riau24 Tati Wahyuni : Kalau Terlambat Bansos Tidak Dapat | Berita Riau
Rabu, 13 Desember 2017

Tati Wahyuni : Kalau Terlambat Bansos Tidak Dapat

0
Berita Riau -  Tati Wahyuni : Kalau Terlambat Bansos Tidak Dapat
Meranti, Riau24.com - Kebijakan yang diambil Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Merbau, Tati Wahyuni, SPd dalam pengelolaan dana Bantuan Sosial
(Bansos) yang didapatkan dari Program bantuan untuk wilayah terpencil dari Pemerintah Pusat sebesar Rp. 700.000.000,- awalnya sempat menjadi pertanyaan bagi sejumlah pihak terutama Komite yang mewakili seluruh orang tua siswa di Sekolah itu.

Dimana dalam pengelolaan anggaran Bansos tersebut diduga sebelumnya
tidak dilakukan musyawarah secara terbuka terlebih dahulu dengan pihak
Komite Sekolah.

Hal ini disampaikan Ketua Komite SMAN 1 Merbau, Drs Chairum Arfan, MM
saat dikonfirmasi Riau24.com, Senin (7/3/2016) sore kemarin melalui sambungan Handphone selulernya mengatakan, sebelumnya kemarin memang benar pihak sekolah tidak ada melakukan musyawarah secara terbuka dengan kita terkait penggunaan anggaran Bansos tersebut, namun diakuinya, saat ini semua tidak ada masalah lagi dan kita juga sudah dilibatkan dalam panitia penggunaan anggaran Bansos tersebut sebagai anggota.

“Pada hal dalam penggunaan anggaran dana Bansos tersebut sebelum
pelaksanaan dilakukan itu tentu harus dilakukan musyawarah terlebih
dahulu sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku”.

Arfan menambahkan, diharapkan kedepan segala urusan yang berkaitan
dengan sekolah tersebut harus melibatkan langsung pihak Komite Sekolah agar semua bisa berjalan dengan baik dan lancar sebagaimana mestinya, pungkas mantan Kepsek SMP Negeri 1 Merbau itu.

“Untuk diketahui, sebelumnya, sempat dikabarkan dalam sisi bangunan
penggunaan tanah timbun dalam bangunan tersebut sempat dipersoalkan
oleh pemilik tanah yang diduga tersalah ambil salah seorang tanah milik warga disekitar belakang sekolah SMA tersebut”.

Ketua Pelaksana penggunaan dana Bansos SMA Negeri 1 Merbau, Solikin,
SPdI belum berhasil dikonfirmasi karena saat itu, karena Ia masih berada di ruang belajar sekolah.

Menanggapi hal ini, Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Merbau, Tati
Wahyuni, SPd saat dimintai tanggapan di ruang kerjanya, Senin (7/3/2016) kemarin kepada Riau24.com menjelaskan bahwa sebenarnya Bantuan Sosial (Bansos) kita yang dapat dari Program bantuan untuk wilayah terpencil dari Pemerintah Pusat adalah sebesar Rp. 700.000.000,- kepada Sekolah SMA Negeri 1 Merbau.

Mengingat untuk mendapatkan anggaran ini pihak Penyaluran anggaran
saat itu minta kepada kita untuk menyelesaikan semua syarat
administrasinya dalam jangka waktu hanya 1 (satu) minggu lamanya, ini
yang menyebabkan kita dari pihak Sekolah tidak sempat melakukan rapat
secara bersama, sehingga kita arahkan dan tunjukkan langsung Bapak Solikin, SPdI (Guru SMAN 1 Merbau,red) sebagai Ketua Pelaksana penggunaan anggaran Bansos kali ini.

Hal ini disebabkan jika kita terlambat menyelesaikan atau menyerahkan
syarat administrasinya kepada pemerintah pusat maka bantuan anggaran Bansos ini kita tidak bisa mendapatkannya dan dinyatakan gagal,
jadikan sayang kalau kita lambat guna mendapatkan anggaran itu, beber
Tati.

Sebenarnya saya pun tidak menyangka kita bisa mendapatkan Bansos ini,
namun melalui hubungan Handphone secara langsung kepada saya, “Buk,
dari SMAN 1 Merbau mendapatkan Bansos tolong disiapkan semua prosesnya dengan jangka waktu paling lama 1 minggu”. Jadi saya diinstruksikan membuka email sekolah dan lihat secara keseluruhan semua
persyaratannya dan bergegas kita siapkan dengan waktu yang singkat
sehingga untuk melakukan rapat atau musyawarah itu tidak sempat dilakukan, ujar perempuan berjilbab itu.

Dari jumlah anggaran Rp. 700.000.000,- itu semuanya ada sebanyak 4 paket pembangunan yang kita lakukan yakni terdiri dari pembangunan 1 ruang labor Komputer lengkap dengan Komputer, invokus dan peralatan labor didalamnya, 1 ruang belajar lengkap dengan kursi dan mejanya, pembangunan WC Guru 2 buah dan Toilet Siswa 2 buah dan ditambah buku referensi untuk Sekolah sesuai Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang kita dapatkan dan kita usulkan. Diakuinya, sejauh ini diprediksikan
pembangunannya sudah mencapai 85 persen pengerjaannya, ungkap Tati.

Saat ditanya Wartawan terkait suaminya (Zahur,red) yang ikut melaksanakan pembangunan saat ini dikerjakan, Tati Wahyuni dengan santai menjawab bahwa hal itu sebenarnya bang Zahur (suaminya,red) sedikitpun tidak ada dalam panitia itu, itu disebabkan karena saya ini perempuan sehingga sebagai seorang suami Bang Zahur itu menolong saya untuk mencarikan bahan-bahannya, tidak mungkin saya sebagai perempuan yang mencari semua itu, jelasnya.

Sementara itu, untuk Konsultannya kita minta bantuan warga kita di Teluk Belitung ini guna membuat spek atau item-item yang diperlukan dalam rekapitulasi anggaran Bansos yang kita dapatkan tersebut melalui bantuannya dan menggunakan CV milik temannya di Bengkalis, ujar Tati menjawab.

Dengan hal ini, kita sangat berharap kepada seluruh masyarakat jangan
pesimis dan berburuk sangka terhadap kita, artinya jika ada permasalahan diharapkan langsung datang ke Sekolah sehingga kita bisa duduk bersama dan bicarakan sebaik mungkin, jangan sampai hanya memojokkan sekolah saja.

“Ini lah masyarakat kita bang, mereka melihat hanya menggunakan mata saja, kalau ada bantuan salah, tidak ada bantuan pula salah, kalau kita berbuat salah juga, kalau kita tidak berbuat tambah lagi disalahkan, sehingga bagaimana lah sekolah kita ini mau berkembang, jadi serba salah kita dibuatnya dan akhirnya kita pesimis jadinya kan!!”, ungkap Kepsek SMAN 1 Merbau itu mengeluh.

Terkait persoalan tanah timbunan yang sebelumnya dikabarkan diduga
bermasalah, Tati Wahyuni menjawab persoalan tanah tersebut sudah
diselesaikan, sebenarnya itu bukan urusan saya pak, dimana saya beli
tanah dengan buruh itu pergoninya Rp. 3.500,- jadi karena kita memberi
sedikit kemudahan kepada buruh saat itu, kita sarankan untuk mengambil
tanah pantai yang tinggi dibelakang Sekolah SMAN 1 Merbau ini yang
tidak jauh bersempadan dengan tanah masyarakat kita disitu, namun sebelumnya sudah kita beritahu batas wilayah tanah masyarakat dengan
tanah sekolah kepada buruh tersebut.

Ternyata dilapangan kemungkinan buruh ini ingin senang saja dalam
kerjanya, buruh tersebut saat mengambil tanah ternyata merambah sampai ke tanah milik seorang warga kita saat itu, akhirnya kita duduk
bersama dan mendapat kesepakatan kita tetap membayar upah buruh
tersebut Rp. 3 juta dan bayar ganti rugi terambil tanah milik warga itu Rp. 3 Juta, sebenarnya ganda saya bayar tapi tak apa-apa lah, pungkas Tati Wahyuni menjawab isu tersebut.


R24/jef/ndi
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru