riau24 Apa yang Terjadi di Luar Angkasa Saat Gerhana Matahari Total | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

Apa yang Terjadi di Luar Angkasa Saat Gerhana Matahari Total

0
Berita Riau -  Apa yang Terjadi di Luar Angkasa Saat Gerhana Matahari Total

Jakarta, Riau24.com - Bila di Bumi, fenomena gerhana matahari total (GMT) disambut dengan penelitian dan ragam aktivitas lainnya. Lalu apa yang dilakukan di luar angkasa bila fenomena ini berlangsung?

Peneliti astronomi di Observatorium Bosscha, Moedji Raharto mengatakan bahwa banyak kemungkinan yang terjadi di luar angkasa saat fenomena alam ini sedang berlangsung.

Ditemui CNNIndonesia.com di Bosscha beberapa waktu lalu, Moedji menuturkan, para peneliti memang tidak boleh lengah terhadap pengamatan di sekitar Matahari.

"Sebetulnya pengamatan melalui satelit sering dilakukan, namun kita tidak bisa memprediksi secara pasti apa yang akan terjadi di sekitar Matahari. Setidaknya kami bisa mengamati aktivitas Matahari, apakah sedang quiet atau aktif," kata Moedji.

Secara singkat, siklus quiet Matahari yang dimaksud adalah ketika sang surya dalam kondisi tenang tanpa terlihat adanya bintik atau sunspot di permukaannya.
Lain halnya ketika Matahari sedang berada di fase aktif. Ia bisa penuh dengan letupan, suar, dan radiasinya sedang berada di puncaknya.

Moedji menuturkan, jika Matahari sedang dalam fase aktif maka ada medan magnet yang mengirimkan panas dan menciptakan coronal mass ejection (CME) yang kemudian berpotensi dilontarkan ke arah Bumi.

Coronal mass ejection adalah ledakan besar dari gas dan medan magnet yang timbul dari korona Matahari dan dilepaskan ke angin Matahari.

"Kalau sewaktu-waktu ada CME yang meluncur keluar dari Matahari saat Gerhana, tentu Bulan akan menjadi sasaran terlebih dahulu, namun Bulan kemungkinan tidak akan kena karena ia keburu lewati Matahari," jelas Moedji lagi.

Kemudian jika letupan Matahari ini lanjut mengarah ke Bumi, ada juga kesempatan bahwa ia akan masuk ke planet ini.

"Jika masuk ke Bumi dan mengarah ke kawasan Kutub Bumi, maka salah satu penyebabnya adalah terciptanya fenomena aurora," ucapnya.

Seperti yang diketahui, fenomena Northern Lights yang lebih populer dengan sebutan Aurora borealis itu bisa terlihat di kawasan utara seperti Kanada, Alaska, Greenland, Islandia, dan Norwegia.
Aurora borealis sendiri adalah fenomena ketika langit utara menampilkan cahaya berwarna hijau dan merah muda, kadang-kadang juga memperlihatkan bayangan warna merah, kuning, biru, dan ungu. Aurora juga seringkali dinamakan sebagai dancing lights atau cahaya menari.

Selain itu, Moedji juga menambahkan, hal-hal tak terduga juga sangat mungkin terjadi. Ia memberi contoh objek antariksa seperti komet yang bisa sewaktu-waktu sedang terbang melintas ke dekat Matahari.

"Meski kita tidak tahu pastinya, tapi kemungkinan seperti komet mendekat dan meledak di sekitar Matahari ya sangat mungkin. Tapi itu memang sulit dipastikan," katanya, mengenai posibilitas fenomena luar angkasa yang tak terduga saat Gerhana Matahari.

Gerhana Matahari Total tak lama lagi akan berlangsung, yakni 9 Maret esok. GMT tahun ini hanya bisa diamati dari Indonesia.

Sebelum 2016, GMT terakhir terjadi pada tahun 1995. Sebagaimana penuturan Moedji, bahwa "setiap fenomena gerhana memiliki keunikan sendiri". Maka untuk tahun ini, ia berharap tim peneliti Tanah Air bisa menemukan hal baru yang menarik untuk diamati.


R24/dev/cnn 

Video Channel Riau24 TV




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru