riau24 Jangan Nyetir Mobil kalau Menderita Penyakit Ini! | Berita Riau
Senin, 18 Desember 2017

Tips Dan Trik

Jangan Nyetir Mobil kalau Menderita Penyakit Ini!

0
Berkendara harus dalam kondisi sehat dan rileks, serta tidak mengidap penyakit berbahaya untuk mengemudi itu sendiri. Shutterstock
Berita Riau -  Jangan Nyetir Mobil kalau Menderita Penyakit Ini!
Jakarta, Riau24.com - Berkendara bagi kebanyakan orang dianggap sebagai kegiatan sampingan. Lantaran dianggap hanya sebagai moda transport memindahkan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain.

Namun patut Anda ketahui, bahwa mengendarai mobil merupakan kegiatan utama. Seperti yang diungkapkan beberapa instruktur safety driving, bahwa berkendara tak boleh dianggap sebelah mata. Makanya ada syarat-syarat utama bagi mereka yang ingin berkendara di jalan raya.

Diriis dari ulasan Carmudi, beberapa penyakit berikut, penderitanya tidak disarankan untuk mengemudikan mobil. Penyakit tersebut di antaranya adalah:

1. Hemianopsia
Hemianopsia adalah penyempitan bidang penglihatan yang mengakibatkan penderitanya memiliki pandangan yang terbatas. Penderita hanya melihat separuh bagian dari bidang penglihatan.  

Obyek yang tadinya terlihat bisa tiba-tiba hilang dan menjadi gelap. Hal ini dikarenakan otak penderita mengalami kerusakan organik yang bisa disebabkan oleh stroke atau cedera kepala.
Peneliti menyatakan penderita hemianopsia tidak disarankan untuk menyetir karena penderita mengalami kesulitan mendeteksi pejalan kaki atau objek bergerak lainnnya di jalan raya.

2. Panic Attack atau Panic Disorder
Panic attack adalah serangan kepanikan yang menjurus kepada ketakutan hebat yang terjadi tiba-tiba tanpa ada sebab apapun sebelumnya. Panic attack dapat menyerang kapan saja dalam kondisi apapun. Penderita panic attack yang telah mengalami serangan sedikitnya empat kali sudah dikategorikan menderita Panic Disorder.

Penderita panic attack sering disalahartikan sebagai penderita penyakit jantung karena secara umum gejalanya sangat mirip dengan serangan jantung, mulai dari detak jantung yang sangat cepat dan berdebar-debar, pusing, kepala seperti melayang, badan terasa dingin, napas pendek-pendek, dan seakan-akan merasa akan meninggal atau sekarat.

Panic attack sering menyerang pada saat penderita sedang menyetir mobil, dan oleh karenanya penderita yang sering terserang panic attack tidak disarankan menyetir mobil terutama ketika sendirian karena dapat mengancam keselamatan diri sendiri dan orang lain.

3. Epilepsi
Epilepsi adalah kelainan yang disebabkan oleh terbentuknya sinyal listrik dalam otak yang menyebabkan kejang berulang. Penderita epilepsi dilarang untuk mengemudi karena epilepsi sering muncul tiba-tiba yang menyebabkan penderita kehilangan keseluruhan kontrol akan dirinya, otot menjadi kaku, pergerakan tidak terkontrol, dan penurunan kesadaran.

Penderita epilepsi sangat rentan terpapar cahaya kendaraan yang sangat terang secara tiba-tiba. Di banyak negara, penderita epilepsi diperbolehkan menyetir dengan aturan tertentu. Di Amerika Serikat, bila dalam dua tahun berturut-turut tidak terkena serangan penderita epilepsi diperbolehkan untuk menyetir. Sayang sekali, belum ada peraturan sejenis di Indonesia yang mengatur tentang hal ini.

4. Vertigo
Terserang vertigo ketika menyetir sangat membahayakan. Penderita vertigo harus segera menepi di tempat aman dan beristirahat dan sebaiknya tidak memaksakan untuk terus mengemudi. Vertigo adalah rasa sakit kepala seakan-akan kepala berputar hebat yang disebabkan gangguan keseimbangan, seringkali disebabkan gangguan pada telinga bagian dalam.

Penyakit vertigo sering datang secara tiba-tiba, sehingga bagi siapapun yang terserang vertigo ketika menyetir mobil, sangat disarankan untuk langsung menepi dan tidak memaksakan menyetir karena sangat berpotensi menyebabkan kecelakaan.

“Beberapa penyakit tertentu memang tidak disarankan untuk menyetir karena sangat membahayakan. Kami berharap ada peraturan lalu lintas khusus bagi pengidap penyakit-penyakit tertentu tentang pembatasan boleh atau tidaknya mengemudi. Indonesia dapat mencontoh negara-negara yang telah mengatur tentang hal ini. Misalnya penderita epilepsi di Amerika Serikat diperbolehkan mengemudi asalkan dalam dua tahun berturut-turut tidak terserang penyakit tersebut,” tutup Puji Agung Budiman, Public Relations Manager Carmudi Indonesia.

R24/rno 
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru