputer yang sangat pintar, kebanggaan keluarganya.

Setelah beberapa tahun belajar, keluarga Dilangalen kehilangan jejak Mulang. "Satu hari, dia meminta izin ke ibunya untuk belajar teologi Islam di Kota General Santos, sangat dekat memang dengan Palimbang. Orang tua mana yang bisa menolak anaknya ingin mendalami agama?" tutur Umbra.

Setelah indoktrinasi sudah cukup kuat, kata Guiani, barulah anak-anak ini diboyong ke Palimbang untuk belajar menyerang dan merakit bom. Dalam beberapa foto yang diterima CNN Indonesia, di kamp tempat AL menyergap AKP terlihat bendera ISIS, senapan, dan beberapa utas tali layaknya untuk berlatih militer.

"Ada dua kamp di sana, kamp 1 dan kamp 2. Jika mereka mencoba kabur, pelatih orang Indonesia itu akan menyiksa mereka. Hampir mustahil untuk kabur," kata Guiani.

Namun, ada beberapa anak asal Cotabato yang berhasil kabur tiga hari sebelum operasi AL terjadi. Kini, mereka sudah berada di tangan orang tua masing-masing dengan kondisi kejiwaan sangat terguncang. 

Beberapa siswa lain yang tak berhasil kabur tewas dalam operasi AL itu bersama Sucipto. Sementara itu, satu pelatih asal Indonesia lainnya berhasil kabur dari serbuan AL.

"Dia sangat fasih bahasa Maguindanao. Tidak heran banyak yang tidak menyadari bahwa dia orang asing. Saya sudah mengutus orang kepercayaan saya untuk memonitor orang ini," ucap Guiani.

Perekrut, hubungannya dengan militan Indonesia dan Malaysia


Menurut sumber militer Filipina, perekrut yang berhasil kabur bernama Muhammad Jafaar Maguid alias Takboy Maguid, mantan anggota kelompok separatis Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang pernah mendapatkan didikan langsung dari Abdul Basit Usman. Takboy jugalah yang merekrut kerabat Dilangalen.

Usman bersama kedua rekannya dari Jemaah Islamiyah, Ahmed Faizal bin Sarijan alias Zulkifli, dan tersangka bom Bali, Zulkifli bin Hir alias Marwan, telah menanam akar kelompok teror berpaham ISIS di Filipina sejak 2013 sebagai bagian dari kekhalifahan Asia Tenggara.

Mereka menyatukan para simpatisan ISIS, mulai dari Abu Sayyaf, sempalan MILF seperti BIFF, Justice for Islamic Movement, Khalifah Islamiyah Mindanao, hingga kelompok kecil bersenjata lainnya di bawah bendera AKP.

Menurut Jones, mereka juga bersinergi dengan MIT. "Di awal, seorang anggota MIT, Wahyudin, pernah ke kamp AKP selama dua bulan untuk beli senjata untuk Santoso di Poso," kata Jones.

Namun, Marwan dan Usman akhirnya dipastikan tewas dalam operasi terpisah yang diinisiasi oleh pemerintah Filipina pada 2015 lalu. Sepeninggal mereka, AKP masih memiliki kaki tangan andalan, yaitu Sucipto dan rekan-rekannya.

Independent Strategy and Intelligence Study Group menyatakan bahwa Zulkifli sebelumnya sudah memiliki hubungan erat dengan Sucipto sejak awal 2000-an. 

Kala itu, tepatnya 2003, Sucipto yang merupakan pengawas tempat pelatihan teroris gabungan Filipina dan Indonesia di Mindanao, Kamp Hudaibiyah, ditahan saat sedang berada di Malaysia. Di dalam bui, ia bertemu dengan Zulkifli.

Periode hotel prodeo ini dianggap sangat penting. Di sana, Zulkifli dan Sucipto bertemu dengan Mohd Rafi bin Udin dan Yazid Sufaat. Udin bersama rekannya, Mat Sabu, dibebaskan dan langsung hijrah ke Suriah dan bergabung dengan Katibah Nusantara atau Archipelago Group, unit ISIS untuk membangun kekuatan di Perairan Melayu.

Masih mengacu pada laporan Independent Strategy and Intelligence Study Group, Mat Sabu sendiri kini menjadi komandan yang turun tangan untuk membangun jaringan dengan jihadis Malaysia.


Sementara itu, anggota senior AKP, Muhammad Reza Kiram, dan istrinya, Ellen Jen Tagulao Barriga, juga dilaporkan sudah terbang ke Suriah dan disambut oleh Udin untuk bergabung dengan Archipelago Group.

Melihat kekuatan kian besar, Guiani mendesak pemerintah untuk serius menangani masalah ini, paling tidak dari unit terkecil di daerah-daerah.

Perekrut dari kalangan pemerintah Filipina

Selain Sucipto, Guiani menyatakan bahwa ada perekrut lain yang merupakan anak dari seorang penting di pemerintahan. Satu perekrut lainnya bahkan merupakan unsur pejabat dari Autonomous Region of Muslim Mindanao (ARMM).

"Saya tahu karena anak-anak yang datang kepada saya menangis dan menyebut nama mereka," tutur Guiani.

Menurut Guiani, para pelatih dan perekrut ini mendapatkan uang US$20 ribu sebagai imbalan. Sumber pendanaan AKP memang sangat besar.

"Dari data yang saya terima, ada 20 negara yang mengucurkan dana untuk mereka. Saya tidak akan sebut dulu. Masih dalam penyelidikan saya," kata Guiani.

Dana besar ini menurut Guiani merupakan salah satu faktor utama perekrutan terjadi begitu cepat. Guiani membeberkan, kini ada sekitar 1.000 orang Cotabato dan 2.000 warga wilayah lain yang direkrut oleh AKP. Selain di Palimbang, kamp pelatihan AKP juga tersebar di Sarangani, Lanao, dan Sulu.

Guiani pun menyayangkan sikap pemerintah yang seakan acuh terhadap masalah ini.

"Ini sangat berbahaya. Mengapa pemerintah menutup-nutupi? Biarkan masyarakat sadar dan waspada karena mereka bahkan sudah memiliki rencana untuk mengebom Cotabato, tapi saya berhasil menggagalkannya sebelum terjadi. Jika saya bisa, pemerintah dengan kekuatan besar juga seharusnya bisa," ucap Guiani.

Klaim keberadaan ISIS pun semakin terbuka ketika sebuah video propaganda dilansir pada pekan lalu. Menurut Reuters, video tersebut menunjukkan kemungkinan bergabungnya empat kelompok militan Islam untuk mendirikan wilayat atau provinsi Negara Islam, di Filipina selatan.

Kendati demikian, juru bicara militer Filipina, Restituto Padilla, tetap menampik klaim tersebut.

"Tidak ada yang hubungan yang kredibel, terverifikasi dan langsung [antara keduanya] dan kemungkinan membangun hubungan itu sangat kecil," kata Padilla, dikutip dari Reuters, Selasa (12/1/2016). 

R24/rno 
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Rabu, 13 Desember 2017 12:34 wib
SABUNG AYAM DAN PACUAN KUDA & ANJING ======> AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10% untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5% ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini Terima kasih dan salam succecs Form Bolavita !! [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/Ms1ZMuu.jpg
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru