riau24 Jikalahari Desak Presiden dan Panglima TNI Pecat Danlanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Henri Alfiandi | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Jikalahari Desak Presiden dan Panglima TNI Pecat Danlanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Henri Alfiandi

0
Berita Riau -  Jikalahari Desak Presiden dan Panglima TNI Pecat Danlanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Henri Alfiandi

Pekanbaru, Riau24.com- Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mendesak Presiden Joko Widodo dan dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pecat Marsekal Pertama (Marsma) TNI Henri Alfiandi karena telah melanggar instruksi 18 Januari 2016, saat Presiden Jokowi taja Rapat Koordinasi Nasional Pencegahan Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) di Istana Negara.

Desakan ini juga berhubungan dengan pernyataan Danlanud Henri yang menyayangkan pihak LSM dan LAM yang menyudutkan pemerintah dalam upaya penindakan Karlahut.

"Jokowi memerintahkan salah satunya TNI untuk memadamkan api, bukan bikin pernyataan menyudutkan rakyat melakukan gugatan asap bahkan menyebut orang Melayu pembakar hutan dan lahan," ungkap Koordinator Jikalahari, Woro Supartinah, Sabtu (19/3/2016).

Mestinya, kata Woro, Danlanud berterima kasih kepada perwakilan rakyat Riau yang mengingatkan pemerintah untuk menyelesaikan Karlahut dan asap secara tuntas dan tidak menjadikan TNI menjadi pasukan pemadam kebakaran.

Berdasarkan hasil investigasi Jikalahari, satu diantaranya, pelaku pembakar hutan dan lahan sesungguhnya yang menginspirasi, sengaja atau tidak adalah perusahaan sawit. Modusnya, cukong-cukong menyuruh warga merambah kawasan hutan, lantas menyuruh warga membakar hutan dan lahan untuk selanjutnya ditanami sawit lalu menjaga lahan tersebut hingga panen.

"Cukong memerintahkan warga untuk merambah kawasan hutan dan lahan korporasi dengan dalih klaim adat dan klaim keperdataan, lantas mereka bakar dan tanami sawit, dan TBS nya dijual ke korporasi sawit terdekat," ujar Woro.

Artinya, sambung Woro, korporasi sawit langsung atau tidak, sengaja atau tidak, telah menginspirasi cukong warga untuk menjual sawit ke pabriknya. Sawit di Riau menjadi primadona karena keuntungan yang besar.

"Jikalahari memahami bahwa Lanud cuma menemukan pelaku pembakar di lapangan. Harusnya Marsma Henri melacak juga siapa pemodal alias cukong yang menyuruh warga membakar lahan dengan iming-iming duit," lanjut Woro.

"Saya usul pada Marsma Henri untuk melihat dan membaca kasus-kasus Karlahut yang sudah dihukum di seluruh pengadilan negeri di Riau. Kalah tidak punya bahannya, saya akan kirimkan ke Marma Henri," kata Made Ali, dari Riau Corruption Trial.

Jikalahari juga mendesak Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau memberi sanksi adat kepada Marsma Henri karena menyebut kebiasaan orang Melayu membakar hutan dan lahan.

"Temuan Jikalahari sejarah perkembangan hutan dan lahan sangat masif dan tak sesuai dengan budaya Melayu sejak korporasi HTI dan sawit beroperasi di Riau. Apalagi, budaya Melayu menyebut hutan tanah bagi orang Melayu bersebati dan saling berkait, bahkan hutan dan tanah adalah marwah melayu," imbuh Woro.

"Kami mendesak LAM Riau, Plt Gubernur Riau dan DPRD Riau memberi sanksi adat pada Marsma Hendri dengan cara mendesak Jokowi dan Panglima TNI memecat Marsma Henri Alfiandi," ujar Woro.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional pencegahan Karlahut beberapa waktu lalu, Jokowi memberi arahan kepada seluruh pejabat negara untuk bergerak dalam pencegahan Karlahut. "Jangan dibiarkan sudah terbakar baru bergerak. Tinjau ke lapangan, jangan hanya memantau dari belakang meja," kata Jokowi.

Jokowi juga memerintahkan untuk adanya perbaikan dan penataan ekosistem. Tidak boleh ada izin baru atas area gambut. Kementerian LHK diminta untuk ambil alih area gambut yang terbakar.

Begitupun untuk pihak penegak hukum, diinstruksikan untuk lakukan langkah tegas pada pembakar lahan dan hutan, baik administrasi, pidana maupun perdata.

"Secara berkala saya akan meninjau ke lapangan untuk memastikan tahun 2016 kita bisa mendegah Karlahur dengan baik. Tetap bekerja, jangan sampai kabut asap datang lagi," imbuh Jokowi.

R24/uci

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru