riau24 Harga BBM Turun, Namun Harga Daging Tak Sedikitpun Menurun | Berita Riau
Senin, 11 Desember 2017

Harga BBM Turun, Namun Harga Daging Tak Sedikitpun Menurun

0
Berita Riau -  Harga BBM Turun, Namun Harga Daging Tak Sedikitpun Menurun
Pekanbaru, Riau24.com- Turunnya harga BBM bersubsidi yakni Premium dan Solar sebesar Rp 500 sejak awal April lalu, ternyata tidak berpengaruh pada komoditi daging yang masih mahal dan tak kunjung menurun.
 
"Kita juga heran. Padahal harga BBM sudah turun sejak awal April lalu tapi harga daging masih saja segitu. Harusnya sedikit menurun karena faktor yang membuat harga daging tinggi itu karena biaya tansportasi yang cukup tinggi," kata Firdaus, Rabu (6/4/2016). 
 
"JIka sekarang harga daging per kilonya Rp120 ribu ya seharusnya bisa turunlah jadi Rp115 ribu. Selisih segitu juga turut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang kini mulai menurun dan lesu. Jangan kalau pas BBM naik saja harganya naik, sedangkan waktu BBM turun seperti sekarang ini, harganya tak mau turun juga," lanjutnya.
 
Firdaus juga menungkapkan harga daging tidak kunjung turun karena pasokan daging di pasaran untuk Riau tidak ada penambahan sama sekali dari Bulog yang ada di pusat, Jakarta. Jika ada persetujuan dari Bulog untuk menambah kuota daging sapi dari pusat untuk Riau, mungkin harga daging sapi bisa sedikit dikendalikan sehingga harganya bisa turun dan tidaj semahal sekarang.
 
Seharusnya, ujar Firdaus, Dinas terkait seperti Dinas Peternakan dapat memenuhi kuota kebutuhan daging masyarakat Riau yang sangat tergantung pada daging impor dibanding daging lokal. Karena selain membantu peternakan lokal, hal tersebut juga membuat stabilitas harga lebih bisa dijamin ketimbang kondisi kini yang cenderung lebih banyak dipasok dari daging impor Australia.
 
"Daging kita itu diimpor dari Australia kemudian diturunkan dari Lampung dan Jawa. Dari sana lah kita memasok kebutuhan daging kita yang ada di Riau ini. Selisihnya sekitar enam banding emat untuk daging impor dan lokal. Makanya harga daging harus diseimbangkan dengan pengendalian kebijakan dari kuota dan harga dari Bulog. Kalau kita sulit melakukannya karena kita hanya mendistribusikannya saja," sambungFirdaus.
 
Akibat masih tingginya harga daging sapi di pasaran, ada penurunan daya beli masyarakat untuk daging sapi hingga mencapai 20 persen. Penurunan ini kebanyakan dialami oleh konsumsi rumah tangga.
 
"Kalau yag masih stabil itu dari sektor perdagangan makanan jadi seperti rumah makan, bakso, sate dan lainnya. Karena mereka tak bisa mengganti komoditasnya. Sedangkan kalau rumah tangga kan bisa disubstitusikan dengan yang lain," pungkasnya.
 
R24/uci
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru