riau24 Derita Seorang Gadis Cilik, Hidup Yatim Piatu dan Mengurus Adiknya Yang Difabel | Berita Riau
Senin, 11 Desember 2017

Peristiwa

Derita Seorang Gadis Cilik, Hidup Yatim Piatu dan Mengurus Adiknya Yang Difabel

0
Berita Riau -  Derita Seorang Gadis Cilik, Hidup Yatim Piatu dan Mengurus Adiknya Yang Difabel
Simalungun, Riau24.com - Disaat orang masih terlelap dalam mimpi indahnya, seorang gadis cilik terlihat berjalan menelusuri gelapnya subuh. Gadis cilik tersebut bernama Florentina Simarmata (15), seorang anak yatim piatu dari Nagori (desa) Siatasan Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun.

Setiap pagi ia harus berangkat pukul 04.30 WIB dari rumahnya menuju sekolah di SMPN 2 Tiga Dolok.

Saat ia berangkat pun, langkahnya hanya ditemani obor bambu, karena daerah perkampungan rumahnya belum diterangi penerangan lampu jalan.

“Pagi berangkat tengah 5 ke sekolah, Pak. Sendiri saja jalan kaki pakai obor bambu,” ujar Tina, sambil menahan dinginnya udara pagi itu.

Berjalan kaki ke sekolah sudah ia lakoni sejak 3 tahun lalu, hingga kini ia duduk di bangku kelas 3 SMP yang baru usai menjalani UN.

“Mulai dari kelas 1 (SMP) sampai sekarang. Sudah tiga tahunlah, Pak,” lanjutnya lagi. Tina juga mengaku punya perasaan takut mendengar berita soal Yuyun di Bengkulu, yang diperkosa oleh 14 orang pria saat pulang sekolah. Apalagi kondisi jalanan di tempat Yuyun dan di tempat Tina pun tidak jauh berbeda. Sama-sama sunyi dan jauh dari perkampungan penduduk.

Saat di sekolah, Florentina selalu menghabiskan waktunya di dalam kelas saat lonceng istirahat berbunyi. Itu karena koin rupiah yang tak pernah ada di sakunya. Rasa lapar selalu menghampirinya setiap hari, karena ia berangkat pukul 04.30, ia baru bisa makan pukul 16.00 setiba di rumah.

Bila saat ia hendak pulang sekolah, hujan deras tiba-tiba mengguyur, Florentina hanya bisa berteduh di teras rumah pinggir jalan karena gerbang sekolah harus ditutup. Ia hanya bisa memandangi teman-temannya yang naik angkutan umum atau dijemput ayah mereka, sesekali tatapannya mengarah ke langit, berharap hujan segera reda.

Saat itu terjadi, hatinya selalu memikirkan adiknya yang pasti kelaparan, karena adiknya hanya tinggal sendirian di rumah sebab neneknya ke ladang. Karena itu, terkadang Florentina harus menerobos guyuran hujan, melewati jalanan dengan sepatu usangnya.

Ayah dan ibunya telah lama meninggal dunia. Florentina dan adiknya Horas Simarmata (13) tinggal bersama neneknya yang kini telah berusia 60 tahun.

Yang lebih menyedihkan, Horas Simarmata menyandang disabilitas (berkebutuhan khusus), yang membuat ia tidak bisa bicara dan berjalan.

Bila jam pulang sekolah usai, Florentina kembali harus berjalan berjalan puluhan kilometer baru bisa tiba di rumah pukul 4 sore. Meski sudah lelah setelah menempuh 10 Km perjalanan, Florentina tetap tidak bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk istirahat.

Sehabis makan, ia harus langsung membantu neneknya ke ladang. Sedangkan adiknya hanya tinggal sendiri di rumah sambil menonton televisi. TV berukuran 16 inchi hasil peninggalan ayahnya itulah yang menjadi satu-satunya hiburan buat keluarga kecil itu.

 “Kalau adik sendiri saja di rumah, soalnya adik nggak bisa jalan dan bicara,” ucap Florentina lagi dengan lirih.

Sepulang dari ladang, Florentina masih harus menjalani kesibukannya yang lain. Memasak, mencuci piring, membersihkan rumah dan yang lain, termasuk memandikan adiknya. Semua itu ia lakukan karena ia tidak ingin menambah pekerjaan untuk neneknya.

“Sampai rumah masih masak sama ngerjain yang lain. Biar nenek nggak capek lagi,” lanjutnya lagi.

Meski kehidupan mereka pas-pasan, hal itu tak menyurutkan niat Florentina untuk menggantungkan cita-citanya sebagai seorang dokter.

“Mau jadi dokter, biar bisa merawat nenek sama adik,” sebutnya dengan wajah tertunduk.

Kehidupan gadis belia ini memang miris sejak 2013 lalu. Awal tahun 2000-an, ibunya meninggal di Pangkal Pinang, tak lama setelah adiknya lahir. Sepeninggal ibunya, ayahnya menikah lagi.

“Nggak lama adik lahir, mamak ninggal,” sebut Florentina dengan menitikkan air mata. Dia mengaku tidak mengetahui persis seperti apa kematian ibunya, bahkan ia tidak dapat menggambarkan lekuk wajah ibunya saat tersenyum.

Cerita soal ibunya hanya ia dengar dari kisah sang nenek.

“Soalnya aku masih kecil, jadi nggak ingat bagaimana kematian mamak. Aku taunya karena diceritakan nenek,” lanjutnya lagi.

“Sejak mamak ninggal, ayah nikah lagi. Tapi tahun 2013 lalu ayah ninggal. Mamak ( ibu tiri) kabur ninggalin aku sama adek. Makanya kami jadi tinggal sama nenek,” ucap gadis berambut lurus ini dengan matanya yang kian sembab.

Camat Dolok Panribuan Walter E Malau yang mengunjungi Floren dan keluarganya serta memberikan bantuan, dan pihaknya sedang mengurus administrasi terhadap Florentina.

“Kita memang sedang mengurus administrasinya mulai dari jenjang pemerintahan nagori dan kecamatan, bahkan akan mengusulkan kepada pemerintah kabupaten. Agar melalui Dinas Sosial, dapat mendukungnya pembiayaan pendidikannya sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” ujar Walter.

Ia mengakui bahwa beban yang ditanggung Florentina ini tak ringan. “Ia mempunyai beban dan tanggung jawab mengurus adiknya Horas Simarmata yang kondisinya lumpuh sejak lahir. Jadi bebannya sangat berat, mengurus adiknya sebelum dan setelah sekolah seperti yang telah dilakukan selama ini,” kata Walter.

Diharapkan, lanjut Walter, Horas Simarmata adik Floren dapat diasuh di panti asuhan, sehingga Floren dapat melanjutkan pendidikannya.

Pj Pangulu Patar H Siallagan didampingi Sekretaris Maujana N Manik, mengaku siap mendukung apa yang dibutuhkan Florentina, agar warga mereka itu dapat terbantu dan melanjutkan pendidikan.

Sebelumnya, anggota DPRD Simalungun Tuppak Silitonga dan Dundung Damanik yang meninjau pelaksanaan UN di SMPN 2 Dolok Panribuan, sudah mengetahui kondisi Floren. Itu setelah pihak sekolah menyampaikan tentang kisah Floren yang terbilang pintar di kelas. Sebab selama ini ia selalu mendapat rangking 10 besar.

Mendengar hal itu, Tumpak Silitonga langsung menawarkan kepada Florentina agar bersedia menjadi anak angkatnya. Tumpak berjanji akan menyekolahkannya di salah satu SMA yang ada di Kota Siantar, bahkan hingga mahasiswa. Namun saat itu Florentina menolak tawaran tersebut. Sambil menangis, Floren mengaku tidak mau karena tidak bisa meninggalkan adiknya.


R24/dev
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru