riau24 Penjualan Merosot, Perusahaan Sawit Bakrie Rugi Rp 514 M | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

Bisnis

Penjualan Merosot, Perusahaan Sawit Bakrie Rugi Rp 514 M

5
Berita Riau -  Penjualan Merosot, Perusahaan Sawit Bakrie Rugi Rp 514 M

Jakarta, Riau24.com - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 514,569 miliar di sepanjang tahun 2015. Rugi ini menyusut 17,5% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 623,581 miliar.

Demikian disampaikan perseroan dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/3/2016).

Perseroan membukukan nilai penjualan sebesar Rp 2,021 triliun disepanjang tahun 2015 atau merosot 23,33% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,636 triliun.

Penjualan tersebut berasal dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 1,5 triliun dan komoditas karet Rp 0,5 triliun.

Produksi inti dua komoditas itu tetap stabil di tengah pelemahan harga komoditas di pasar global, diskon harga domestik CPO (Crude Palm Oil) akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

"Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan 'zero-burning' (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktifitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie," ujar Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto.

Menurut Andi, pada tahun 2014 lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%. Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO masih dalam tren penurunan harga yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga ke level terendah bulanan US$ 480 per ton.

FOB Malaysia di sepanjang 2015 dibandingkan harga di sepanjang 2014 yang level terendahnya saat itu tercatat US$ 620 per ton. Data pasar menunjukkan harga CPO pernah mencapai level tertinggi US$ 1.200 per ton di awal 2011.

"Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya dan berhasil mempertahankan produksi kebun inti sawit dan karet. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka," paparnya.

Lebih lanjut, Andi menyebutkan, kondisi El-Nino di tahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di kuartal I-2016.


R24/dev/det 

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Billa
Rabu, 30 Maret 2016 15:50 wib
kasihan..cup..cup
Rea
Rabu, 30 Maret 2016 15:50 wib
Rasanya sungguh adil hidup ini..... Ketawa ketiwi
Reynold
Rabu, 30 Maret 2016 15:49 wib
Sudah saatnya mungkin pak ARB bertaubat dari semua sisi. Masalah Lapindo, masalah pajak, masalah Golkar. Mudah2an dengan taubat nasuha diikuti dengan sedekah yang iklas (tak perlu ada press conf.) semuanya bisa terselesaikan. Aamiin..
Juna
Rabu, 30 Maret 2016 15:49 wib
Alhamdulilah.....
Dedi
Rabu, 30 Maret 2016 15:49 wib
Tuhan Maha Adil...
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru