riau24 Jangan Buru-Buru "Hakimi" Brigadir Petrus | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Jangan Buru-Buru "Hakimi" Brigadir Petrus

1
Berita Riau -  Jangan Buru-Buru

MEDAN – Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam Soleh, mengutuk keras aksi kejam Brigadir Petrus Bakus, yang memutilasi dua anak kandungnya yang masih balita, Fabian (4) dan Amora (3).

Asrorun meminta agar personel Satuan Intelkam Polres Melawi itu dijatuhi hukuman mati, karena aksi Brigadir Petrus dianggap telah menistakan kehormatan kemanusiaan. Asrorun juga meminta agar proses hukum terhadap Brigadir Petrus dipercepat, sehingga memberikan jaminan tegaknya keadilan pada masyarakat.

Namun pandangan berbeda datang dari Direktur Minauli Consulting, Dra. Irna Minauli, M.Si, Psikolog. Menurutnya, sebelum menuntut mati Brigadir Petrus, penyidik kepolisian harus membuktikan bahwa tersangka benar-benar waras dan dalam kondisi sadar saat melakukan aksi kejam terhadap dua anak kandungnya.

“Dalam Psikologi Forensik ada yang dikategorikan sebagai NGRI (Not Guilty by Reason of Insanity), yaitu suatu kondisi di mana pelaku dianggap tidak bersalah karena ia mengalami gangguan jiwa. Sehingga mereka melakukan suatu kejahatan dalam keadaan tidak sadar. Jadi kewarasan merupakan salah satu syarat untuk dapat dilakukan hukuman mati,” jelas Minauli kepada Okezone, Sabtu (27/2/2016).

“Itu sebabnya banyak pelaku kejahatan yang kemudian pura-pura "gila" guna menghindarkan diri dari hukuman mati,”tambahnya.

Dalam kasus Brigadir Petrus ini, lanjut Minauli, Petrus dinilai memiliki kecenderungan gangguan kejiwaan berat (skizofrenia). Kecenderungan itu terlihat dari sikap Brigadir Petrus yang menunjukkan sering berhalusinasi dan berdelusi, sebelum dan sesudah membunuh serta memutilasi kedua anaknya.

“Kasus ini berbeda dengan kasus Dukun AS (Ahmad Suradji) atau Ryan Jombang yang meskipun memiliki kemungkinan adalah penderita gangguan kepribadian antisosial (anti social personality disorder), namun ketika melakukan pembunuhan mereka melakukannya dalam kondisi sadar. Mereka tahu apa konsekuensi dari perbuatannya. Kasus mereka dapat dikategorikan sebagai GBMI (Guilty but Mentally Ill),” paparnya.

Meski begitu, terlepas dari apapun nantinya hukuman yang dijatuhkan kepada Brigadir Petrus, Minauli menyarankan agar Brigadir Petrus segera mendapat penanganan psikiatri agar gangguan jiwa yang dialaminya. Sehingga kecenderungan gangguan jiwa tersebut tidak sampai mengganggu orang lain.

“Jika dibiarkan bebas berkeliaran, dikhawatirkan akan menimbulkan korban lain. Potensi ini sebenarnya masih banyak di Indonesia, di mana banyak penderita Skizofrenia dibiarkan berkeliaran. Mereka dapat membahayakan keselamatan orang lain maupun dirinya sendiri,” tandasnya.

Skizofrenia sendiri diakui Minauli, merupakan bentuk gangguan jiwa yang berat sehingga harus ditangani secara medis. Meski demikian, dukungan sosial dari keluarga, teman dan lingkungan cukup membantu. “Secara teoritis tingkat kesembuhan seringkali agak kecil peluangnya. Terlebih karena sikap masyarakat yang negatif terhadap penderita gangguan ini.


R24/dwi/oke 

Video Channel Riau24 TV




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Senin, 06 November 2017 23:38 wib
SABUNG AYAM DAN PACUAN KUDA ======> AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10% untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5% ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini Terima kasih dan salam succecs Form Bolavita !! [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/cxXuCWP.jpg
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru