riau24 Mengenang Pramoedya Ananta Toer | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Nasional

Mengenang Pramoedya Ananta Toer

1
Berita Riau -  Mengenang Pramoedya Ananta Toer
Jakarta, Riau24.com  - Meskipun telah lama meninggal, tepatnya pada 30 April 20016 nama Pramoedya Ananta Toer tetap menggema sepuluh tahun dalam dunia jurnalistik.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh August Hans den Boef dan Kees Snoe, sosok Pramoedya Ananta Toer dalam sampul buku terlihat tampak garang. Dengan kacamata membingkai wajah, rokok terselip di mulut, kacamata membingkai wajah, serta menggunakan kaus putih, ia tampak begitu keras dan teguh dan bagai seorang penantang yang tak pernah menyerah.

Pram, demikian ia dikenal, lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Ayahnya, Mastoer Imam Badjoeri, seorang guru yang tadinya bekerja untuk sekolah dasar pemerintah, HIS, di Rembang. Ayahnya lantas menjadi kepala sekolah milik pergerakan Boedi Oetomo di Blora, sementara ibu Pram, Saidah, adalah anak seorang penghulu.

Gaji guru Boedi Oetomo sangat kecil, sehingga ibunya harus menambah penghasilan dengan bekerja di sawah atau pekarangan rumah. Pram anak sulung. Suasana di Blora tampaknya begitu menyedihkan, apalagi ayahnya begitu keras.

Sang ayah, seorang nasionalis yang keras hati, tampaknya begitu kecewa dengan keadaan pergerakan. Ia juga kesal karena Pram tak sepintar yang diharapkannya. Pram sempat tidak naik sekolah tiga kali. Keadaan bertambah buruk saat ibunya meninggal karena penyakit TBC pada usia 34 tahun. Pram lantas pergi ke Jakarta.

Segala kegelisahan, kekagumannya pada sang ibu, dan kemarahannya pada sang ayah kemudian maujud dalam karya-karyanya. Ia tampak tak puas dan marah kepada hidup yang barangkali hanya memberinya kebahagiaan sejenak.


Karya awalnya, Kranji-kranji Jatuh, Perburuan, dan Keluarga Gerilya dengan segera menunjukkan kegeramannya pada penguasa. Pram sepertinya mengenang kala tentara Belanda dengan sewenang-wenang pernah membakar buku koleksi ayahnya.

August Hans den Boef dan Kees Snoek dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (2008) mengatakan karya-karya Pramoedya telah menciptakan gambaran tidak terhapuskan tentang tanah air dan sejarahnya. Inti dalam karya Pram adalah nasib rakyat. Rakyat dalam kehidupan sehari-hari, rakyat yang bertahan untuk mencari nafkah, serta rakyat yang dilukiskan dalam ambisi-ambisinya yang sering dikekang.

Dalam Perburuan, Pram jelas menyuarakan kebencian pada orang-orang Indonesia yang jadi kolaborator Jepang, sementara tokoh Amilah dalam Keluarga Gerilya tampaknya diambil Pram dari sang ibu. Adapun tokoh Wahab didasarkan Pram pada Komandan Wahab, seorang pejuang kemerdekaan yang dijatuhi hukuman mati oleh Belanda.

Pram menggambarkan pengalamannya dipenjara di Bukit Duri dan Pulau Edam dalam sebuah roman tebal, Mereka jang Dilumpuhkan. Dalam roman ini begitu banyak kisah tentang manusia, begitu banyak kehidupan serta riwayat-riwayat kecil dan besar. Di dalamnya Pram menulis:

Untuk siapa saja yang boleh kusebut adikku

Mula-mula aku merasa—perasaan yang berjalan dengan tiada kesadaranku bahwa di dunia ini hanya akulah yang ada. Pastilah engkau tertawa karena kesombongan itu, tapi semua itu sudah berjalan dengan tak setahuku, semua itu sudah jadi sebagian dari sejarah.

Dan tembok yang tinggi dilapisi oleh pintu besi dan pintu kayu berangkap-rangkap itu, adikku, itulah yang membukakan mataku. Ya, kemudian aku tahu bahwa banyak manusia di dunia ini.

Karena itu, adikku, dengan sengaja tulisan ini kubuat untuk memperlihatkan padamu, dunia ini penuh oleh manusia—bermacam-macam manusia. Dan aku banyak berkenalan dengan manusia-manusia dalam tulisanku ini.

Manusia Bubu, Manusia Penjara

Djakarta, Maret 1950.


Secara keseluruhan dalam roman ini Pram malah ingin mencitrakan bahwa “penjara adalah universitas bagi kaum revolusioner”.

Pram juga menampilkan dunia rakyat jelata yang bagi orang Belanda tak dikenal. Dalam Cerita dari Blora,  Pram menampilkan kehidupan sehari-hari orang Indonesia di masa yang penuh kekerasan selama dan langsung sesudah penjajahan Belanda.

Sementara dalam Bukan Pasar Malam tampak sekali kekecewaan Pram terhadap ayahnya. Meski demikian, Pram mengaku mempelajari konsistensi bersikap dan pandangan liberal dari ayahnya.

Perihal ideologi, Pram mengatakan, “Ideologi ditanamkan di dalam diri saya oleh keluarga saya, yaitu sikap cinta akan keadilan, kebaikan, dan alam, serta nasionalisme. Ideologi itu sudah ditanamkan dalam diri saya sejak muda dan masih terus hidup sampai kini. Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan mengakuinya,” tutur Pram kepada Kees Snouck pada Jumat 26 Juli 2001.

Pramoedya telah mengalami banyak hal, termasuk juga konflik dengan para seniman dan budayawan lain yang berseberangan dengannya. Ia telah mengalami penindasan, perampasan, dan penghinaan yang tidak patut dialami seorang warga yang merdeka. Namun sepanjang hidupnya, Pram terus terpanggil untuk menulis.

R24/dev
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Sabtu, 18 November 2017 09:48 wib
SABUNG AYAM DAN PACUAN KUDA ======> AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10% untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5% ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini Terima kasih dan salam succecs Form Bolavita !! [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/JEXULa0.jpg
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru