riau24 Jeritan Gadis Remaja Korban Pencabulan | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

Peristiwa

Jeritan Gadis Remaja Korban Pencabulan

0
Berita Riau -  Jeritan Gadis Remaja Korban Pencabulan
Jakarta, Riau24.com - Seperti fenomena gunung es, kasus kejahatan seksual terus bermunculan setiap harinya. Setelah kasus kejahatan seksual bocah F yang jasadnya ditemukan di dalam kardus di Jakarta Barat, dan sederet kasus-kasus lain yang mengikutinya, publik Tanah Air dikejutkan lagi dengan kasus Yuyun.  Tapi tak sampai disitu saja, baru-baru ini kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur kembali terjadi.

Malam itu, warga di Jalan Pancoran Barat, Pancoran, Jakarta Selatan dikejutkan dengan jeritan perempuan.
Jeritan yang terdengar sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, pada Kamis 12 Mei 2016 berasal dari sebuah makam tanah wakaf €ŽCiborong, Pancoran.

Warga yang curiga segera menyelidiki asal suara tersebut. Warga terkejut melihat seorang gadis berinisial Y dalam kondisi mabuk bersama 4 remaja pria. Yang lebih mengejutkan, gadis itu masih 12 tahun dan ditemukan dalam kondisi setengah telanjang.

Warga yang geram dengan perilaku para remaja yang berbuat cabul tersebut segera melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi terdekat. Karena kuat dugaan, gadis itu telah dicabuli oleh 4 orang pemuda yang ikut mabuk bersama Y.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Pancoran Kompol Aswin membenarkan kejadian tersebut kalau pihaknya mendapatkan laporan warga terkait dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Tak kalah sadis dari kisah Yuyun. Yuyun diperkosa dan dibunuh oleh 14 remaja ( 7 diantaranya masih dibawah umur ) di Bengkulu.  Meskipun saat itu Yuyun sudah dalam keadan tidak bernyawa, namun beberapa pelaku masih melakukan aksi bejat nya mencabuli korban. Usai melampiaskan nafsu bejat mereka, jasad Yuyun dibuang ke jurang.

Lagi-lagi publik dikejutkan dengan kasus pencabulan dan pembunuhan bocah LN 2,5 tahun di Bogor, Jawa Barat.

Budiansyah (26 tahun), sang pelaku mengaku mencabuli korban yang masih balita karena hasrat seksualnya tinggi saat itu. Namun karena takut aksi bejatnya diketahui warga dan keluarga korban, pelaku membunuh dan menyembunyikan jasad balita tak berdosa itu di dalam lemari dan kemudian membuangnya di belakang rumah orangtuanya.

Kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi di Ibukota, di Manado dan Surabaya juga terjadi kasus serupa, dan lagi-lagi yang menjadi korban adalah anak dibawah umur.

"Korban ini berdasarkan informasi yang kami terima justru dicabuli sejak berusia 4 tahun, namun kami akan kembangkan lagi di mana yang dilakukan oleh para tersangka, AS yang pertama mengawali," tutur Kapolrestabes Surabaya Kombespol Iman Sumantri.

Disebutkan, pelaku kasus kejahatan seksual di Surabaya ini merupakan teman-teman korban yang masih duduk di bangku Sekolah dasar. Iman mengungkapkan, korban (13 tahun) dicabuli lebih dari 8 orang. Tersangka merupakan tetangga korban sendiri.

Kejahatan seksual yang terus terjadi membuat geram sekaligus menguras haru. Tak terkecuali Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa.

Menteri Khofifah Indar Parawangsa yang simpati datang mengunjungi rumah nenek korban LN di Kampung Pabuaran Tonggoh, Desa Giri Mulya, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Kamis 12 Mei malam.

Saat di dalam rumah, Mensos mendengarkan cerita dari ayah korban, Ahmad Samiran, perihal kejadian yang menimpa anak semata wayangnya itu.

Mata Kofifah terlihat berkaca-kaca saat menonton video pesta ulang tahun LN yang kedua lewat telepon genggam. Bahkan ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena merasa terharu dan sedih.

Saking haru nya, Khofifah berziarah ke makam korban. Saat membacakan doa yang dipimpin kyai setempat, Khofifah terlihat menitikkan air mata di depan makam LN, yang lokasinya sekitar 50 meter dari rumah neneknya.

"Sebelumnya saya dikagetkan dengan kejadian di Bengkulu, Manado, Tasik, Cirebon, dan Tasik. Lalu mendengar kejadian serupa di Bogor. Saya sangat kaget atas kejadian ini," kata Khofifah.


Atas kejadian ini, Mensos bergerak cepat memberikan pendampingan untuk memulihkan trauma keluarga.

"Kami sudah menyiapkan tim untuk memulihkan kondisi psikologis dan kejiwaan nenek serta ibu korban yang mengalami trauma," kata Khofifah.

Kecemasan Mega

Maraknya aksi kejahatan seksual dengan korban sebagian besar anak di bawah umur, membuat Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri prihatin sekaligus cemas.

Putri Proklamator Soekarno ini langsung mengumpulkan lima cucunya dan berpesan untuk tak bepergian sendirian. Mega juga meminta sang cucu mengajak teman saat bepergian serta lebih waspada terhadap sekitar.

"Kalau mau pergi enggak boleh sendirian, harus ada yang nemenin. Ke kamar mandi juga enggak boleh sendiri. Kalau minum botol, jangan diterima kalau sudah dibuka. Ini remeh temeh tapi perlindungan diri," ujar Megawati di acara Komnas Perempuan 'Indonesia Melawan Kekerasan Seksual' di Megaria, Jakarta Pusat.

Megawati juga mengungkapkan simpatinya terhadap anak-anak korban kekerasan seksual dan keluarganya. "Saya bisa rasakan seperti apa jika buah hatinya diperlakukan tidak benar," kata Mega.

Ketua Umum PDIP ini juga meminta Menkumham agar semua masalah yang berkaitan dengan anak-anak dan perempuan proses hukumnya dipisahkan.

Guna mencegah semakin banyaknya kasus kejahatan seksual, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyetujui 4 poin rekomendasi yang disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terkait Amandemen Undang-Undang Perubahan Kedua Atas Undang-Udang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Puan menyampaikan, dalam rapat terbatas (ratas) di Kantor Presiden, Presiden Jokowi secara substansial menyetujui usulan pemberatan hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap anak. Bahkan, dalam rapat itu selain hukuman kebiri bagi pelaku juga muncul usulan agar pelaku dipasang gelang microchips.

"Untuk paedofil, kita akan menambahkan hukuman tambahan dengan kebiri atau menggunakan gelang microchip. Itu yang dilakukan pemerintah, sebagai bentuk komitmen dan keseriusan dalam mencegah dan menindak serta efek jera bagi pelaku kejahatan asusila," jelas Puan.

"Payung hukum berkaitan dengan kekerasan seksual anak itu payung hukumnya Perppu. Kemudian pemberatan hukuman nantinya hukuman pokok akan bertambah menjadi 20 tahun, dan turunan akan bertambah juga," lanjut Puan Maharani.

Semoga dengan  adanya hukuman berlapis untuk pelaku kekerasan seksual, terutama bagi anak dibawah umur dapat mengurangi terjadinya kasus pelecehan sehingga tidak ada lagi Yuyun-Yuyun berikutnya di Indonesia.


R24/dev
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru